
"Kamu mau pulang sekarang, mana suamimu? Bukankah biasanya dia yang menjemput?" tanya Juna sambil celingak-celinguk mengedarkan pandangannya mencari-cari sosok Bima.
"Hhhhh ... Mas Bima ada rapat mendadak jadi nggak bisa jemput. Padahal sejak kemarin kami sudah janjian untuk pergi bersama ke butik bayi sore ini," sahutnya sambil tertunduk lesu.
"Kalau gitu ayo kuantar." Juna segera menawarkan jasanya begitu tahu Bima tidak akan datang.
Juna berniat takkan menyia-nyiakan kesempatan langka untuk bisa berdekatan dengan Viona. Ia benar-benar nekat, seolah nalarnya sudah tak mempedulikan lagi tentang status Viona yang merupakan istri orang.
"Nggak usah Jun, aku naik taksi online aja. Lagian aku pengen mampir dulu ke butik bayi milik temanku, setidaknya walaupun tak berbelanja tapi aku ingin melihat-lihat dulu. Aku baru akan membelinya besok bersama suamiku, karena aku ingin Mas Bima juga ikut memberi pendapat mengenai segala perlengkapan yang akan dibeli untuk bayi kami," jelas Viona sambil tersenyum manis.
"Ehm, kalau gak salah butik bayi milik temanmu itu searah dengan jalan pulangku. Bagaimana kalau kamu menumpang padaku saja? Sekalian lewat, Vi." Juna begitu gigih, tak mudah menyerah.
"Bener juga ya. Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mengambil tas ku dulu." Viona akhirnya setuju membuat Juna berjingkrak kegirangan dalam hati.
Kewarasannya pasti agak berkurang. Meskipun Viona tengah mengandung anak dari lelaki yang menjadi suaminya, tetapi rasa di hatinya untuk Viona bukannya surut malah semakin mengakar dan membelenggu dirinya dengan erat.
Juna mengendarai mobilnya dengan suasana hati gembira. Tak dipungkiri ia ingin sekali mengelus perut buncit itu sambil membayangkan bahwa bayi yang dikandung Viona adalah anaknya. Juna juga laki-laki normal, melihat Viona yang sedang hamil tampak semakin cantik dan seksi membuat sesuatu di dalam dirinya tak sengaja terbangun.
Ia acap kali mengumpati dirinya sendiri karena terkadang sesuatu di dalam dirinya bangkit tak tahu tempat dan waktu. Beruntung akal sehatnya selalu selangkah di depan lebih maju daripada nalurinya, sehingga kehadiran Viona yang duduk di kursi sebelahnya tak membuatnya gelap mata.
Juna sedikit terkesiap, sejak tadi pikirannya melanglang buana sambil berandai-andai bahwa wanita yang di sampingnya adalah miliknya. Juna menepikan mobilnya di tempat yang yang ditunjukkan Viona, kemudian ia ikut turun dan membukakan pintu.
"Makasih, Jun. Udah nganterin." Viona turun agak kepayahan efek perutnya yang semakin membesar, secara spontan Juna merangkul Viona untuk membantunya turun dari mobil.
"Sekali lagi makasih ya. Ya udah pulang sana! Hati-hati di jalan." Viona mengibaskan kedua tangannya mengusir Juna pergi dibumbui candaan.
"Tapi aku masih belum ingin pulang. Bagaimana kalau kutemani masuk ke dalam? Ya ... itung-itung aku belajar bagaimana menjadi orang tua dan tentang apa saja yang harus dipersiapkan ketika menyongsong kelahiran seorang bayi," pintanya. Juna menggunakan alasan itu untuk menutupi alasan sebenarnya yang ingin terus berdekatan dengan Viona.
"Memangnya kamu udah mau punya bayi? Lawan di ranjang aja nggak punya sok sok an mau belajar tentang persiapan semacam ini. Nikah dulu sana! Atau jangan-jangan sebetulnya kamu itu badung dan menghamili anak orang?" cela Viona dengan mata memicing.
"Enak aja! Aku ini masih perjaka!" Juna bersungut-sungut dan hal itu membuat Viona tergelak dengan renyahnya.
"Ahahaha ... nggak usah diumumin juga kali kalau kamu itu masih perjaka. Tapi, orang-orang pasti mengira ucapanmu bualan semata karena kamu di sini sedang bersama wanita yang tengah hamil besar." Viona cekikikan sambil mengelus perut buncitnya.
"Ya sudah, anggap saja kalau aku ini badung. Sebaiknya kita segera masuk ke dalam. Aku sudah tak sabar ingin belajar menjadi ayah yang baik sebelum membuat bayinya," ujarnya asal dengan senyuman menjengkelkan sambil melengos masuk ke dalam.