Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Do'akan Anakmu



Ruang keluarga rumah besar itu menjadi saksi bisu, saksi kala putra semata wayang mereka mederaikan maaf tulus dari lubuk hati teruntai dari dasar jiwa.


“Terima kasih, Ma, Pa. Atas pengampunan kalian untuk anakmu yang berlumur dosa ini.” Bima masih dalam sedu sedannya begitu pun Annisa dan Malik.


“Maaf dari kalian sangat berarti bagiku, apalah artinya hidupku tanpa ridha Mama dan Papa untukku, jika orang tua tak ridha terhadap anaknya, maka Allah pun takkan meridhai-nya.”


“Maaf dan ridha kami selalu menyertaimu, Nak. Setiap saat setiap waktu do’a terbaik kucurahkan hanya untukmu, Bima.” Annisa menangkup kedua sisi wajah Bima dan menghapus jejak basah di rupa tampannya.


“Sekarang, aku juga ingin memohon do’a pada Mama dan Papa. Karena do’a orang tua untuk anaknya adalah salah satu yang tak tertolak. Ma, Pa, do’akan Bima agar bisa kembali merengkuh keluarga kecil yang telah kuporak-porandakan. Do’akan agar jalannya diberi kemudahan serta kelancaran.”


"Tentu saja, Nak. Mama dan Papa tak pernah lupa memohonkan hal itu pada Yang Mahakuasa. Papa pun ingin kalian bisa berkumpul lagi dalam ikatan yang utuh.” Malik menepuk-nepuk pundak Bima.


“Viona sudah setuju untuk rujuk, dan bersyukur Mama Rima masih menerimaku dengan tangan terbuka. Hanya saja niatan baik kami jalannya terhalang beberapa rintangan terutama restu Pak Abdul yang pasti tak mudah kuraih, mengingat betapa kecewanya beliau atas perbuatanku dulu. Seperti yang pernah Papa katakan padaku, bahwa kini aku harus berjuang sendiri untuk mendapatkan Viona dan Nara kembali agar paham betapa berharganya hal yang pernah kucampakkan. Sebelumnya aku bersama Viona tanpa perjuangan, sehingga diri ini sombong dan tak menghargai anugerah yang telah Allah berikan. Ma, Pa, aku butuh do’a dan restu dari kalian agar niatan ini diberi jalan kemudahan dalam mewujudkannya.” Bima masih bersimpuh di lantai, matanya bergulir menatap orang tuanya bergantian.


“Mama dan Papa pasti mendo’akan, semoga Allah singkirkan segala rintangan yang menghadang, juga semoga hati Pak Abdul dilembutkan. Berjuanglah Bima, selalu ingat bahwa usaha dan do’a harus selalu berjalan beriringan, agar terwujud keberkahan di dalamnya.” Annisa menatap putranya haru penuh syukur.


*****


Pagi ini Arjuna berjalan mondar mandir sembari uring-uringan di apartemennya, setelah semalam orang suruhannya mengirimkan gambar-gambar terbaru interaksi Viona dengan Bima di halaman rumah calon tunangannya itu.


Kala Viona menjadi janda, harapan Juna untuk memiliki pujaan hatinya bertumbuh bebas. Asalnya hanya berupa benih yang tertanam di ladang hati, perlahan tumbuh menjadi tunas, lama kelamaan meninggi berdauan lebat meski rasa itu hanya ia pupuk sendiri tanpa balasan, sehingga pohon di hatinya itu hanya bertumbuh tinggi tak kunjung berbunga maupun berbuah.


Tak pernah ada yang memaksanya untuk berada di sisi Viona selama ini, Juna sendirilah yang memilih untuk melakukannya. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa dihatinya perlahan menuntut balasan, memaksa dan menutup mata meski Viona tak pernah memberinya harapan, hingga akhirnya Viona menyerah dan memutuskan mencoba menjalin hubungan setelah berkali-kali ia sedikit mendesak.


Juna juga tahu, bahwa Viona akhirnya mau mencoba menjalin hubungan dengannya hanya karena merasa hutang budi, bukan karena cinta. Akan tetapi Juna tak peduli, dan percaya diri bahwa dengan kebersamaan nantinya ia bisa menumbuhkan cinta untuknya di hati Viona.


Juna kembali melihat foto-foto di ponselnya dengan geram, kali ini ada hal yang membuatnya semakin resah saat gambar Rima ikut tertangkap jepretan kamera, di mana wanita paruh baya itu tak menunjukkan reaksi penolakan kala bertemu Bima. Ia mulai merasa posisinya semakin terancam, Jika Rima bahkan tak benci pada Bima itu adalah sebuah bahaya besar.


Ia menghentikan kegiatannya yang seperti setrikaan, kemudian menghubungi Abdul dan meminta tanggal pertunangan dipercepat dengan alasan bahwa pada tanggal yang di tetapkan sebelumnya ia harus berangkat ke luar pulau cukup lama untuk urusan bisnis yang mendesak, dan Juna bisa bernapas lega karena Abdul setuju untuk memajukan tanggal pertunangan menjadi minggu depan.


Kegundahan yang tadi sempat menerjangnya kini berangsur sirna. Juna membanting tubuhnya di sofa seraya tersenyum lebar, menikmati angan-angannya yang tengah melambung tinggi sebelum bunyi bel pintu membuyarkan dirinya yang tengah berandai-andai.


Juna tampak berpikir, siapa yang datang sebenarnya? Seingatnya hanya Pandu yang mengetahui dia berdiam diri di apartemen. Dengan penuh antisipasi ia mendekati pintu dan melihat dari monitor, siapakah gerangan yang datang?


Dahinya berkerut dengan mata memaku pada layar monitor di dekat pintu melihat seseorang yang muncul di pintu apartemennya.


“Mami?”