Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Diculik



Adrian segera menghubungi pihak bank dan meminta disiapkan uang tunai dalam jumlah yang cukup besar secepat mungkin karena Yoga ingin uang tebusannya berupa tunai.


Bima seperti orang linglung. Otaknya terasa buntu, pikirannya kalut, tak mampu berpikir jernih. Di dalam mobil menuju bank ia terus saja gelisah. Juga tak hentinya membentak Adrian agar memacu mobil lebih cepat.


Sesekali Bima memejam, mengusap dadanya yang terasa ngilu lantaran si belahan jiwa tengah berada dalam bahaya. Ia menarik napas kasar dengan tangan mengepal mencoba mengendalikan emosi dan rasa cemasnya yang kian memuncak.


“Pak, saya mohon. Anda harus tetap tenang agar bisa mengatur strategi. Yoga tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ini tindakan kriminal. Tolong pikirkan keselamatan Anda juga.” Adrian mencoba memberi masukan pada Bima yang dilanda serangan panik.


“Bagaimana aku bisa berpikir tentang keselamatanku sendiri jika istriku sedang dalam keadaan terancam! Istriku diculik, Adrian. Dan dia sedang hamil!” bentaknya putus asa dengan bibir gemetar menahan kengerian yang berlalu lalang di benaknya.


“Saya tahu, Pak. Bu Viona sedang hamil. Saya sangat paham akan kecemasan Anda. untuk itu kita harus benar-benar matang perhitungan. Jika terjadi sesuatu pada Anda, bagaimana Anda bisa menyelamatkan Bu Viona?” Adrian sedikit menekankan setiap kata-katanya. Baru kali ini dia berani membantah, Adrian melakukannya karena ikut didera rasa cemas menyaksikan Bima seperti kehilangan akal sehatnya, bagaimana jika semuanya berakhir celaka karena Bima tak mampu berpikir jernih di situasi darurat ini.


“Tolong Pak, pikirkan lagi. Kita atur rencana. Anda bisa pergi sendiri lebih dulu ke alamat yang dituju sesuai permintaan Yoga agar tidak menimbulkan kecurigaan. Saya yang akan melapor pada polisi. Tapi tetap nyalakan gps di ponsel Anda agar kami tahu letak posisi ke mana Anda pergi, jangan lupa nyalakan mode silent. Bagimana kalau di sana dia punya komplotan yang bersiap menyerang Anda? saya akan datang dengan polisi tanpa menimbulkan kegaduhan agar kita bisa menangkap dan menyergapnya. Lagi pula, Bu Viona adalah seseorang yang cerdas dan bukanlah wanita lemah, saya yakin beliau pasti takkan tinggal diam. Anda harus tenang Pak, dinginkan kepala agar semuanya selamat dan hal buruk bisa dihindari.”


“Dia sedang hamil, Adrian. Viona sedang hamil. Apa yang bisa dilakukan wanita hamil untuk melawan dalam situasi terdesak. Aku nyaris gila, takut terjadi hal buruk pada mereka berdua. Yoga mengancam akan mencelakai Viona jika kita memanggil polisi,” ucapnya serak dengan nada luar biasa putus asa. Bima mengusap wajahnya frustrasi nyaris menangis.


“Iya, Pak. Maka dari itu kita harus berpikir jernih demi keselamatan bersama. Saya yakin dia hanya menggertak. Anda cobalah mengulur waktu di sana sampai saya datang bersama polisi, alihkan perhatian Yoga pada uang tunai yang dibawa. Kita minta agar Bank mengepaknya dalam koper yang lebih kecil untuk menyibukkan dan membuat Yoga kerepotan saat mengangkutnya agar perhatiannya teralih. Saya akan berkoordinasi dengan polisi dan datang dengan tenang agar Yoga tidak curiga. Sekarang ini pendukungnya tinggal peremn-preman kelas rendah karena dia terkendala masalah keuangan dan takkan mampu menyewa preman professional berdasi kelas tinggi. Jadi kita pasti lebih mudah membekuknya. Dia harus diamankan dan diserahkan pada pihak berwajib, ini tindak kejahatan,” usul Adrian meyakinkan.


“Apakah ini aman? Aku tak mau dengan memanggil polisi membuat Viona celaka."


“Kita harus yakin. Dan jangan lupa berdo’a. Saya janji akan membawa polisi tanpa menimbulkan kegaduhan.”


Mereka berpisah di bank diam-diam. Berjaga-jaga barangkali saja ada anak buah Yoga yang membuntuti tindak tanduk Bima, Adrian menyelinap keluar dari bank menggunakan pintu darurat khusus staf sesuai permintaan Bima pada pihak Bank. Bima menjelaskan situasinya dan mereka menyetujui permintaannya. Adrian langsung menluncur ke kantor polisi menggunakan taxi dan meminta sopir untuk bersegera.


*****


Nia yang baru kembali dikejutkan dengan pintu kamar tamu yang sedikit terbuka. Terdengar suara Yoga dari dalam sana.


“Hei, sadarlah, cantik.”


Viona yang baru saja meraih kesadarannya terganggu akan suara yang baru saja tertangkap telinganya. Mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk di matanya yang terasa menusuk menyilaukan. Kepalanya juga terasa berat, sepertinya orang-orang yang menculiknya menggunakan obat bius di kain yang dipakai untuk membekapnya tadi.


“Hei bangunlah, kau semakin cantik jika dalam keadaan sadar.” Yoga terkekeh pelan. Ia menatap lurus pada Viona sambil bersandar di kusen jendela dengan kedua tangan terlipat di dada.


“Kamu? Apa yang kamu lakukan padaku, brengsek!” jerit Viona penuh kemarahan.


“Wow … wow. Tahan dirimu cantik. Kamu dalam mode galak semakin menggoda saja.”


Yoga mendekat, mengulurkan jemarinya di pipi mulus Viona dan membelainya yang dibalas tatapan membunuh dari wanita cantik itu. Dalam posisi berbaring miring dengan tangan terikat, Viona agak kesusahan menghindari sikap tak tahu malu Yoga. Saat jemari Yoga membelai bibirnya, secepat kilat Viona menggigit telunjuk Yoga kencang hingga si empunya meraung kesakitan.


“Heh lepaskan!” teriak Yoga murka. Viona tidak menyerah, terus menggigit sampai sebuah tamparan mendarat di pipinya, terasa perih dan bedenyut karena ujung bibirnya ikut robek akibat kencangnya Yoga menampar.


“Sialan! Kamu masih berani melawan dalam keadaan terdesak begini hah!” suara teriakan Yoga menggema di udara memekakkan telinga.


“Kamu cuma beraninya pada wanita yang terikat. Dasar banci!” ejek Viona. Dirinya tengah takut setengah mati, tetapi ia tak boleh terlihat lemah agar Yoga tak mudah menindasnya, demi keselamatan dirinya juga bayinya. Melihat dari gelagat Yoga yang sepertinya hendak melecehkannya.


“Tutup mulutmu jalang! Jika bukan karena aku butuh uang banyak dari suamimu, maka aku takkan segan menghancurkan harga dirimu sekarang juga. Sayangnya, aku butuh uang yang akan kutukar denganmu. Tapi jika dia terlambat dan menunda-nunda, tentu saja aku akan mencicipimu sedikit demi sedikit.” Yoga menyeringai jahat, membuat bulu kuduk Viona bergidik ngeri.


“Kamu sedang memohon uang pada suamiku dengan menculikku? Pasti usaha yang kau bangun dengan ketidak jujuran itu bangkrut iya kan?” Viona tersenyum miring meski seluruh tubuhnya terasa lemas. Beruntung sepertinya Yoga belum menyadari kehamilan Viona karena saat ini ia menggunakan blus panjang longgar. Viona sangat takut, Yoga mencelakai bayinya.


“Jangan banyak bicara!” Yoga hendak menjambak rambut Viona, akan tetapi Nia masuk dan menginterupsi mengatakan ada telepon penting dari tempat judi. Yoga mengurungkan niatnya dan menyuruh Nia untuk mengawasi Viona.


Pintu ditutup rapat. Nia segera membantu Viona duduk. Awalnya Viona menolak dan menatap penuh permusuhan juga pada Nia. Gadis rapuh itu maklum, jika Viona mencapnya sebagai salah satu antek Yoga.


“Duduklah dengan nyaman, Nyonya. Agar tidak mengganggu kandungan. Anda sedang hamil bukan?” ucap Nia sambil mengarahakan pandangan ke perut Viona. Nia dapat melihat perut Viona sedikit membuncit di balik blus meski Yoga tak menyadarinya.


Viona tak menjawab, melemparkan tatapan curiga. “Si-siapa kamu. Jangan berpura-pura baik. Kamu juga pasti satu komplotan dengan bajingan itu!” tegas Viona.


“Saya memang sekertarisnya Pak Yoga. Tapi saya tidak pernah setuju akan tindakannya. Saya akan berusaha semampu saya agar Anda tetap aman di sini. Tolong percaya pada saya. Semoga bala bantuan segera datang.” Nia berucap lembut penuh ketulusan.


Viona menatap Nia intens dari kepala hingga kaki. Ia sedikit terkesiap, menyadari terdapat lebam-lebam mengintip di pundak Nia yang sedikit terbuka karena gadis rapuh itu membuka cardigan dan menyisakan dress tanpa lengan yang dipakai di dalamnya. Viona juga dapat melihat ketulusan dari raut wajah sendu yang tampak rapuh itu.


“Tolong, aku ingin duduk. Aku cemas dengan bayiku di dalam sana.” Viona berbisik lirih berusaha menahan diri untuk tidak menangis.