
Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.
Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.
Selamat membaca....
*****
Sementara itu di lobi perusahaan yang dikelola Bima, tengah terjadi keributan karena kedatangan polisi. Mereka membawa surat penangkapan resmi hendak menciduk pimpinan perusahaan dengan dakwaan sebagai pemakai obat-obatan terlarang.
Semua bukti-bukti tentang ulah menyimpang Bima sudah berada digenggaman polisi, ditambah riwayat rehabilitasi sebelumnya serta nyanyian empuk dari mulut Reva, sudah pasti akan membuat Bima sulit mengelak. Para polisi tersebut langsung menuju ruangan Bima dan menggeledahnya, bahkan Adrian sebagai sekertaris ikut terseret ke dalam kasus yang menjerat bosnya meskipun hanya berstatus sebagai saksi.
Si sekertaris berkacamata itu luar biasa terkejut saat polisi mendatangi perusahaan dan menanyainya perihal atasannya. Namun, bagaimanapun polisi mendesakya, Adrian memang sungguh tidak tahu menahu mengenai kenyataan bahwa Bima adalah seorang pecandu narkoba. Selama ini Bima tampak normal saja seperti orang kebanyakan sehingga Adrian sama sekali tak menaruh curiga.
“Sebaiknya Anda berterus terang kepada kami agar proses kasus ini lebih cepat, demi kebaikan Anda juga. Jadi, di manakah keberadaan Pak Bima sekarang?” tanya salah seorang polisi kepada Adrian.
“Me-mengenai keberadaan pastinya s-saya juga tidak tahu Pak. Dua hari yang lalu Pak Bima hanya mengatakan akan pergi berlibur be-beberapa wak-waktu.” Adrian tergagap sekaligus ketakutan, ini adalah kali pertama dia terjebak dalam situasi menegangkan semacam ini.
“Baik, sekarang Anda ikut kami ke kantor polisi sebagai saksi untuk dimintai keterangan secara resmi. Silakan,” ucap polisi itu sopan dan tegas.
“Tentu saja tidak, Anda hanya diharuskan datang sebagai saksi saja. Asalkan Anda bersedia bekerja sama dengan baik dan semua keterangan nanti tidak ada kebohongan di dalamnya,” peringatnya halus namun tegas.
“Saya pasti akan memberi keterangan yang sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya, pasti Pak,” jawabnya penuh tekad diiringi wajahnya yang kian pucat pasi disertai buliran keringat dingin yang membanjiri pelipisnya.
*****
Selepas dari perusahaan, para polisi melanjutkan pencarian ke rumah tinggal Bima. Beberapa dari mereka ditugaskan untuk mendatangi rumah orang tua Bima juga Viona.
Polisi menempatkan pengintaian ketat di sekitar rumah kediaman Bima karena mendapati bangunan itu tampak sepi tak berpenghuni saat bermaksud menggeledah, maka dari itu mereka melakukan antisipasi jika saja sewaktu-waktu Bima muncul di sekitar rumahnya untuk memudahkan meringkus tersangka walaupun sepertinya buronan kali ini sudah lebih dulu selangkah di depan.
Kedatangan polisi di rumah Orang tua Bima kembali mengejutkan keduanya, ternyata putranya lagi-lagi terlibat dengan barang haram. Ibunya menangis pilu mengetahui kenyataan ini, mereka mengira Bima sudah benar-benar berubah dan berhenti bercengkrama dengan obat laknat itu, akan tetapi kenyataan yang kini dihadapkan seolah menjatuhkan mereka ke dalam kubangan yang sama, kubangan rasa gagal mendidik anaknya untuk berada di jalan yang lurus.
Sedangkan di kediaman Viona keterkejutan terjadi tak kalah hebatnya. Terlebih lagi Rima dan Abdul yang tidak tahu menahu mengenai pribadi Bima secara mendalam seperti yang dijelaskan polisi kepada mereka. Polisi juga menuturkan bahwa Bima sekeluarga tidak tampak di kediaman mereka, diperkirakan Bima telah melarikan diri dengan membawa serta istri dan anaknya. Abdul sebagai Ayah Viona sangat terpukul dengan kenyataan pahit ini, karena merasa teramat bersalah telah menjodohkan putri kesayangannya dengan seorang pecandu narkoba.
“Di mana putriku sekarang? Vionaku yang malang... kembalikan anakku!” jerit Abdul yang kemudian ambruk tak sadarkan diri.