Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Sampai Kapan?



Pukul delapan malam Viona sudah dipindahkan ke kamar perawatan dan kini sedang tertidur, pasti ia kelelahan karena tenaganya terkuras habis setelah berjuang melalui proses persalinan. Beruntung kondisinya baik tidak sampai harus ditransfusi, sedangkan si buah hati di bawa ke ruang bayi, sebuah ruangan khusus untuk para bayi yang baru lahir ditempatkan.


Bima mengambil kursi dan duduk di sebelah ranjang Viona, sementara mamanya dan juga mertuanya memutuskan untuk tetap berada di dekat ruang bayi demi melihat cucu mereka walaupun hanya tampak dari kaca.


Ia mengangsurkan jemarinya merapikan rambut Viona yang menutupi dahi. Mendekatkan wajahnya dan mengecupnya lembut.


"Terima kasih, Vi. Telah melahirkan seorang putri yang begitu cantik untukku," gumamnya pelan.


Rasa kantuk mulai menyerang, seharian ini dia kelelahan. Bima naik ke tempat tidur besar itu perlahan lantaran ingin memejamkan mata sambil memeluk Viona. Ia merebahkan tubuh jangkungnya dan berhati-hati agar tidak mengenai selang infus, melingkarkan lengannya di tubuh Viona dan tak butuh waktu lama ia pun ikut tertidur pulas.


*****


Sudah satu minggu ini Rumah Bima dan Viona terasa semakin hangat, tangisan bayi di dalamnya membuat suasana rumah semakin hidup menularkan keceriaan kepada para penghuninya.


Bu Annisa ibunya Bima dan juga Bu Rima ibunya Viona, lebih sering berkunjung dari sebelumnya karena rindu ingin menimang cucunya yang cantik dan menggemaskan. Bahkan tak jarang mereka berdua saling berebut ingin menggendong dan merawat si kecil Nara.


Sore ini Bima segera menyelesaikan pekerjaannya di kantor karena sudah rindu ingin memeluk putri kecilnya, senyuman yang dulu jarang tersungging kini selalu mekar setiap harinya. Para bawahannya di kantor banyak yang terheran-heran, tetapi setelah mengetahui tentang kelahiran bayi sang bos akhirnya mereka mengerti penyebabnya.


Bima bergegas ke parkiran menuju mobilnya, lalu sebuah pesan singkat masuk ke telepon selulernya.


Bima, hari Sabtu ini aku tidak bisa memenuhi permintaanmu karena istriku merajuk ingin berlibur. Bagaimana kalau hari ini saja sebagai gantinya?


*****


"Sampai kapan kamu mau menyembunyikan semua ini dari istrimu Bim?" tanya si dokter. Mereka berdua kini sedang berada di dalam mobil menempuh perjalanan hendak ke rumah yang ditempati Sesil.


"Entahlah, semua ini seperti bom waktu bagiku yang sewaktu-waktu bisa meledak memporak-porandakanku," sahut Bima yang kemudian mengusap wajahnya frustrasi.


"Tapi lambat laun istrimu pasti akan mengetahuinya. Sepandai apapun kamu menyembunyikan bangkai, pasti akan tetap tercium juga," tukas si dokter.


"Untuk saat ini biarkan seperti ini dulu, aku tak ingin merusak masa-masa bahagiaku kini bersama Viona," imbuhnya ingin menyudahi percakapan yang membuatnya sakit kepala.


Saat hari beranjak senja, mereka tiba di rumah minimalis tersebut. Bima turun dari mobil dan melihat sekeliling penuh tanya karena lampu rumah Sesil tidak ada yang menyala.


Bima mengetuk pintu depan beberapa kali, tetapi tidak ada sahutan dari dalam. Lalu ia menggedor pintu dengan kencang dan memanggil-manggil nama Sesil setengah berteriak.


Apakah Sesil pergi? Padahal aku sudah memperingatkannya agar berdiam diri di dalam rumah.


Bima mengeluarkan kunci cadangan yang dimilikinya dan masuk ke dalam. Saat pintu terbuka lebar alangkah terkejutnya dia melihat Sesil yang tergeletak di lantai. Bima meraup Sesil dan merebahkannya di sofa, lalu sesaat kemudian ia mencium aroma khas di hidungnya yang menguar dari tubuh Sesil.


Alkohol?