
Keduanya larut dalam embusan merdu memburu juga jantung bertalu, saling melepas rindu yang lama tersimpan penuh debu.
Bima mengecupi ujung bibir Viona berulang kali sebelum menarik diri menyudahi pagutannya. Keduanya masih memejamkan mata dengan kening menempel satu sama lain, mengatur asupan napas yang tiba-tiba berantakan.
“Maaf….” ucap Bima dan Viona bersamaan.
Sama-sama membuka mata kemudian keduanya tertawa kecil.
“Maaf, seharusnya aku menahan diri.” Bima menggunakan ibu jari mengusap bibir Viona yang basah akibat ulahnya. “Tapi semua ini salahmu yang lebih dulu memancingku, bukankah begitu?” ujar Bima yang kemudian menggesekkan hidung mancungnya gemas ke hidung bangir Viona.
Wajah cantik Viona yang masih meninggalkan jejak sembap kini beriak semburat merah, juga dihiasi senyuman merekah yang terus saja ingin berkembang, bahkan pipinya mulai terasa pegal akibat si senyum enggan surut.
“Benarkah? Tapi aku tak ingat,” elak Viona sambil memasang wajah tanpa dosa.
Ia mengutuk dalam hati, pasalnya memang benar jika tadi dia lah yang lebih dulu mengecup Bima, beberapa saat yang lalu sepertinya kewarasannya sedikit berkurang, membuatnya kini ingin menyeburkan diri ke empang saking malunya.
“Pura-pura lupa rupanya, dasar nakal.” Bima menggelitiki pinggang Viona hingga si empunya terbahak berseru menyerah.
“Ampun Mas, geliii….”
Viona masih berada di atas pangkuan Bima. Lelaki berhidung mancung itu kembali merengkuh Viona dan mengecup leher jenjangnya gemas.
“Udah ah, geli.” Lagi-lagi Viona memekik kegelian masih dalam ledakan tawanya.
“Dari mana Mas tahu aku ada di sana?” tanyanya setelah tawanya mereda.
“Sepulang dari kantor aku ke butik. Sita memberitahuku bahwa kamu pergi sendiri menemui si keparat itu. Lain kali gali dulu informasi tentang seseorang yang hendak dijadikan mitra. Jangan hanya karena reputasi luarnya bagus lantas kamu abai akan kemungkinan buruk lainnya, jangan pernah pergi sendiri lagi.”
“Iya Mas, aku kapok pergi sendiri. Ini pelajaran berharga bagiku, supaya ke depannya tak ceroboh lagi. Tapi ngomong-ngomong, untuk apa Mas ke butik?” Viona sedikit memundurkan tubuh dan melayangkan sorot mata penuh tanya.
“Rencananya aku ingin mengajakmu makan malam untuk merayumu agar mau kembali padaku. Tapi, sepertinya sekarang aku tak perlu repot-repot melakukannya, bahkan tanpa kurayu pun kamu sudah lebih dulu menyerah ke dalam pelukanku,” ujar Bima tersenyum miring jahil menggoda VIona.
“Ish… Mas! Jangan membahasnya!” Wajah Viona merah padam efek dari rasa malu, membuat Bima kembali terbahak.
Ketika Bima menunduk, tak sengaja matanya jatuh ke arah dada Viona. Ia membeliak, di mana tiga kancing kemeja yang dipakai Viona terbuka bebas karena Yoga mengoyaknya tadi hingga kancingnya terlepas, sehinga bra berenda warna merah marun yang dipakainya mengintip keluar.
Lantaran malu, sontak Viona berjengit turun dari pangkuan Bima nyaris terjatuh. Dengan sigap Bima meraih pinggang Viona agar tak serta merta jatuh ke lantai hingga kini tubuh mereka kembali saling merapat.
“Hati-hati Vi.” Sorot mata Bima tampak serius dan khawatir. Degup jantung mereka bertalu kencang, begitu berisik di dalam sana.
Viona segera melepaskan diri dari rengkuhan Bima, duduk dengan kikuk membetulkan pakaiannya dan mengeratkan jas Bima yang tersampir di pundaknya. Keduanya sama-sama diserbu rasa canggung.
“Aku… aku harus pulang.” Viona berdiri kikuk.
“Biar kuantar. Tapi tunggulah satu jam lagi, kamu tak berniat pulang dalam keadaan kacau seperti itu kan? Bisa-bisa Nara dan Bik Yati terkaget-keget melihat wajah sembap dan pakaianmu.”
“Terus, aku harus gimana dong Mas?” tanyanya kebingungan, memang benar apa yang dikatakan Bima tadi, kondisinya sekarang tampak mengenaskan.
“Madilah dulu di sini, bersihkan dirimu. Biar nanti kuminta Adrian membelikan baju ganti.”
“Tak usah membeli Mas, minta saja Adrian ke butik dan mengambilkan satu set pakaian baru untukku, biar kuhubungi Sita sekarang supaya disiapkan.”
“Ya sudah, aku akan menyuruh Adrian ke butik. Pakailah kamar mandi di kamar tamu. Kelengkapan mandi semua ada di sana."
Sejenak Viona meragu, menggigit bibirnya tampak bingung tak menentu. Kekehan kembali terdengar berderai dari mulut Bima.
“Kamu takut aku menerjangmu hmm?”
“Gak kok!” sambar Viona lantaran merasa kalah telak, apa yang berkecamuk di benaknya memang tepat seperti tebakan Bima.
“Mandilah dengan tenang. Kecuali jika kamu kembali memancingku itu lain cerita.” Bima menaikkan sebelah alisnya ingin menjahili Viona.
“Mas!” Viona memekik dan terbirit-birit berlari memasuki kamar tamu.
*****
Bagi yang aplikasinya sudah di update, vote sekarang bukan hanya memakai poin dan koin melalui kolom hadiah saja, juga bisa vote dengan kupon mingguan untuk mendukung cerita kesayanganmu. Jangan lupa berikan dukungan juga melalui like, komentar dan kolom hadiah dan vote kupon kalian untuk Mas Bima dan Viona, thank you all💕😘.