Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Nyamuk Ganas



Mereka hanya tidur satu jam saja karena adzan subuh sudah berkumandang. Pasangan yang baru rujuk itu lupa waktu, terus menerus memadu kasih tak kenal lelah hingga tidak terasa waktu makin terkikis menuju pagi.


Bima dan Viona segera melaksanakan mandi wajib lalu shalat berjamaah berdua. Rasa bahagia, haru serta penuh syukur menyelinap hingga menembus relung jiwa Viona. Shalat berdua dengan sang suami sebagai imamnya adalah keinginan terpendamnya sejak dulu, terasa berkali-kali lipat lebih khusyuk dan terasa nikmatnya beribadah.


Setelah selesai ia mencium punggung tangan Bima, penuh bakti dan hormat kepada sang suami. Bima meletakkan tangannya mengusap sayang kepala Viona yang masih terhalang mukena, kemudian mengecup puncak kepalanya dengan mata memejam.


Rasa bahagia mengharu biru, sudut bibir mereka tertarik ke atas tersenyum berpadu. Untaian syukur bertasbih di dalam kalbu, mengalun indah berdenyut merdu.


Terdengar bel pintu kamar mereka berbunyi. Bima berdiri lalu menuju pintu untuk melihat siapa yang mengetuk di pagi buta begini. Rupanya bidadari kecilnya yang datang. Baru terbangun masih terkantuk-kantuk di pangkuan neneknya.


Semalam Nara tertidur pulas, baru terbangun beberapa menit yang lalu sehingga kegiatan orang tuanya menyirami ladang tak terganggu. Saat membuka mata yang pertama kali ditanyakannya adalah Bima, Nara merengek pada neneknya ingin bertemu sang ayah segera.


Bima menggendong putri tersayangnya masuk, menghampiri Viona yang masih terduduk di atas sajadah dan bergabung di sana.


“Kenapa Ayah sama Bunda bobonya gak sama Nara,” ujarnya merajuk sambil mengucek matanya.


Bima dan Viona bertukar pandang penuh arti. Kedunya kompak mengelus penuh sayang kepala Nara.


“Semalam, Nara udah keburu bobo sama nenek. Mau dibangunin kasihan nanti mimpi indahnya pergi.” Viona memberi alasan, meraup Nara dan mendudukkannya di pangkuan.


“Tapi nanti malam bobonya mau sama Ayah Bunda,” rengeknya dengan bibir cemberut.


“Iya, nanti malam bobonya Ayah temenin, oke.”


*****


Mereka sekeluarga sarapan bersama di restoran yang berada di lantai dasar Hotel Hilton. Raut sukacita begitu kentara di wajah masing-masing. Abdul lebih banyak diam dan hanya tersenyum simpul menyaksikan kebahagiaan putri juga cucunya, sesekali berbincang dengan Malik sambil menyesap kopi di cangkirnya.


Para ibu lah yang banyak bertukar kata, Rima dan Annisa begitu antusias membahas ini dan itu tentang anak-anaknya.


“Kapan rencana kalian berbulan madu dan mau ke mana?” tanya Rima di sela-sela meneguk teh hijaunya.


“Ah… i-itu kami belum merencanakan apapun,” sahut Viona, melirik sekilas ke arah Bima yang duduk di sampingnya.


“Mana bisa begitu. Kalian harus berbulan madu lagi, supaya Nara cepat punya adik.” Annisa menimpali, wajahnya luar biasa senang lantaran rumah tangga putranya yang sempat tercerai berai kini tersimpul kembali.


"Nara mau adik kan?" Rima bertanya pada sang cucu.


"Iya, mau. Nara mau punya adik biar ada yang nemenin main masak-masakan," jawabnya riang.


“Mmm... terserah Mas Bima saja. Tapi bagaimana dengan Nara? Selama ini aku tak pernah berjauhan dengan Nara barang semalam saja.”


Viona tampak berat hati. Memang benar, selama ini ia tidak pernah sekalipun berjauhan dengan Nara, membuat ibu dan anak itu saling ketergantungan satu sama lain.


“Biar kami yang menjaga Nara, kalian pergilah,” jawab Rima.


Bima tersenyum penuh arti sambil mengusap perut Viona yang disambut cubitan di lengannya dari istri cantiknya yang pagi ini mengenakan gaun terusan biru elektik di bawah lutut dengan kerah model Sabrina. Begitu kontras dengan kulit kuning langsatnya.


“Mas!” Viona melotot pada Bima dengan wajah cemberut bercampur malu.


Para orang tua hanya mengulum senyumnya. Bahkan Annisa dan Rima terkikik-kikik geli menyaksikan interaksi dua sejoli yang baru menjadi pengantin baru lagi untuk kali kedua.


“Jangan cemberut sayang, kalau galak begini jadi makin menggairahkan,” bisiknya ke telinga Viona dengan nada tak tahu malu.


Viona menyumpal salad ke mulutnya hingga penuh dan mengunyahnya geram. Si kecil Nara yang duduk di kursi antara Viona dan Annisa beringsut turun dan berpindah ke pangkuan bundanya meminta disuapi.


“Bunda, makannya pengen disuapin,” pintanya sambil menyerahkan sendok.


Viona menerima sendok dari tangan Nara sambil sibuk mengunyah salad di mulutnya. Namun tiba-tiba, Nara menyentuh leher Viona dekat telinga yang tertutupi rambut.


“Bunda, kenapa lehernya merah?” tanyanya polos membuat Viona hampir tersedak. Viona bersusah-payah menelan lalu menghabiskan segelas air tergesa-gesa untuk mendorong makanannya.


Rima dan Annisa juga terbatuk nyaris saja menyemburkan teh yang sedang diminumnya, lalu sama-sama mengulum senyum dan saling berpandangan. Abdul dan Malik berdehem memecah kecanggungan, melanjutkan berbincang dan berpura-pura tak mendengar.


“Ah… i-ini… ini cuma digigit nyamuk,” ujarnya kikuk.


Ya, memang benar Viona digigit nyamuk. Hanya saja nyamuknya besar dan menyebabkan bentol sembilan bulan. Bima melipat bibir menahan tawa melihat Viona yang salah tingkah dengan wajah mulai memerah. Ia merasa lucu karena Viona menyebutnya nyamuk.


“Sepertinya nyamuk yang ada di hotel memang berbeda, lebih ganas,” timpal dua wanita paruh baya itu sengaja menggoda Viona.


“Nyamunya kayaknya galak, bekas gigitnya besar, pasti sakit," celoteh Nara, bocah kecil itu masih memerhatikan menatap lurus leher sang Bunda.


Viona salah tingkah dibuatnya, berusaha menutupi jejak bibir suaminya menggunakan rambutnya. Ia luar biasa malu, wajahnya sudah semerah tomat masak. Ingin sekali rasanya menggali lubang dan mengubur dirinya sekarang, sedang Bima malah tersenyum senang mengintip hasil lukisan bibirnya.


“Nggak sakit kok. Nanti tinggal pakai obat. Yuk kita makan, nanti sarapan Nara keburu dingin, abis ini kan mau beli boneka Anna temannya Elsa.” Viona cepat-cepat mengalihkan fokus sang anak agar tak tertarik pada jejak merah di lehernya lagi.


“Oh iya bunda. Asik, mau belinya dua.”


“Iya boleh sayang, ayo makan yang banyak.” Nara mulai teralihkan fokusnya dan Viona pun sedikit bernapas lega bisa terbebas dari cecaran pertanyan si buah hati.


Selepas sarapan, mereka bergegas pulang. Nara berlarian dijaga para kakek dan neneknya menuju parkiran, sedangkan Bima dan Viona berjalan di belakang.


“Haish… ini semua gara-gara bibirmu itu Mas. Sudah kubilang kan jangan di situ.” Viona menggerutu sambil sibuk menata rambutnya agar menutupi jejak cinta yang dibuat suaminya.


“Kamu sangat nikmat, sayang. Jadi aku khilaf,” ujarnya sambil terus melangkah dan merangkul pinggang Viona.


“Erghh… mulutmu Mas!”


Viona menyikut perut Bima kesal, dan ditanggapi Bima dengan kecupan sayang di puncak kepalanya diiringi tawa renyah.