Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Tidurlah, Sayang



Menjelang pukul sembilan malam, sedan hitam milik Bima melaju keluar dari basemen apartemen, rencananya Viona hendak pulang sejak satu jam yang lalu, hanya saja tak disangka obrolan mereka cukup menyita waktu.


“Di mana Chevrolet putih kesayangan Mas?”


“Sedang kumodifikasi, meminta jok belakang didesain senyaman mungkin untuk Nara. Saat bepergian dan jika bosan di perjalanan, dia bisa mengisi waktu menonton kartun kesukaannya sambil berbaring ditemani boneka-boneka favoritnya, bahkan tetap nyaman jika dia tertidur sekalipun tanpa khawatir terjatuh,” jawab Bima dengan mata tetap fokus ke jalanan.


Tangan Viona terulur menggenggam tangan Bima. “Makasih Mas, Nara pasti suka,” ucap Viona penuh syukur.


Bima menoleh sekilas dan tersenyum hangat. “Sudah seharusnya, karena aku adalah Ayahnya,” sahut Bima yang kemudian mengecup punggung tangan Viona yang menggenggamnya.


Jalanan kota Bandung masih cukup ramai meski malam beranjak larut, sesekali kemacetan di area tertentu menghambat perjalanan. Anehnya, kali ini Viona tak merasa bosan sama sekali kendati terkadang mobil melaju tersendat-sendat akibat jalanan padat, malahan ia berharap perjalanan pulangnya kali ini jangan segera berakhir, cinta yang bersemi kembali memang membuatnya seperti anak remaja yang dimabuk kepayang.


Sepanjang perjalanan mereka membahas banyak hal, kadang hal tak penting pun ikut masuk dalam topik pembicaraan diselingi derai tawa.


Sekitar pukul sepuluh malam barulah mereka sampai di rumah Viona. Bima melirik kursi sebelahnya dan tanpa disadarinya Viona sudah terlelap. Ia hendak mengguncang pelan lengan Viona untuk membangunkan, tetapi melihat wanitanya tertidur begitu pulas, Bima tak sampai hati membuatnya terjaga.


Bik Yati tergopoh-gopoh keluar dan membuka pagar saat mendengar bel berbunyi. Ia sedikit terkejut melihat Bima membawa Viona digendongannya.


“Nyonya muda kenapa?” Bik Yati bertanya dengan nada khawatir, ia mengira Viona sakit atau semacamnya.


“Bima memberi isyarat agar Bik Yati jangan berisik. “Viona nggak apa-apa, Bik. Cuma ketiduran, jadi jangan bersik,” jelas Bima menenangkan.


Bik Yati tampak bernapas lega. “Saya kira pingsan,” ujarnya sambil mengelus dada.


“Nona kecil sudah tidur, sekitar satu jam yang lalu. Silakan masuk.” Bik Yati segera membukakan pintu rumah.


“Tolong bukakan pintu kamar Viona,” pinta Bima. Bik Yati membuka lebar-lebar pintu kayu jati kamar Viona untuk memudahkan Bima membawa Viona yang tertidur masuk ke dalam.


Dibaringkannya Viona yang terlelap ke atas peraduan. Diselimutinya sepelan mungkin agar Viona tak terusik kemudian mengusap sayang kepalanya. “Tidurlah, sayang.”


Bima mengerutkan kening dalam. Setelah diperhatikan dengan saksama, pipi kanan Viona sedikit memerah seperti jejak tamparan, juga pergelangan tangannya mulai membiru, begitu kontras dengan kulit kuning langsatnya. Mata Bima memejam, rasa marah kembali beriak, ini pasti ulah si buaya darat hidung belang pelakunya.


“Yoga keparat!” geramnya rendah.


Tangannya mengepal kuat diiringi rahang yang mengetat. Amarah kembali membakarnya, inginnya Bima meremukkan si pemilik Shoppinghome itu saat ini juga. Namun, terselip rasa bangga pada wanita mungil yang kini tengah terlelap, ternyata dibalik tubuh rapuhnya tersimpan kekuatan mempertahankan diri di dalamnya.


Bima beranjak keluar dari kamar dan meminta Bik Yati mengambilkan kotak obat. Ia mencari-cari obat memar dan bernapas lega saat menemukannya.


Ia kembali ke kamar, duduk di tepian ranjang dan mulai mengoleskan salep pereda memar di bagian lengan Viona yang membiru. Setelah memastikan semuanya rata terolesi, Bima menaruh salepnya di nakas kemudian membungkuk lebih dekat dan melabuhkan kecupan sayangnya di kening Viona.


“Aku pulang dulu,” gumam Bima rendah.


Sebelum pulang, Bima menyempatkan ke kamar Nara dan mencium putri kecilnya. Tak berlama-lama ia segera berpamitan pada Bik Yati dan bergegas pergi. Bima tidak ingin gosip tak sedap dari para tetangga berembus dan berefek buruk pada mantan istrinya jika dirinya berdiam diri hingga larut malam di dalam rumah, mengingat status janda Viona yang rentan mengundang pergunjingan.