Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
I Miss You



Wanita mungil itu terusik mulai keluar dari alam mimpinya. Entah mengapa tidurnya kali ini terasa begitu pulas dan nyaman, padahal posisinya terduduk di sofa, tidak seperti tidurnya empat tahun belakangan ini yang sering tak nyenyak.


Rasa hangat menyenangkan dan aroma di dekatnya membuatnya merasa tentram. Ia mengerjap terkesiap saat menyadari ternyata dirinya tidur bersandar di bahu kokoh sang mantan suami. Viona mendongak dan mendapati Bima yang matanya memejam dengan sedikit menopang ke kepalanya. Embusan napas hangatnya halus, sepertinya Bima juga tertidur pulas.


Sedikit menggeser posisinya, Viona bergerak pelan agar tak membangunkan Bima. Tanpa disuruh tangannya bergerak membelai rambut Bima juga jambang halus yang dibiarkan tak dicukur.


“Kamu makin kurus, Mas,” desahnya khawatir. Matanya menelusuri wajah pria yang pernah menjalin ikatan rumah tangga dengannya, masih pucat walaupun tak sepias kemarin.


“Kamu sudah bukan anak remaja, kenapa tidak mengurus diri dengan baik?” gumamnya lagi.


Luka yang pernah ditorehkan memang mungkin sudah tak lagi berdarah seiring berjalannya waktu berlalu, hanya saja sisa perih sayatannya terkadang masih terasa. Jika ditanya apakah Viona masih mencintai dan menyayangi Bima? Jawabannya pasti iya meski lisannya enggan mengakui.


Jika tidak, untuk apa Viona repot-repot cemas ketika mendengar lelaki itu sakit. Datang terburu-buru seperti orang gila hari kemarin, meninggalkan pekerjaannya di butik lantaran rasa khawatir menyerbunya seketika. Bahkan tanpa disadarinya sejak subuh tadi ia memasak banyak makanan kesukaan Bima, memasukannya ke dalam kotak makanan lalu diangkut ke apartemen Bima. Menaruhnya dalam lemari pendingin dan tinggal dihangatkan jika hendak disantap, menu yang dimasaknya cukup untuk beberapa hari ke depan.


Dihatinya yang penuh luka menganga dengan perban terbelit di mana-mana, selalu setia terukir satu nama meskipun ruang itu kini buram tak benderang. Tak dipungkiri, Viona mengakui, Bima yang sekarang memanglah sudah berubah. Viiona bisa merasakan kesungguhan Bima meski hanya dari sorot mata juga sikapnya. Bima yang arogan akibat pengaruh obat terlarang sudah tak ada lagi.


Alasan dia sekarang berada di sini demi Nara, pada awalnya memang demi Nara. Akan tetapi benarkah hanya demi Nara? dia mulai bertanya-tanya, sebelum akhirnya Bima terusik mulai terbangun. Viona menarik tangannya dari rambut Bima, kembali bersandar ke sofa dan berpura-pura tidur, ia merasa gengsi jika Bima mendapatinya tengah mengamati.


Bima merasa begitu segar. Jam di dinding menujukkan pukul tiga sore, berarti ia tertidur kira-kira satu jam di sana. Melirik ke sisi kirinya dilihatnya Viona masih terlelap meskipun posisinya telah bergeser. Tangan kirinya menopang kepalanya sendiri, ia mengangsurkan punggung tangan sebelahnya lagi membelai lembut sisi wajah Viona.


“Bahkan tidurku begitu nyenyak, karena ada kamu di dekatku, Vi.”


Bima juga kerap kali mengalami gangguan tidur, selalu merasa gelisah sehingga tidurnya tak pernah benar. Mungkin kesehatannya menurun juga akibat dari itu, sementara kesibukannya di perusahaan kadang tak mengenal waktu. Keduanya sebetulnya saling membutuhkan, hanya saja tembok penghalang membatasi mereka kini.


“Aku selalu merindukanmu Vi, sangat,” gumamnya serak. Bima tak mampu menahan diri untuk tak memberikan kecupan sayang di puncak kepala Viona.


“Kamu pasti akan membunuhku jika tahu aku melakukan ini.” Bima terkekeh dan tersenyum getir. Ia tak tahu bahwa sang mantan istri sebetulnya sama sekali tidak tidur.


Viona, I miss you.