Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Pesona Bima



Mobil milik Bima baru saja tiba di rumah yang ditempati Sesil, memarkirkannya serampangan dan segera turun membuka bagasi menurunkan barang-barang bawaannya untuk keperluan Sesil selama seminggu ke depan.


Sesil yang sedang berdandan di kamar langsung berlari dan membuka pintu rumah ketika mendengar deru mesin mobil di garasi depan.


Ia sudah mempersiapkan dirinya untuk melancarkan misi. Memakai pakaian anggun tidak seksi seperti biasanya, rambutnya dirapikan diikat ekor kuda dengan make up tipis sederhana serta parfum beraroma lembut bunga jasmine yang disemprotkan di seluruh tubuhnya.


Degupan jantungnya lebih cepat dari biasanya ketika melihat Bima yang sedang menurunkan barang-barang dari bagasi. Memang benar, awalnya dia hanya menginginkan uangnya saja, tetapi setelah lebih sering bertemu dia malah terpesona pada sosok Bima dan satu rasa yang tak seharusnya mulai tumbuh di hatinya.


Sikap Bima kepadanya memang sangat dingin seperti sebongkah es. Ternyata semua itu bukan menyurutkannya, tetapi rasa ingin memiliki semakin kuat bercokol di hatinya. Sesil menghampirinya dan mengambil beberapa kantong belanjaan yang dibawa Bima.


"Biar aku yang membawanya masuk, kamu istirahat saja," ucap Sesil sembari tersenyum canggung.


Bima menoleh dan tertegun sejenak menatap Sesil, sorot mata tajamnya memaku dan dahinya mengernyit penuh tanya. Ia keheranan kenapa Sesil tiba-tiba berpenampilan seperti wanita baik-baik tidak seperti kesehariannya.


Bima hanya menanggapi dengan anggukan tipis. Melangkah masuk ke dalam rumah disusul Sesil di belakangnya. Ia menyandarkan diri di sofa ruang tamu, membuka ponselnya dan berkirim pesan dengan Viona tanpa memedulikan Sesil yang berlalu lalang keluar masuk mengangkut barang yang dibawanya tadi.


"Mau minum apa?" tanya Sesil dengan nada manis.


"Tidak usah, aku akan segera pulang kembali. Cuma mau mengingatkan, minggu depan aku akan datang berkunjung lagi bersama dokter, jaga kesehatanmu agar kondisi anakku tetap baik di dalam sana. Jangan sampai seperti tempo hari, kamu membuang waktu berharga dokter tersebut karena sakit perutmu," tegas Bima dengan raut wajah datarnya.


Jika ada yang melihat ekspresi Bima sekarang, sudah pasti mereka akan bergidik ngeri betapa tajam sorot matanya serupa sebilah pedang yang siap menghunus dan mengobrak-abrik siapapun yang mengganggunya.


"Aku akan menjaga kesehatanku," sahut Sesil berusaha tenang meskipun perasaannya gundah gulana karena takut kebohongannya terbongkar.


"Aku takkan berlama-lama. Jika ada yang diperlukan kamu bisa mengirim pesan ke nomor yang sudah kuberikan. Jangan berani-berani mengubungi ponsel utamaku!" seru Bima yang kemudian bangkit dari duduknya dan menuju garasi.


Saat hendak membuka pintu mobil, bannya tiba-tiba kempes entah kenapa. Padahal seingatnya sebelum berangkat dan saat tiba tadi semuanya baik-baik saja.


"Akh ... sial! Kenapa yang kempes harus dua sih, depan dan belakang!" Bima berdecak kesal dan menendang mobilnya karena ban serep yang dibawanya hanya ada satu.


"Kenapa Bim?" tanya Sesil tanpa dosa, padahal kempesnya ban tersebut adalah ulahnya supaya bisa menahan Bima lebih lama bersamanya.


"Di mana bengkel terdekat?"


"Aku tidak tahu, kamu kan menyuruhku untuk tetap di rumah. Jadi aku tidak mengenal daerah dekat sini dengan baik." Sesil beralasan.


Bima menghubungi bengkel langganannya yang berada di pusat kota untuk datang, tentu saja butuh waktu lebih dari satu jam untuk sampai dan mau tidak mau Bima harus menunggu di rumah itu.


"Tunggu di dalam aja, aku akan membuatkan teh," tawar Sesil.


Bima mendesahkan napasnya kesal karena harus terjebak di tempat yang dibencinya lebih lama. Tanpa menjawab, Bima kembali masuk ke ruang tamu, senyum kemenangan tersungging di bibir Sesil seiring hatinya yang bersorak di dalam sana.