Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Sarapan Bersama



“Ehm… ha-halo Mas.” Viona tergeragap menjawab telepon dari Bima.


“Ada apa Vi? Maaf tadi aku lagi ke kamar mandi. Apa Nara sakit?” ucap Bima terdengar khawatir.


“I-itu... nggak. Nara nggak sakit, tadi aku cuma gak sengaja kepencet nomor Mas pas mau setel alarm.” Viona beralasan, padahal kenyataannya bukanlah demikian.


“Ini udah jam satu malam, kenapa belum tidur, Vi?”


“Aku… aku udah tidur kok, cuma barusan kebangun.” Terdengar nada sedikit ngotot.


Bima terkekeh di seberang sana, dia bukan anak kecil yang mudah ditipu, apalagi Viona bukanlah sosok asing. Bima bisa merasakan Viona tengah gugup dan salah tingkah karena berbohong.


“Kamu kangen ya sama aku?” goda Bima. Sudah pasti lelaki itu kini sedang tertawa kecil.


“Eh… nggak! Siapa yang kangen, aku gak sengaja mencet nomor Mas. jangan mikir yang macam-macam!” bantahnya sengit.


“Ya sudah tidur lagi. Jangan banyak begadang.” Bima hendak menutup teleponnya.


“Tunggu… tunggu, Mas. Besok, bisakah datang lebih pagi? Nara ingin sarapan bersamamu sebelum pergi ke kebun binatang.”


“Oke, setelah shalat subuh aku akan langsung ke rumah. Jadi sekarang tidurlah.”


“Hmm. Tapi, kenapa Mas juga belum tidur? Menyuruhku tidur tapi dirinya sendiri malah terjaga.”


“Aku selalu kesulitan memejamkan mata, mungkin karena nggak ada kamu di sampingku,” rayunya terang-terangan.


Vona terdiam sejenak. Meraba wajahnya yang tiba-tiba memanas. Ucapan Bima sukses membuatnya merona dengan sendirinya.


“Sejak kapan Mas suka menggombal? Udah ah, aku mau tidur, sampai jumpa besok.”


Viona mematikan sambungan panggilan, kembali berbaring di ranjang memeluk guling sembari senyam senyum sendiri, dan tak berselang lama dia pun terlelap dengan senyuman yang masih tersungging di bibirnya. Melupakan sejenak hiruk pikuk suasana hatinya tentang masalah pertunangannya dengan Juna dan membiarkan dirinya dipeluk sang lelap dalam mimpi indah.


*****


Chevrolet putih milik Bima terparkir manis di halaman rumah Viona. Sesuai janjinya dia datang lebih pagi, bahkan mungkin ini terlalu pagi karena matahari masih mengintip belum sepenuhnya terbit. Bik Yati membukakan gerbang dan mempersilakan untuk langsung masuk ke ruang makan.


Rasa rindu makin menyeruak, Bima rindu saat-saat mereka bersama, rindu dengan Viona yang selalu antusias memasak hidangan meskipun dulu pernah ia abaikan, rindu dengan irama merdu peralatan dapur yang beradu di pagi hari, juga aroma menggugah selera yang menguar di udara.


Ia menyudahi lamunannya kala suara Nara menyapanya.


“Horeee… Ayah udah datang.”


Nara berjingkrak menghampiri, Viona pun menoleh kala mendengar celotehan sang anak dan sedikit terkejut melihat Bima yang sudah hadir di sana, bersandar di dinding dengan sebelah tangan masuk di saku celananya.


“Eh… Mas, kapan dateng?” Viona merasa kikuk karena dia hanya memkai daster ruflle selutut juga celemek dengan rambut di gulung ke atas, entah kenapa makin ke sini Viona mendadak cemas akan penampilannya saat berhadapan dengan BIma.


“Barusan, aku datang lebih pagi karena sudah tak sabar ingin sarapan bersama putri cantik ini,” ucap Bima ambil meraup Nara ke dalam gendongannya.


“Tu-tunggu dulu saja di ruang keluarga, setelah siap nanti kupanggil, paling sekitar tiga puluh menitan lagi.”


“Baik Bunda,” jawab ayah dan anak itu serempak. Bima menyunggingkan senyuman penuh arti sebelum beranjak ke ruang keluarga, sementara Viona mendengus juga melotot padanya.


*****


Jangan lupa bayar parkir ya my beloved readers 😳😳. Berupa like, komentar dan vote seikhlasnya, thank you 💕.


Halo my beloved readers.


Kali ini author akan mengadakan giveaway. Dua komentar yang menarik dan unik akan mendapatkan pulsa senilai 25rb per orang.


Periode giveaway terhitung sejak tanggal 15 Januari. Pengumuman pemenang tanggal 15 Februari 2021


dalam kurun waktu itu nanti akan dipilih dua komentar terbaik sebagai pemenang. Ayo tuliskan komentar terbaikmu sebanyak-banyaknya, ingat gunakan bahasa yang baik dan santun 😘💕.


Regards


Senjahari_ID24