Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Memeluk Si Buah Hati



Bima duduk di sisi sebelah kiri sedangkan Viona di sebelah kanan ranjang Nara. Demam Nara masih belum turun, padahal obat sudah diberikan satu jam yang lalu.


“Kenapa panasnya masih nggak turun ya, Mas? Viona meraih lengan Nara dan menempelkannya di pipinya, rona sedih juga rasa bersalah begitu kentara tercetak di wajahnya. Ibu mana pun pasti bereaksi sama ketika melihat buah hatinya sakit.


“Sabar, Vi. Mungkin obatnya belum bereaksi sepenuhnya. Yang penting sudah ditangani dengan baik, kita sama-sama berdo’a untuk kesembuhan Nara. Nanti kita panggil lagi perawat dan dokter jika beberapa jam ke depan masih tak ada perkembangan.”


“Nara jadi sakit begini pasti karena kurang perhatian dariku dua hari terakhir ini.” Viona menyapukan jemari di ujung matanya yang kembali basah oleh air mata.


“Jangan menyalahkan diri, kamu juga nampak tak baik-baik saja.” Bima mengulurkan tangan menyentuh punggung tangan kiri Viona yang tengah mengelus-elus kaki Nara.


Rima dan Abdul memasuki ruangan disusul Juna di belakangnya. Mereka bertiga menghampiri ranjang, Juna mengepalkan tangan melihat Bima yang tengah berpegangan tangan dengan Viona.


“Kamu pulang saja. Ada kami yang menunggui Nara di sini, lagipula Juna juga sudah datang, tugasmu sudah selesai untuk membujuk Nara agar mau diinfus” ucap Abdul datar pada Bima.


Bima melepaskan genggaman tangannya kemudian berdiri. “Maaf Om. Untuk kali ini saya akan tetap di sini. Tak mungkin saya bisa pulang dengan tenang sementara Nara sakit dan membutuhkan saya.” Bima berucap tetap dengan nada rendah dan sopan namun memaksa.


“Kumohon Yah. Aku ingin Mas Bima di sini. Anakku sakit dan ingin bersama ayahnya,” pinta Viona sambil menatap lurus pada Abdul.


Juna kini melangkah maju berdiri di sisi ranjang di mana Viona berada dan menyapa Nara yang tergolek.


“Nara,” panggil Juna. Jujur saja Juna pun merasa khawatir, bagaimanapun juga dia ikut menyaksikan tumbuh kembang Nara selama ini, banyak hal yang mereka lewati bersama.


“Papi Juna,” sapa bocah itu sambil mengerjapkan mata.


“Nara ditemenin sama Papi aja mau? Biar Ayah Bima pulang, kan bentar lagi Papi juga jadi ayahnya Nara,” ujarnya terlampau berani. Memiliki dukungan penuh dari Abdul membuatnya jadi besar kepala.


“Juna!” Viona tampak marah. “Berhentilah membahas hal itu di saat seperti ini!”


Bocah itu menggeleng pelan kemudian tersenyum pada Juna meski dalam keadaan lemah. “Nara mau sama Ayah Bima, sama Bunda aja,” jawabnya.


Rahang Juna mengeras mendengar jawaban Nara, hanya saja malu rasanya jika orang dewasa sepertinya mendebat ucapan anak kecil. Seharusnya Nara lebih terikat padanya bukan? Mengingat dirinya sudah lama sering berada di sekitarnya.


Namun, pada kenyataannya bocah itu malah lebih lengket pada Bima, padahal kebersamaan mereka baru seumur jagung, keterikatan hubungan darah ternyata lebih dahsyat dari perkiraannya. Itu terjadi karena Bima sangat menyayangi Nara, hanya saja dulu sempat khilaf kala berada di bawah kuasa si barang haram. Lain cerita jika seorang Ayah tidak menyayangi anaknya, meski mengalir darah yang sama maka terkadang keterikatan batin secara alami itu tak tercipta.


“Juna, sebaiknya kamu pulang. Yang dibutuhkan Nara sekarang adalah aku dan Mas Bima. Kuharap Ayah juga mengerti dan menunda dulu permasalah kita yang belum selesai. Kumohon, untuk sekarang ini aku ingin fokus pada kesembuhan Anakku, jadi jangan berdebat di sini. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Nara karena keegoisan Ayah, lebih baik aku mati!” tegas Viona dengan bibir gemetar dan bola mata yang kembali menggenang.


Begitulah seorang ibu, ketika dirasa anaknya berada dalam bahaya, maka selembut apapun kesehariannya dia akan berubah menjadi singa betina ganas demi keselamatan sang anak.


“Viona!’ bentak abdul dengan suara meninggi. Rima segera memegangi suaminya, ia mulai lelah akan sikap Abdul yang keras kepala.


Bima juga cukup tersentak kaget dengan reaksi Viona yang tak seperti biasanya.


Ayah… Bunda,” Nara merintih lirih menghentikan perseteruan panas di ruangan itu. Sejak tadi ia bergerak gelisah efek suhu tubuhnya yang masih tinggi.


Bima membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada sang anak begitu juga Viona. “Ada apa Anak Ayah?” tanya Bima lembut.


“Pengen bobo, tapi sambil dipeluk Ayah sama Bunda” ujarnya sambil merintih gelisah dan tak nyaman.


Viona kembali menegakkan tubuh.


“Demi Nara, beri kami ruang dan waktu. Dengan segala hormat, tolong tinggalkan kami, Nara butuh istirahat.” Wanita mungil itu menekankan setiap kata-katanya dengan ekspresi mengeras, baru kali ini Viona bersikukuh.


Abdul yang asalnya hendak melayangkan protes segera dihentikan oleh Rima, akhirnya Juna pun ikut keluar walau tak rela.


“Ayah… Bunda….” Rintih Nara lagi. “Pengen bobo.”


“Ayo, kita bobo,” ucap Viona lembut penuh cinta pada si buah hati.


Ranjang ruangan VVIP berukuran cukup besar, sehingga bisa memuat dua sampai tiga orang dewasa. Bima naik berbaring di sisi kiri dan Viona di sisi kanan, tak lupa tetap memerhatikan selang infus agar tidak tergangu sirkulasinya.


Viona menuntun si buah hati membacakan do’a sebelum tidur dan mengecup kepala Nara yang masih terasa panas, diikuti Bima yang juga melakukan hal serupa. Bocah itu tersenyum senang meskipun kepalanya pusing dan seluruh tubuhnya lemah. Ia menyelusupkan wajahnya ke dada Bima, sementara tangannya yang terbebas dari selang infus menggenggam tangan Viona yang memeluknya.


*****


Juna duduk di kursi besi panjang yang terdapat di luar ruangan, berusaha meredam amarahnya jangan sampai meledak di hadapan Abdul agar tak meninggalkan kesan buruk. Kenyataan bahwa di dalam sana Viona dan Bima tengah bersama-sama meskipun ada Nara membuat api unggun pramuka di pegunungan berpindah ke kepalanya seketika.


Abdul menyusul duduk di samping Juna, sedangkan Rima tengah ke tempat parkir menemui sopir, memerintahkannya pergi ke rumah Viona bersama Bik Yati untuk membawa kelengkapan juga baju ganti Nara.


“Acaranya tinggal tiga hari lagi, semua persiapan sudah hampir rampung. Hanya saja bagaimana kalau Nara masih sakit saat hari pertunangan tiba, Om?” Juna kini tengah mengobrol dengan Abdul yang duduk bersisian dengannya.


“Semoga Nara sudah sembuh saat hari itu tiba. Tapi, tak usah khawatir, jika semisal Nara masih sakit itu hal mudah. Yang penting Viona hadir saat tukar cincin kan, walaupun tak bisa mengikuti acara hingga selesai?”


“Iya Om. Itu yang terpenting.” Juna tersenyum lebar, obsesinya mengikat Viona meski hanya dengan status tunangan sudah membuatnya merasa memiliki.


“Apa orang tuamu sudah mengetahui tentang dimajukannya tanggal dari yang sebelumnya?”


“Su-sudah Om. Tentu saja sudah,” jawab Juna sedikit gelagapan karena berbohong. “Tapi mereka berencana datang di hari_H saja, terkendala kesibukkan yang cukup padat.”


“Tak masalah.” Abdul menepuk-nepuk pundak Juna sambil tersenyum. “Oh iya Jun. mengenai investasi di perusahaan temanmu itu, Om berencana ingin menambahkan lagi dalam jumlah besar. Om percaya pilihanmu takkan salah, mengingat kejelianmu dalam berinvestasi selalu menguntungkan,” ujarnya bangga.


“Saya pun sudah menambah jumlah investasi di sana, sekitar dua hari yang lalu. Setelah pertunangan nanti kita bisa bertemu lagi dengannya, saat ini dia sedang berada di Banten guna meninjau lahan pabrik."


Obrolan mereka terhenti kala Rima kembali dan menepuk pundak Abdul. “Yah, ada yang ingin Ibu bicarakan, ini hal penting.” Raut wajah Rima yang serius membuat Abdul mengerutkan dahi, istrinya itu sangat jarang menampilkan ekspresi begini.


"Bicara di sini saja, Bu,” sahut Abdul yang merasa acara mengobrolnya dengan Juna terganggu.


“Ini hal yang sangat pribadi. Ibu ingin bicara berdua saja.” Rima memaksa, tak menyembunyikan keinginannya.


“Ya sudah. Mau bicara di mana?” Abdul bangkit dan mengancingkan jaketnya.


“Di luar saja, di taman samping rumah sakit.”