Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Jejak Hitam



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca ... 😘💕


*****


"Iya benar, aku hamil," ucapnya santai tanpa beban. "Satu jam lagi kutunggu kedatanganmu di Kafe Gourmet. Aku ingin membicarakan hal ini sambil langsung bertatap muka. Jika kamu tidak datang, maka video kebersamaan kita serta saat kamu memakai barang kesukaanmu akan kukirimkan kepada istrimu atau polisi. Atau bisa juga kuunggah di laman media sosial, dan sudah pasti imbasnya akan sangat dahsyat untukmu bukan? Semua keputusan ada di tanganmu, selamat sore."


Klik.


Terdengar bunyi panggilan dimatikan dari seberang sana. Bima menggenggam erat ponselnya dengan geram, kedua sikunya bertumpu di atas meja, sementara jemarinya memijat pelipis dengan mata terpejam.


Bima mengembuskan napasnya kasar, lalu dilemparkannya berkas-berkas yang tersusun rapi di atas meja hingga berserak. Bima menjambak rambutnya, rasa gundah, takut, dan menyesal menjalar dengan hebatnya mengalir di seluruh urat nadinya. Kenapa badai ini datang begitu tiba-tiba di saat ia tengah menyongsong masa bahagia kelahiran buah hatinya dengan Viona yang diperkirakan kurang lebih satu bulan lagi.


Ponselnya kembali berbunyi, sebuah file video dikirimkan dari nomor yang sama dengan panggilan tadi. Tangan Bima gemetar, ia ragu antara harus melihat file itu atau tidak, tetapi rasa penasarannya memuncak, diputarnya video itu dengan kegelisahan yang berkecamuk di dadanya.


Bima terperangah, ucapan wanita yang mengaku bernama Sesil itu bukanlah isapan jempol belaka. Isi di dalam video tersebut memang benar-benar dirinya yang tengah memakai barang haram itu hingga adegan ranjangnya bersama Sesil. Kendati kualitas gambarnya agak buram, tetapi wajah Bima masih mudah untuk dikenali. Dilihat sekilas pun, orang-orang akan langsung tahu bahwa itu adalah Bima.


Di bawah file video tertulis sebuah pesan lagi.


Yang kuberikan padamu hanya salinannya, file aslinya ada padaku, jadi jangan coba-coba mengelak, kutunggu kedatanganmu segera.


Setelah beberapa saat berpikir, Bima memutuskan menemui Sesil dan bertekad untuk segera menyelesaikan permasalahan tak terduga ini secepatnya agar tidak mengganggu keutuhan mahligai rumah tangganya dengan Viona.


Sebelum pergi tak lupa Bima mengabari Viona agar menunda acara berbelanjanya hari ini, dan berjanji akan menggantinya dengan hari esok. Viona sempat merajuk, tetapi kemudian wanita hamil itu menyetujui usul suaminya setelah berbagai macam bujukan Bima lontarkan untuk istri tercintanya.


*****


"Hhh ...."


Viona menghela napasnya, bibirnya cemberut, dagunya bertumpu di atas meja dengan mata menatap malas ke arah ponsel di tangannya. Sita menolehkan kepalanya mendengar embusan nyaring napas bosnya itu.


"Kenapa Bu?" tanya Sita yang sedang memajang display beberapa gaun rancangan terbaru.


"Nggak apa-apa, tadinya sore ini aku akan berbelanja keperluan untuk bayiku, tapi Mas Bima ada rapat mendadak. Padahal sudah jauh-jauh hari aku membuat janji dengan butik bayi milik temanku itu," cicitnya lesu.


Tak lama pintu depan butik terbuka, menampakan sosok Juna yang baru saja datang sambil tersenyum penuh arti ke arahnya.


"Jun, ada apa sore-sore begini kamu ke sini?" tanya Viona keheranan, ia tidak merasa mempunyai janji bertemu dengan sahabatnya itu.


Tanpa diduga, tiba-tiba Juna memberikan sebuket besar bunga mawar putih dari balik punggungnya ke hadapan Viona. Wanita cantik itu menerimanya dengan dahi mengernyit seraya menatap Juna keheranan.


"Happy birthday, ibu hamil yang memesona, wish you all the best," ujarnya sambil mengulas senyum tampannya.