
Warning 21+! Jangan meluk tembok uhuk 😳.
Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.
Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.
Selamat membaca....
*****
Disambutnya bibir merah nan ranum itu penuh sukacita. Bima balas menyesap, mengimbangi pagutan Viona yang berangsur liar. Viona juga merasakan sesuatu meronta di balik handuk Bima tepat di mana ia duduk, bisa dirasakannya juga tangan Bima bergerak intens meraba menyusuri setiap inci kulitnya pertanda hasratnya semakin menggeliat.
Dibaringkannya Viona perlahan, lalu meloloskan gaun tidurnya kemudian dilemparkannya begitu saja ke lantai. Bima merangkak berbaring di sebelahnya, melingkupi separuh tubuh Viona. Sejenak mereka saling berpandangan, menikmati pendaran cahaya cinta yang terpancar dari netra masing-masing.
Bima kembali menunduk, menanamkan bibirnya dalam-dalam, menyesap dan membelai bibir juga seisinya membuat Viona mengerang dalam sesapan bibirnya. Tangan Bima tak tinggal diam, kembali menyusuri setiap jengkal tubuh mulus, halus dan lembut itu tanpa terlewatkan.
Tangan juga bibir Bima bergerak selaras seirama menciptakan desiran hebat bagi Viona. Senyuman senang tercetak jelas di wajah tampan Bima menyaksikan Viona menggelinjang dengan mata terpejam juga wajah merona karena.
“Kamu hangat, dan sudah siap untukku,” bisik Bima parau. Ia menarik jemarinya dari bawah sana, membuang handuk yang membungkus bagian bawah tubuhnya.
“Bolehkah aku?” tanyanya dengan nada penuh arti.
"Kenapa bertanya, aku adalah milikmu, sayang,” balas Viona menggoda merayu. Senyum merekahnya mengundang sang kumbang untuk meneguk sari madunya, membuka pelukannya mendamba meminta lebih untuk dihangatkan.
Jemari lentik Viona mencakar punggung Bima ketika peleburan dua raga ditautkan. Viona mengatupkan mulutnya kuat-kuat untuk meredam jeritan, menahan rasa perih saat pintu ladangnya yang sudah lama tak dikunjungi kini didobrak kembali.
Ini memang bukan yang pertama kalinya, Akan tetapi mungkin karena terlalu lama terkunci membuat gerbangnya harus menyesuaikan diri lagi saat pemiliknya kembali datang.
Bima kembali menyesap bibir ranum itu untuk meredam rasa sakit Viona di bawah sana. Saat dirasa cengkeramannya mengendur karena terbuai ciuman, barulah Bima menghentak memenuhi kekosongan Viona dengan dirinya, membuat Viona menjerit kecil namun teredam bibir Bima yang masih melekat dibibirnya.
“Maaf.” Bima hanya terekeh setelah membuat wanita di bawahnya terkejut dan mencebik.
“Itu sakit!” protes Viona.
“Sebentar lagi enggak,” goda Bima terang-terangan.
Setelah lama tak bersua, rasa itu berkali-kali lipat lebih dahsyat indahnya, bergelora berkobar dengan hebatnya. Peluh mulai bercucuran dari pori-pori keduanya, jam di dinding entah sudah terlewat berapa angka.
Tubuh Viona bergerak gelisah saat garis finish arena pacuan mulai terlihat, dan Bima semakin mempercepat pacuannya agar sampai ke garis finish bersama-sama. Viona bahkan menjambak rambutnya sendiri, senyar yang tercipta sungguh membuat tubuhnya gila, hingga akhirnya nikmatnya surga dunia itu menerjang keduanya, saling membanjiri dalam pemenuhan nafkah ragawi masing-masing.
"Terima kasih, cintaku," ucap Bima yang tengah mengatur napas tersengalnya tepat setelah selesai menabur benihnya.
Viona mengusap pipi Bima, penuh sayang. “Dengan senang hati, Suamiku.”
Bersambung.