Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Jangan Menangis, Sayang



Marina bersedekap, menatap lurus pada putranya setelah pintu tertutup.


“Juna… kamu benar-benar berniat mempermalukanku dengan mengejar-ngejar janda itu padahal jelas-jelas dia tak mencintaimu? Di mana akal sehatmu!” jerit Marina tak terima.


Ia masih sulit percaya jika ternyata putranya yang mengejar Viona bukan sebaliknya, jauh berbeda dengan dugaannya. Ia merasa beruntung tak berhasil menemui Viona setelah mendapat penjelasan dari Bima juga mencuri dengar pembicaraan dua laki-laki itu tadi. Jika tidak, maka hanya rasa malu yang didapatnya andai tuduhan miring yang selama ini dipikirkannya tersampaikan pada Viona.


“Jangan mencampuri urusanku. Mami sama sekali tak paham!" teriak Juna frustrasi, ia menjambak rambutnya kasar dan melempar rubuhnya di sofa.


“Juna sadarlah, Nak. Kenapa membuat dirimu jadi menyedihkan begini.” Marina duduk di samping Juna dan mencoba mengelus bahunya namun ditepiskan.


“Masih banyak wanita lain yang lebih baik dari Viona. Lagipula dia tidak mencintaimu bukan? Lantas kenapa kamu merendahkan harga dirimu?” ucap Marina berusaha menyadarkan anaknya.


“Tidak ada yang lebih baik dari Viona, hanya dia yang kuinginkan. Sebaiknya Mami pulang dan biarkan aku sendiri,” ujarnya dingin. Juna beranjak ke kamarnya, membanting pintu dan mengunci diri di sana.


****


Rumah Viona tampak sepi dan lengang, Bima celingukan mencari kehidupan di sekitarnya tapi tak menemukan siapapun, bahkan gorden pun masih tertutup rapat. Ia mencoba memencet bel berharap ada seseorang di dalam, dan bernapas lega kala seorang pria yang dikenalnya sebagi sopir yang bekerja pada Viona tergopoh-gopoh membuka pagar.


“Pak, kok rumah sepi? Pada kemana?”


“Oh itu, sejak kemarin Nyonya Viona, nona kecil sama Bik Yati belum pulang. Katanya Pak Abdul mereka akan menginap di sana sampai minggu depan, saya baru datang karena diminta untuk membersihkan rumput dan memberi makan ikan di kolam taman belakang,” jelasnya.


Jadi sejak kemarin Viona masih berada di rumah orang tuanya? gumamnya dalam hati.


“Makasih Pak, kalau gitu saya permisi.”


Bima kembali memesan taksi online, karena tadi ia berangkat ke tempat Juna menggunakan kendaraan yang dibawa Marina tanpa membawa mobilnya sendiri. Tak butuh waktu lama Bima sampai di sana, ia memencet bel di luar pagar dan salah satu asisten rumah tangga di dalam sana keluar menghampiri.


“Mbok, apa Viona di sini? Tolong buka pagarnya saya ingin bertemu.”


“Maaf sekali Den Bima. Pak Abdul memerintahkan kami tak boleh membuka pintu untuk Anda, saya mohon maaf,” ujarnya sambil memilin jari jemarinya karena takut.


Bima Mengusap tengkuk dan memijat pangkal hidungnya sejenak. “Tapi, apakah Viona ada di sini? Apa dia baik-baik saja, karena ponselnya mati sejak kemarin,” ujarnya penuh kecemasan.


Wanita tua itu mengedarkan pandangan ke sekitar, kemudian kembali berbicara.


“Sebenarnya sejak kemarin, Pak Abdul mengurungnya dan menyita ponselnya. Asalnya di kamar bawah, sekarang dikurung di kamar atas, di kamar Neng Viona dulu. Saya takut dia sakit, sejak semalam sampai sesorean ini, dia tak menyentuh makanan yang diantar ke kamarnya. Dia terus menangis dan memohon agar pertunangannya dibatalkan. Bu Rima juga terus berusaha bicara pada Pak Abdul, tapi malah ikut dihukum tak boleh keluar dari rumah,” jelasnya setengah berbisik.


“Pak Abdul juga bekerja dari rumah, tidak berangkat ke kantor. Hanya saja barusan beliau bilang mau keluar sebentar karena ada keperluan. Tapi di pintu kamar Neng Viona ada yang menjaga, seorang satpam yang dibawa dari kantor Pak Abdul.”


Kecemasan semakin menyerbu Bima. Ia mendongak dan menatap lurus ke arah kaca besar kamar Viona yang terhalang gorden siang. Inginya ia merangsek masuk dan melihat keadaan Viona dengan mata kepalanya sendiri.


“Bagaimana, bagaimana dengan Nara?”


“Nona kecil baik-baik saja, ada bersama pengasuh, tapi tak diizinkan ke sekolah sampai minggu depan.”


“Kalau begitu, bisakah saya minta tolong? Tolong susupkan ponsel ini pada Viona.” Bima mengeluarkan ponsel miliknya dan memohon dengan sangat.


Wanita itu tampak takut-takut, sesaat kemudian ia mengangguk, tak tega melihat wajah Bima yang begitu frustrasi.


“Baik Den.”


“Selundupkan dengan hati-hati. Jangan sampai ketahuan. Terima kasih Mbok.”


Walau dengan langkah berat Bima menjauh dari sana sambil memandangi kaca kamar Viona penuh kerinduan dan kecemasan.


*****


Waktunya mengantar makan malam untuk Viona telah tiba. Si wanita tua yang dititipi ponsel oleh Bima membawa nampan ke lantai dua, tak lupa ia juga membawa posnsel untuk Viona yang disembunyikan di dalam saku dasternya, berusaha tak terlihat gugup saat melihat si satpam yang berjaga di depan pintu sedang berbincang dengan Abdul.


“Ini makanan buat Neng Viona, Tuan.”


“Hmm… pastikan kali ini Viona makan. Jangan sampai saat hari pertunangannya dia malah jatuh sakit,” ucap Abdul.


“Baik, Tuan.”


Si satpam membuka kunci pintu. Wanita itu segera masuk ke dalam dan menutup pintu. Jujur saja kakinya gemetaran, takut Abdul mencurigainya.


Dilihatnya Viona yang meringkuk miring menekuk lututnya di atas tempat tidur, tampak begitu lemah dengan wajah sembap. Si asisten rumah tangga merasa prihatin, ia mendekat dan memberanikan diri menyentuh lengan Viona.


“Neng, makan dulu.”


“Aku nggak lapar Bik.” Viona tak bergeming.


“Tadi Den Bima ke sini nyariin,” bisiknya sepelan mungkin.


Viona yang asalnya meringkuk langsung berusaha mendudukkan diri meski tubunya lemah.


“Mas Bima ke sini?”


“Iya Neng, dan nitipin ini.” Dia mengeluarkan ponsel dari saku dasternya. “Bibi diminta ngasihin ini. Bibik nggak bisa lama-lama. Neng harus makan ya, biar nggak sakit. Bibik keluar dulu, takut Tuan Abdul curiga. Permisi.”


Viona menggenggam erat-erat ponsel tersebut, tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke sana.


Vi, ini aku pakai ponsel yang lain. kalau ponselku sudah sampai di tanganmu, segera hubungi nomor ini.


Viona menyeret langkahnya terseok-seok ke kamar mandi, menyalakan keran air di wastafel dan menghubungi nomor yang baru saja mengirimkan pesan.


“Mas….”


“Vi, gimana keadaanmu?”


“Mas.”


Viona kembali menangis, membuat Bima semakin khawatir dan ingin melesat menerobos rumah Viona sekarang juga. Memeluknya, menciumnya, menenangkannya dan menenggelamkannya di dekapannya.


“Sayang… jangan menangis hmm, semuanya akan baik-baik saja.”


“Aku rindu kamu Mas, aku dan Nara butuh kamu, bukan orang lain,” lirihnya pilu.


“Aku ada di sini, walaupun kita tak saling bersentuhan, ingatlah aku selalu dekat denganmu, di hatimu. Kudengar kamu tak mau makan? Jangan menyiksa diri, makanlah sayang, kamu harus menjaga kesehatan, demi Nara demi aku, agar kita bisa berjuang bersama,” bujuk Bima dari seberang sana.


“Tapi ayah mengurungku, bagaimana aku bisa mencari cara, aku ingin bertemu Juna dan bicara langsung dengannya,” Viona makin terisak-isak.


“Sayang, dengarkan aku baik-baik. Cari rekaman terbaru di ponselku. Kuharap itu bisa menjadi jalan dibatalkannya pertunanganmu. Entah kebetulan atau apa, tapi sepertinya alam mulai memihak dan menunjukkan celah untuk kita kembali bersama. Kuatlah, aku dan Nara membutuhkanmu. Jangan bersedih, kita sama-sama berusaha dan berdo’a.”