Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Cah Kangkung



Aroma kopi menguar di udara menggoda indera penciumannya di hari minggu pagi. Sepulang dari mesjid selepas shalat Subuh tadi, Bima kembali memejamkan mata bergelung di sofa empuk ruang keluarga lantaran didera kantuk akibat semalam tidur cukup larut. Badannya juga terasa pegal-pegal efek dari terlalu sering mengguyur diri larut malam menggunakan air dingin belakangan ini.


Dengan secangkir kopi di tangan, Viona menatap kasihan pada suaminya. Inginnya membelai dan memeluknya. Memijat pundak dan punggung sang suami yang sudah pasti pegal dan kaku. Setelah seharian sibuk di kantor, Bima masih tak dapat terlelap dengan nyaman lantaran tubuh jangkungnya harus berpuas diri berbaring di sofa. Bima bisa saja tidur di kamar lain, tetapi ia tak mau jika harus terpisah ruang dengan wanitanya, cukup jarak saja.


Viona juga ingin mencukur jambang halus yang tumbuh di sekitar rahang sang suami seperti yang biasa dilakukannya di hari minggu. Hanya saja, kini ia harus menjaga jarak, karena jika tidak lambungnya akan mengamuk bergolak hebat mendorong isinya naik memaksa untuk dimuntahkan dibarengi mual tak terperi.


Kelopak mata Bima bergerak-gerak lambat, enggan terbuka meski aroma kopi mengelitik hidungnya, masih betah dalam rasa kantuknya.


“Nara, tolong bangunkan Ayah, Nak. Biar kita bisa sarapan bersama,” pinta Viona pada gadis kecilnya yang sudah segar dan wangi baru selesai mandi pagi. Ia memilih berdiri berjarak sejauh tiga meter dari sofa.


Nara mengangguk lalu menghampiri Bima. “Ayah, ayo bangun. Nara pengen sarapan bareng-bareng,” celotehnya dengan suara lucunya. Nara sedikit mengguncang lengan juga mengecup pipi sang ayah.


Bima menggeliat. Mendesah serak kemudian netra elangnya perlahan terbuka. Ia tersenyum senang saat mendapati si buah hati membangunkannya dengan celotehan juga tindak-tanduk gemasnya. Bima langsung merengkuh Nara dan membawanya ke atas tubuhnya. Si gadis kecil memekik kaget lalu tertawa terbahak-bahak karena senang diajak bercanda tawa dengan sang ayah, belum lagi Bima mengecupi wajah lucunya dan menggelitikinya.


“Mmhh … Anak Ayah udah wangi.” Bima menghidu dalam-dalam aroma menenangkan yang menguar dari si buah hati.


“Nara kan udah mandi pakai sabun stroberi. Jadi wangi,” jawabnya.


“Mas, maaf membangunkanmu. Tapi sekarang sudah jam delapan, sudah waktunya sarapan. Aku dan Nara ingin sarapan bersamamu,” ucap Viona sambil mengulas senyum. “Aku juga sudah membuatkan kopi kesukaanmu. Vietnam drip.” Viona mengangkat cangkir di tangan.


“Makasih, istriku,” sahutnya sambil membalas senyuman Viona. “Ayo, kita ke ruang makan.”


Ketiganya berjalan beriringan dengan Bima yang tetap menjaga jarak dari Viona tentunya. Bima harus mati-matian menahan diri dari keinginan merangkul pinggang dan pinggul seksi yang berjalan di depannya. Apalagi perut Viona mulai membuncit, dan di mata Bima istrinya yang tengah berbadan dua bertambah seksi berkali-kali lipat, menggugah pusat tubuhnya berdenyut seketika. Terlebih lagi di pagi hari, hanya melihat bokong seksi sang istri yang tertutup baju pun bukti gairahnya bangkit seenak jidat. Sungguh murahan!


Mereka sarapan bersama, dengan Bima dan Viona yang duduk berjauhan di meja makan besar itu. walaupun berjauhan jaraknya, suasana mereka makan bersama tetap terasa hangat.


*****


Celemek sudah dipakai dengan pisau di tangan. Siang ini Bima sedang berada di dapur dan menatap kebingungan pada seikat kangkung. Dia lebih terbiasa memegang macbook sambil mengurus grafik saham perusahaan, atau menyusun rencana kerja untuk memenangkan tender dalam berbisnis. Akan tetapi, sekarang ini demi istrinya yang tengah mengidam Bima terdampar di dapur.


Dari hari ke hari masa-masa kehamilan Viona dipenuhi berbagai macam warna yang terkadang membuat dunia Bima jungkir balik dengan keinginan aneh istrinya. Mulai dari baju bola, menonton acara sepak bola di televisi, menyaksikan balapan motor, makan ini dan itu, serta hal-hal tak terduga lainnya salah satunya yaitu tak bisa terlalu berdekatan dengannya.


Sebagai suami siaga, Bima selalu berusaha memenuhi apapun keinginan Viona, apapun itu yang membuat Viona nyaman dan bahagia Bima akan memenuhinya. Di kesempatan kedua ini, ia ingin menebus masa-masa yang hilang dulu, ingin membasuh rasa bersalah dan penyesalannya menggunakan kemurnian pengabdian cinta setulus hatinya.


Seumur hidupnya Bima belum pernah memasak cah kangkung. Walaupun terbilang hidangan sederhana dan tak rumit dalam membuatnya, tetap saja Bima seperti diminta untuk melakukan uji nyali. Berkutat di dapur terhitung hanya beberapa kali saja dalam hidupnya dan itu pun hanya untuk sekadar membuat kopi. Ia pernah memasak sekali seumur hidupnya ketika mencoba membuat sarapan roti bertahun-tahun yang lalu dan itu pun berakhir gosong.


“Tuan, bagaimana kalau saya bantu?” tawar salah satu asisten rumah tangga yang merasa gregetan melihat majikannya memegang pisau dengan kaku ditambah ekspresi kebingungan sembari menatap penuh beban pada seikat sayuran hijau di meja dapur.


“Tidak usah, aku akan membuatnya sendiri,” jawabnya mantap penuh keyakinan kendati tidak sepenuhnya.


Bima memutuskan membuka laman youtube untuk menonton tutorial memasak cah kangkung bagi pemula. Kepalanya manggut-manggut sambil memerhatikan secara saksama. Setelah video selesai diputar, Bima memulai aksi memasak cah kangkung perdananya.


Pertama-tama dicucinya kangkung tersebut di air mengalir. Lalu dengan gerakan kaku ia menyianginya hampir memakan waktu dua puluh menit lamanya. Setelahnya beralih menyiapkan bumbu. Mengiris bawang putih juga bawang bombay dalam ketipisan presisi. Tak lupa cabai merah keriting diiris tipis sesuai permintaan wanita hamil tersayangnya.


Bunyi minyak panas berpadu bawang-bawangan yang ditumis berdendang di seantero dapur. Ekspresi Bima tampak horor menyaksikan minyak menyiprat saat ia memasukkan bumbu lainnya untuk ditumis bersama. Bahkan ia memberi jarak antara dirinya dengan wajan sejauh mungkin, hanya tangannya saja yang telurur dekat ke wajan sambil memegang spatula. Para pelayan melipat bibir menahan senyum, mereka memilih berlalu dari dapur membiarkan sang tuan menyelesaikan karyanya.


Tibalah saatnya si kangkung masuk bergabung ke wajan. Bima kembali memutar video di ponsel yang dipegangnya menggunakan tangan kirinya, sementara tangan kananya sibuk mengaduk. Saus tiram, sejumput garam dan sedikit gula pasir dibubuhkannya dengan hati-hati. Air mukanya tampak tegang dengan mata yang terus melihat bergantian ke arah wajan juga layar ponsel. Akhirnya usahanya memasak kali ini berhasil, si kangkung tak bernasib naas seperti si roti gosong beberapa tahun lalu.


Titi-titik keringat berembun di dahi Bima, efek dari rasa tegang juga gerah. Ia tersenyum senang akan hasil karya perdananya dan segera menuangnya ke atas piring saji.


Viona yang mencium bau harum sedap aroma cah kangkung berbinar antusias. Ia langsung menoleh begitu derap langkah dari arah dapur mendekat ke arahnya.


“Sayang, pesanannya sudah jadi,” ucapnya riang gembira. “Kutaruh di sini ya.” Bima meletakkan piring yang dibawanya ke atas meja makan. Ia segera menyingkir cukup jauh dari Viona, tetap menguatkan diri untuk menjaga jarak kendati sulit.


Viona tersenyum senang dan menatap haru pada suami tampannya yang kini berkeringat dengan celemek yang masih dipakainya. “Makasih, Ayah. I love you,” ucapnya mesra yang dibalas Bima dengan fly kiss tak kalah mesranya.


Sepiring cah kangkung pedas itu dilahap hingga ludes. Viona seperti orang kelaparan, piringnya bersih tak bersisa, bahkan kuahnya pun benar-benar surut.


Bima tersenyum puas, merasa berhasil memenuhi keinginan ngidam Viona, seperti yang selama ini diidam-idamkannya.


Tak berselang lama, dari arah depan rumah terdengar suara riuh beberapa mobil yang datang. Bima segera memeriksa, ternyata mertua dan orang tuanya yang datang.


Mereka datang untuk berembuk dan membahas acara syukuran empat bulanan kandungan Viona yang sebentar lagi menjelang. Tidak seperti dulu yang acuh tak acuh, justru kini Bima begitu antusias dan langsung menyetujui usulan para orang tua. Ingin memberikan yang terbaik bagi si jabang bayi, meski janin di dalam rahim istrinya seolah memusuhinya.