Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Getaran Jiwa



Laksana ladang kering kerontang yang didera kemarau panjang, lalu tiba-tiba datanglah air hujan yang mengguyur tumpah ruah, terjatuh dengan lembut menari-nari seirama. Setiap tetesannya menciptakan melodi indah yang saling berpadu mengalunkan suara-suara alam nan merdu dan syahdu.


Viona terkesiap, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, memukul rongga dadanya, bertalu-talu dengan hebatnya.


Aku mencintaimu.


Dua kata itu mampu membumbungkan segala asa yang ada di hatinya hingga menyentuh langit, menggoda harapan-harapan kecil yang baru berbentuk benih di sanubarinya ingin segera tumbuh subur dan menjulang kokoh.


Mereka memang menikah karena perjodohan, mungkin pasangan lain yang menikah dijodohkan tanpa cinta, akan menolak untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri untuk melayani suaminya.


Namun, bagi Viona ikatan pernikahan bukanlah suatu permainan, bukan hanya tentang simbol cincin yang melingkar di jari manisnya, bukan hanya sekedar surat nikah yang ditanda tangani dan dipamerkan di khalayak umum, tetapi itu adalah ikatan sakral dan juga janji suci di hadapan Sang Pencipta.


Melayani suami adalah kewajiban yang harus ditunaikannya sebagai seorang istri dalam ikatan pernikahan, dan Bima sebagai seorang lelaki normal sudah pasti mengikuti insting serta naluri alamiahnya, terlebih lagi kepada wanita yang sudah halal untuknya walaupun awalnya tak ada cinta di antara mereka.


Seiring berjalannya waktu, sampailah Bima di titik ini, mengungkapkan hal yang tak pernah Viona dengar dari laki-laki manapun. Walaupun pada awalnya hanya fisik mereka saja yang bertaut, tetapi lama kelamaan jalinan raga itu membuat hati mereka pun ikut terpaut.


"Aku ... aku pun tak tahu rasanya jatuh cinta itu seperti apa. Selama ini yang kupikirkan hanyalah bagaimana berusaha untuk menjadi istri yang berbakti pada suaminya. Setiap kali Mas bersikap manis padaku, aku merasakan hatiku digelitik oleh rasa asing yang mampu membuatku berbunga-bunga dan bahagia tak terkira. Akan tetapi, setiap kali_" ucapannya tertahan, Viona menghela napasnya panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.


Bima ikut meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Viona yang berada di dada. Sorot matanya memancarkan rasa bersalah yang kental.


"Aku adalah laki-laki bodoh. Entah dengan cara seperti apa aku harus meminta maaf padamu atas sikapku yang telah melukaimu. Apakah kamu menyesal menikah denganku?" tanyanya dengan suara berat penuh beban.


"Tidak, tidak pernah terbesit sedikit pun aku menyesali pernikahan kita. Sejak awal aku sudah menerima takdirku berjodoh denganmu, Mas. Dan aku ikhlas menunaikan segala kewajibanku sebagai seorang istri," jelasnya penuh pemakluman.


"Aku merasa tidak pantas menjadi suamimu, maafkan aku," desah Bima parau seraya tertunduk dalam.


"Sudah kumaafkan. Bahkan jauh sebelum Mas meminta aku sudah memaafkan." Viona berujar lembut menenangkan dan perlahan Bima kembali mengangkat wajahnya.


Viona meraih kedua tangan Bima dan menggengamnya. "Apakah yang kurasakan ini adalah rasa cinta juga? Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Awalnya, yang selama ini kulakukan dalam binaan rumah tangga ini hanyalah semata-mata karena kewajibanku sebagai seorang istri. Akan tetapi, entah apa penyebabnya, aku selalu merasa bahagia saat berdekatan denganmu dan merasa sakit saat diabaikan olehmu, Mas."


"Di kesempatan ini, bolehkah aku menyatakan apa yang kurasa? Mas Bima, aku pun mencintaimu, sangat mencintaimu. Kamu adalah lelaki pertama yang masuk ke dalam hidupku selain ayahku. Yang pertama kali menyentuh ragaku, yang pertama kali membuat hatiku perih, yang pertama kali menyentuh hatiku, dan juga lelaki pertama yang membuatku jatuh cinta. Bagiku, Mas adalah yang pertama, dan kuharap juga yang terakhir, seumur hidupku, tak ada yang lain."


Viona mulai berkaca-kaca, ucapannya sedikit tersendat karena menahan air mata haru yang mendesak di bola matanya dan menyumpal tenggorokannya.