Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Naraku



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


*****


“Kamu! Berani-beraninya kamu muncul di sini!” Abdul luar biasa geram.


Viona ikut tersentak mendapati orang tuanya berada di rumahnya dalam situasi yang tak terduga. Rima juga tak menyangka tiba-tiba bertemu Bima, secepat kilat ia memegangi Abdul yang dilanda emosi. Lalu perhatiannya teralihkan pada sang cucu yang terlelap di gendongan Bima.


“Sebaiknya bawa Nara masuk ke kamar dulu,” titah Rima, sedangkan Abdul tampak berapi-api.


Viona tergesa menunjukkan kamar Nara dan Bima segera merebahkan putri kecilnya di tempat tidur. Mereka segera kembali ke ruang tamu, Viona duduk di samping Rima sedangkan Bima masih berdiri dengan wajah menunduk. Untuk beberapa saat hanya keheningan yang menghujam diantara mereka, sebelum akhirnya Abdul bersuara.


“Apa yang kamu lakukan di sini? jangan ganggu Viona lagi, cepat pergi!” seru Abdul penuh amarah.


“Saya hanya ingin bertemu Nara,” sahut Bima lirih.


“Nara tak membutuhkanmu, kamu tak hadir saat dia tumbuh. Lagipula sudah ada Arjuna yang selalu ada untuknya selama ini. Juga jangan mengganggu Viona lagi karena sekarang sudah ada lelaki yang tulus menyayanginya, tidak seperti kamu yang menyia-nyiakannya. Kamu tak dibutuhkan lagi Bima!” Abdul masih dilanda kemarahan yang teramat sangat kala melihat sosok lelaki yang melukai hati putrinya.


“Yah.” Rima bermaksud mengingatkan agar Abdul mengontrol emosinya namun Abdul tak menghiraukan.


Bima tiba-tiba berlutut, bersimpuh di lantai dekat kaki Abdul. Hatinya sungguh nelangsa mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Abdul, akan tetapi memang begitulah kenyataannya. Ia juga tak menyangka ternyata Juna sudah mendapatkan dukungan penuh dari Abdul, lalu apakah dirinya masih memiliki kesempatan?


“Maafkan saya, Om. Saya memohon ampun atas segala kesalahan yang telah saya lakukan pada Viona, penyesalan seumur hidup pun takkan cukup untuk menebus semua luka yang saya torehkan di hatinya. Jika memang Viona memilih begitu saya rela asalkan dia bahagia. Tapi saya mohon, izinkan saya tetap bertemu dengan Nara, izinkan saya tetap menyayangi darah daging saya sendiri,” mohon Bima parau, sudut matanya tampak menggenang, rasa pilu terasa bergulung di tenggorokannya yang tercekat.


Amarahnya memuncak. Abdul bangkit dari duduknya dan menampar Bima sekuat tenaga. Viona bahkan berjengit kaget akan reaksi ayahnya dan Rima pun bereaksi sama.


Namun, suara jeritan anak kecil mengalihkan mereka, rupanya Nara terbangun karena keributan di ruang tamu. Bocah kecil itu tadi terbangun lalu mengintip dari celah pintu, tetapi kemudian Nara langsung menjerit begitu melhat Abdul melayangkan tangannya.


“Jangan pukul Om Beruaaaang,” jerit Nara yang berlari menghambur memeluk Bima. Wajah bocah itu bahkan sudah memerah disertai dada kembang kempis. “Kakek jangan pukul Om Beruang!" jeritnya lagi.


Abdul menurunkan tangannya yang asalnya hendak melayangkan kembali tamparannya. Viona ikut bangkit dan bermaksud mengambil Nara yang tengah memeluk Bima dengan erat.


“Nara. Masuk kamar!” bentak Viona sambil menarik lengan Nara.


“Nggak!” Bocah itu menggeleng, sudut bibirnya tertarik ke bawah, bola mata jernihnya berkaca-kaca.


Bima yang tak menyangka akan reaksi buah hatinya tak mampu membendung lagi air matanya, rasa haru menyeruak begitu hebatnya. Ia merengkuh bocah yang memeluknya, penyesalannya semakin menggunung, pernah salah mengambil keputusan sehingga kini mereka tercerai berai.


“Nara dengar kan kata Bunda hmm? sekarang masuk kamar ya,” bujuk Bima lembut.


“Kenapa Kakek mukul Om Beruang?” tanya bocah itu dengan bibir mencebik yang sepertinya marah terhadap Abdul.


“Om nakal jadi dipukul,” Jawab Bima sambil mengulas senyum dan mengusap pipi Nara.


“Nara kan anak baik, sekarang masuk kamar ya sama Bunda, keluarga beruang pengen main sama Nara katanya,” bujuk Viona lagi, kini dengan nada lembut tak membentak seperti tadi.


Setelah dibujuk beberapa saat, akhirnya bocah itu mengangguk. Viona segera membawanya masuk ke dalam kamar meninggalkan Bima bersama orang tuanya di ruang tamu.