
Mobil hitam mengkilap itu dipacu menuju ke rumah sakit terdekat. Sementara Viona diperiksa di UGD, Juna segera mengabari Abdul dan Rima. Mereka sangat terkejut, baru saja putrinya itu mau kembali melihat dunia luar, tetapi kini malah berakhir di rumah sakit.
Juna mondar mandir di selasar UGD sembari sesekali menyugar rambutnya gusar, dia luar biasa panik juga merasa bersalah karena telah mengiyakan ajakan Viona mengunjungi rutan, jika saja tadi mampu menolak, mungkin hal ini takkan terjadi.
“Keluarga Nyonya Viona?” Seorang perawat keluar dari pintu UGD, memanggil sambil mengedarkan pandangan di selasar tersebut.
“Saya keluarganya.” Juna mengangkat sebelah lengannya tinggi-tinggi dan bergegas menghampiri perawat tersebut.
“Dokter menyarankan agar Nyonya Viona dirawat inap. Asam lambungnya meningkat drastis, juga tekanan darahnya sangat rendah. Jika dirawat di rumah sakit pemulihannya akan lebih cepat dibandingkan dengan berobat jalan,” jelas si perawat.
“Lakukan yang terbaik. Lakukan sesuai saran dokter. Apakah sekarang Viona sudah siuman?” Juna bertanya berbalut kecemasan yang nyaris mencekiknya. Bagaimana tidak, Viona adalah wanita yang selalu bersemayam di hatinya, melihat kondisinya yang semakin merapuh, jiwanya ikut merasa sakit.
“Tadi sempat sadar sebentar, tapi karena obat yang diberikan mempunyai efek mengantuk, sekarang pasien sedang tertidur.”
Juna membuang napasnya lega hingga dadanya ikut kembang kempis. “Syukurlah,” ucapnya seraya mengusap wajahnya.
“Jadi, istri Anda mau dirawat di ruangan apa, Pak?”
“Ah… dia bu_,”
Belum sempat Juna melanjutkan kalimatnya, si perawat terlanjur menyela. “Ruang perawatan yang tersisa tinggal ruangan super VVIP karena kebetulan pasien sedang membludak.
“Berikan fasilitas terbaik di rumah sakit ini untuk merawatnya, dan tuliskan nama saya sebagai penganggung jawab."
Abdul dan Rima tiba di rumah sakit yang disebutkan Juna sekitar setengah jam dari waktu Juna menelepon. Rima tak bisa menahan airmatanya semenjak berangkat dari rumah, wanita itu terisak, Viona adalah anak satu-satunya, permata hatinya, dia sangat takut terjadi hal buruk pada putrinya.
“Juna, Viona kenapa?” seloroh Abdul, tubuhnya tampak lunglai lantaran dihantam keterkejutan.
“Kita duduk dulu Om, Tante.” Juna mengajak mereka untuk duduk di sofa yang terdapat di ruangan itu. “Ini semua salah saya yang tidak bisa menjaga Viona, maaf,” ucap Juna penuh sesal.
“Sebenarnya apa yang terjadi, coba ceritakan?” pinta Rima.
Diceritakannya semua secara terperinci kepada Abdul juga Rima, hanya saja tentang penyebab Viona pingsan Juna tidak mengetahuinya dengan pasti. Ia juga menjelaskan tentang hasil pemeriksaan dokter hingga menyarankan Viona dirawat inap.
“Om sudah melarangnya menemui Bima. Tapi dia tetap nekat. Entah apa yang dilakukan Bima hingga membuat Viona jatuh pingsan!” Abdul tampak geram. “Terima kasih banyak, Juna. Kamu sudah bergerak cepat membawa Viona ke rumah sakit. Maaf jadi merepotkanmu.” Abdul menepuk-nepuk bahu Juna.
“Sama sekali tidak, Om. Jangan sungkan,” sahut Juna tulus.
“Sebaiknya sekarang kamu pulang dan beristirahat, biar sekarang Om yang menunggui Viona. Ibu juga pulang saja bersama sopir, kasihan Nara kalau harus tidur dengan pengasuh.”
Rima sebetulnya enggan untuk pergi, akan tetapi ia juga tak tega jika meninggalkan Nara semalaman hanya dengan pengasuh. “Jaga putri kita baik-baik Yah, kalau ada sesuatu segera hubungi Ibu.” Rima menghampiri ranjang sebelum pergi, mengusap kepala sang anak dan mengecup keningnya. “Segera sembuh, Vi. Besok ibu datang lagi.”
Setelah Rima undur diri, Juna masih terdiam tak beranjak dari tempat duduknya. Kemudian dia berdehem seperti hendak mengatakan sesuatu.
“Om, bolehkah… saya tetap di sini? saya juga ingin ikut menjaga Viona, kita bisa saling membantu bergiliran menjaganya, lagipula besok saya libur bekerja,” pintanya penuh harap.
Abdul termenung sejenak, kemudian menatap lekat wajah menawan lelaki muda di hadapannya yang tampak tulus tak mengada-ada. “Baiklah. Silakan kalau tak merepotkan. Sekali lagi terima kasih.”