Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Salmon Panggang



Malam ini, Viona memakai gaun yang begitu serasi dengan outfit yang dipakai suaminya, Nara juga terlihat lucu menggemaskan memakai baju rancangan sang bunda, gaun cantik nan indah tak ubahnya pakaian para putri karakter Disney.


Kali ini Viona memakai dress putih di bawah lutut berlengan pendek yang dihiasi pita manis di samping pinggangnya. Sedangkan Bima memakai kemeja putih rancangan Rumah Mode Tom Ford dipadu celana warna khaki dengan gesper dan jam tangan senada, begitu juga sepatunya.


Juna sudah datang terlebih dahulu dan menunggu. Ia melambai ketika melihat Bima sekeluarga memasuki restoran. Nara berlari-lari kecil, sedangkan ayah dan bundanya berjalan santai. Gadis kecil itu memeluk Juna diiringi celotehan riangnya.


"Uncle Juna, Nara cantik nggak pakai baju ini?" tanya bocah lucu itu sambil memutar-mutar badannya centil. "Kayak putri Disney kan? ini buatan Bunda."


"Cantik banget, lebih cantik dari putri Disney malah," jawab Juna sambil bertepuk tangan. Untuk sesaat Juna terdiam dengan mata tak lepas menatap Nara yang sedang berceloteh di hadapannya.


"Nara kenapa manggilnya Uncle?" Juna tiba-tiba bertanya saat menyadari panggilan Nara padanya berganti.


"Iya, Bunda bilang harus manggilnya Uncle biar sopan. Soalnya kata bunda, Uncle bukan Papinya Nara. Nggak sopan kalau manggilnya Papi," sahutnya polos.


Raut muka Juna menyendu. Dulu dia pernah berangan-angan akan menjadi ayah dari Nara meskipun hanya ayah sambung. Namun, takdir berkata lain. Wanita pujaan dan bocah lucu ini kini kembali ke tempat seharusnya. Yang dikatakan Viona pada Nara memang benar juga, lagipula ia akan merasa tak nyaman terhadap Bima jika kini Nara masih memanggilnya Papi.


Bima dan Viona menyapa Juna ramah. Mereka mengambil tempat duduk masing-masing di meja berbentuk bundar itu sementara Nara duduk di kursi yang lebih dekat dengan Juna. Bima tak mempermasalahkannya sama sekali, karena bagaimanapun juga Juna pasti memendam rindu pada Nara, mengingat dulu mereka sering berinteraksi bersama.


"Tumben ngundang makan malam? Pasti ada hal penting?" ujar Viona setelah selesai memesan menu.


"Iya kamu benar." Juna tersenyum getir. "Aku hendak berpamitan pada kalian. Dua hari lagi aku akan pindah ke Jakarta dan mengelola perusahaan cabang papiku yang ada di sana. Perusahaanku di sini sudah beralih pemilik. Jadi sebelum pindah ke Jakarta, aku ingin bertemu kalian dulu, dan tolong sampaikan maafku juga salamku untuk ayahmu, Vi."


Viona dapat menangkap gurat kesedihan di wajah Juna juga dari nada bicaranya. Ia memaklumi, Juna pasti sedang bersedih saat ini, perusahaan yang dibangunnya kini harus direlakan bukanlah hal yang dapat diterima dengan mudah.


"Semoga di Jakarta, kamu bisa menjadi lebih baik lagi dalam segala hal. Jika berkunjung ke Bandung jangan lupa mengabari. Aku juga ingin berterima kasih atas semua yang sudah kamu lakukan untukku dan Nara selama ini. Aku memang takkan mampu membalasnya, hanya bisa mendo'akan semoga Allah membalas kebaikanmu dengan ribuan kebaikan lainnya yang berlimpah ruah untukmu," ungkap Viona penuh ketulusan.


"Semoga sukses selalu. Pengalaman adalah guru terbaik. Kamu pasti bisa menjadi lebih baik lagi, aku percaya akan kemampuanmu." Bima ikut menyemangati.


"Ini hidangan utama pesanan Anda, Nyonya."


Pramusaji meletakkan piring berisi salmon grill dengan saus spesial yang terbuat dari bumbu-bumbu rahasia. Viona sangat menyukai olahan Ikan Salmon di restoran ini, terlebih lagi yang dipanggang. Bumbunya meresap sampai ke dalam dengan bagian luar garing namun tekstur daging ikan di dalamnya tetap lembut dan juicy.


Mereka tak lupa membaca do'a bersama sebelum menyantap hidangan masing-masing. Semua memulai dengan mencicipi menu pembuka yaitu sup krim jagung spesial dengan isian daging dan campuran sayuran lainnya yang dibumbui rempah pilihan sehingga menghasilkan aroma juga citarasa luar biasa sedap menggugah selera.


Sejak tadi Viona sudah tak sabar ingin mencicipi hidangan utama. Ia hanya makan dua suap sup jagungnya kemudian menggeser mangkuknya, menarik piring berisi salmon panggang lebih dekat dan mulai memakannya.


Mendadak saja, makanan yang biasanya sangat lezat ketika lidahnya mencecap kini malah menebarkan sensasi aneh di mulut ketika dikunyah, begitu mengganggu saat ditelan, dan langsung bergolak tak nyaman di lambungnya begitu makanan tersebut mendarat.


Viona menaruh garpu. Meneguk sedikit air putih yang sudah disediakan di meja untuk membasuh mulutnya, berharap dapat meredakan rasa tak nyaman yang melandanya.


Lama kelamaan rasa menganggu itu makin merambat. Viona merasa sudah tak mampu menahannya lagi dan tanpa basa basi berlari menuju toilet dengan tangan menutup mulutnya karena makanan dari lambungnya mendesak naik ke kerongkongan menciptakan rasa mual yang hebat.


Viona hampir menabrak beberapa pengunjung yang datang dari arah berlawanan. Ia bahkan menubruk pintu toilet dan langsung muntah hebat di salah satu bilik di dalamnya.


Bima dan Juna ikut tersentak kaget karena Viona pergi meninggalkan meja terburu-buru. Bima menaruh sendok dan garpunya, segera berlari menyusul Viona ke arah toilet.


Ia mondar-mandir di depan pintu toilet wanita sambil terus melirik pintu tersebut. Inginnya menerjang masuk, tetapi jika nekat maka dirinya akan dianggap sebagai lelaki cabul lantaran menerobos toilet wanita. Ia memilih bersabar menunggu di luar kendati kini rasa sabarnya mulai menipis terkikis rasa cemas.


Sepuluh menit berlalu barulah Viona keluar dari sana dengan wajah memucat, tubuhnya tampak sempoyongan, ia bahkan berpegangan di dinding untuk menopang diri agar tidak terjatuh.


Bima segera merangkul dan memapahnya begitu Viona muncul dari balik pintu. Ia makin diserbu rasa khawatir. Di benaknya timbul berbagai macam pertanyaan. Apakah sebenarnya istrinya menjadi aneh lantaran mengidap penyakit berbahaya yang disembunyikan darinya?