
Viona segera berbenah, hanya barang-barang yang dirasa penting saja yang dikemasnya dari keseluruhan barang yang mereka bawa ketika datang berlibur, selebihnya dibiarkan begitu saja oleh Viona karena jika harus dibenahi semuanya ia berpacu dengan waktu.
Si pemuda anak laki-laki dari pasangan pengurus villa datang sesegera mungkin sesuai permintaan orang tuanya. Ia mengangkut satu persatu barang-barang bawaan Viona ke dalam mobil, sementara Viona meraup Nara yang masih tertidur ke dalam gendongan bayi yang tersampir di pundaknya.
“Mbak, masih ada yang mau diangkut,” tanya laki-laki muda itu kepada Viona.
“Udah cuma segitu kok. Tapi saya butuh bantuanan untuk memapah suami saya yang sedang sakit ke dalam mobil, bolehkah?” pinta Viona penuh harap.
“Boleh Mbak, di mana suaminya?”
Viona membimbing pemuda itu ke ruang tamu, tampaklah di sana Bima yang tergolek di atas sofa dengan kondisi semakin menggigil, bahkan tubuhnya terlihat berguncang hebat.
“Mas… Mas Bima, ayo kita pulang Mas. Maaf tak meminta persetujuanmu, tapi aku takut sakitmu semakin parah,” Viona mengguncang lembut bahu Bima, tetapi sepertinya pria jangkung itu bahkan hampir kehilangan kesadarannya. Matanya nyaris mendelik ke atas serupa orang sekarat membuat Viona dilanda kepanikan yang semakin menjadi dan desakan air bening di pelupuk matanya jebol tak tertahan lagi.
“Mas, sebenarnya kamu sakit apa Mas, hiks… hiks….” Viona menangis ketakutan. Begitu pula dengan si pemuda yang hendak membantu Bima ikut terkejut melihat kondisi Bima yang tak biasa.
“Tolong, tolong bawa suami saya ke mobil, kita harus cepat,” seru Viona sembari mengusap kasar air mata yang membasahi pipinya menggunakan punggung tangannya.
Mobil Range Rover warna silver milik Bima segera melaju keluar dari villa, si pemuda itu mengemudikan mobil tersebut secepat yang ia bisa sesuai permintaan Viona. Namun, karena terkendala jalan rusak Viona harus lebih bersabar ditengah-tengan kekhawatiran yang menyerbunya tanpa ampun. Bima terus meracau tak karuan, dan Viona hanya bisa menangis dengan Nara dalam dekapannya.
Sudah tiga jam perjalanan ditempuh, kira-kira satu jam lagi hingga tiba di pusat kota Bandung. Viona memutuskan mampir sebentar ke mini market membeli roti isi untuk mengganjal perutnya yang terasa perih akibat melewatkan sarapan.
Viona turun dari mobil masih dengan membawa putri kecilnya terayun dalam gendongan bayi. Sejak satu jam yang lalu Nara sudah terbangun, seolah mengerti dengan situasi ibunya yang sedang panik, bayi itu tak rewel sama sekali dan hanya sesekali minta disusui, setelah itu dia kembali menempelkan pipinya di dada Viona terdiam tak bersuara, hanya mata bulat dan jernihnya saja yang bergulir indah menatap ke arah jalanan.
Didorongnya pintu kaca minimarket oleh Viona dengan tergesa-gesa, melangkahkan kakinya masuk dan dengan cepat Viona mengambil beberapa makanan yang hendak dibelinya, lalu segera membawanya ke meja kasir ikut mengatri dengan para pembeli lain.
Tiba-tiba datanglah beberapa orang polisi memasuki minimarket. Suasana berubah sedikit mencekam, mereka bertanya kepada para pekerja di sana sambil menunjukkan selembar foto, Viona yang penasaran ikut bertanya kepada salah seorang polisi yang berdiri tidak jauh darinya.
“Ada kejadian apa ya Pak,” tanya Viona.
“Oh… begini, kami sedang mencari buronan kasus narkoba yang melarikan diri saat hendak ditangkap. Ini orangnya, barangkali Anda pernah melihatnya,” jawab polisi tersebut seraya menyodorkan selembar foto ke hadapan Viona.