
“Ayah, tolong jangan begini. Mereka adalah tamu kita." Rima memegangi suaminya yang tengah terbakar amarah, ia tetap mengingatkan untuk memperlakukan tamu dengan adab yang semestinya meskipun sejujurnya dia juga merasa kecewa.
“Pak Abdul, kami ke sini hendak memohon maaf. Kami sama sekali tak pernah bermaksud menipu seperti yang anda tuduhkan,” sahut Annisa terbata. Ketika Viona di rumah sakit mereka sempat datang ingin menemui, tetapi Abdul berpesan kepada pihak rumah sakit supaya tak mengijinkan siapapun datang kecuali Ibel.
“Lalu apa namanya kalau bukan menipu? menyembunyikan kenyataan bahwa putra kalian adalah seorang pecandu itu sama saja dengan menipu kami! Kujodohkan putriku satu-satunya untuk dipersunting, dibimbing membangun keluarga. Tapi, putra kalian malah menyeretnya dalam pusaran nista bahkan membawanya kabur terlunta-lunta dalam pelariannya hingga Viona jatuh sakit. Orang tua mana pun takkan rela anaknya mengalami hal seperti itu!" seru Abdul berapi-api.
“Maafkan kami. Kami mengira Bima sudah tak lagi menyentuh barang haram itu. Dia sudah lama berhenti dan sembuh, maka dari itu kami mencarikannya pendamping,” terang Malik penuh penyesalan.
“Sudah cukup. Aku takkan membiarkan semua ini semakin berlarut. Keputusanku sudah bulat. Viona, sebaiknya kamu gugat cerai suamimu secepatnya!” Abdul segera berlalu masuk ke kamarnya setelah menyemburkan amarahnya.
Semuanya mematung. Air bening meluruh dari sudut mata Viona, hatinya nyeri mendengar ayahnya menyuruhya bercerai dengan Bima. Bima memang bersalah, tetapi bagaimanapun lelaki itu adalah ayah dari anaknya. Dia ingin Bima sembuh, kembali berkumpul dengannya dan juga Nara bukan berpisah dengannya.
Ia terhenyak, dengan kaki lemahnya disusulnya Abdul ke kamarnya, tetapi pintunya terkunci dari dalam. Viona menggedor-gedor pintunya dari luar. “Ayah tolong, kumohon jangan begini… Ayah buka pintunya, aku nggak bisa bercerai dengan Mas Bima. Tolong jangan begini.” Viona terisak dan luruh ke lantai.
Juga saat tatapannya beralih pada Annisa, betapa besan perempuannya itu tampak kacau, sebagai sesama seorang ibu sudut hatinya tersentuh. Sudah pasti tak ada ibu manapun di dunia ini yang ingin anaknya terjerumus ke dalam lubang hitam menyesatkan.
Rima menyusul, membantu Viona berdiri dan membawanya duduk di sofa bersebelahan dengan Annisa, dia berusaha menenangkan putrinya yang tampak terguncang sama halnya dengan orang tua Bima.
“Bu, aku ingin Mas Bima sembuh, bukan berpisah dengannya. Nara butuh ayahnya Bu. Tolong aku Bu,” lirihnya terisak.
Annisa yang mendengarnya semakin deras menangis, setelah apa yang dilakukan Bima ternyata Viona masih ingin mempertahankan biduk rumah tangganya, dia ikut merasa bersalah kepada Viona karena merasa tak mampu membentuk putranya menjadi sosok suami yang layak bagi seseorang sebaik menantunya.
“Ayah hanya sedang emosi. Setelah kemarahannya mereda, Ibu yakin Ayah tak bermaksud begitu.” ucap Rima menenangkan dengan mata berkaca-kaca, dia mengusap wajah basah putrinya yang semakin hari semakin kurus.
“Terima kasih, Nak. Terima kasih karena tak membenci Bima,” ucap Annisa yang duduk di sebelahnya. Sementara Malik menunduk dalam tak mampu berkata-kata. Jika di posisi Abdul mungkin dirinya pun akan sama marahnya.