Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Saling Mendamba



Hana sengaja berlama-lama meninggalkan mereka. Ia malah duduk-duduk santai di restoran, mengunyah kudapan ringan ditemani segelas milkshake blueberry favoritnya sambil membuka laman biro jodoh dari ponselnya.


*****


“Lemaskan tanganmu Vi, jangan kaku begini.”


Bima menangkupkan kedua telapak tangannya melingkupi jemari lentik Viona yang memegang stik golf. Wanita cantik berbaju putih itu menelan ludahnya susah payah berusaha meredam detakan jantungnya yang seperti genderang saat kulit mereka saling bersentuhan erat.


Viona bertanya-tanya dalam hati. Ini bukan pertama kalinya mereka bersentuhan bukan? Empat tahun silam saat masih berstatus suami istri, keduanya pernah bersentuhan lebih dalam dari ini bukan? Namun, kenapa kini terasa berbeda? Lebih mendebarkan hingga menciptakan desiran hebat bak badai topan di seluruh aliran darahnya.


Bima pun merasakan hal yang sama, dadanya membuncah-buncah. Bisa berada dalam jarak sedekat ini dengan sosok yang setiap malam dirindukannya membuatnya bahagia tiada tara. Ia menghidu rakus kehangatan dan harumnya tubuh mungil di dekapannya, bukan hanya debaran jantung berirama indah yang tercipta, tetapi juga rasa nyaman dan tentram menyapu seluruh jiwa.


“Wow… bolanya terpental jauh, Mas. Tipsnya benar-benar berguna.” Viona begitu gembira nyaris bersorak.


“Mau mencoba lagi? Kita lihat sejauh mana pukulan kali ini,” ajak Bima bersemangat.


“Tentu saja, aku sudah lama tak memukul bola, rasanya menyenangkan.” Padahal penyebab yang membuatnya senang luar biasa bukan karena pukulannya jauh, akan tetapi karena seseorang yang mebimbingnya memukul bola.


“Ayo, pukul lagi. Ikuti seperti instruksiku tadi,” ucap Bima.


Bima berkata tepat di sisi wajah Viona, membuat embusan napas hangat juga aroma mint itu menerpa pipi mulus Viona dan membuatnya merona begitu saja, posisi ini begitu intim, begitu mesra.


Sedari tadi, Bima tak melepaskan Viona dari dekapannya, keduanya enggan berjauhan, saling merindukan dan membutuhkan satu sama lain. Entah sudah berapa kali mereka memukul bola, seakan tak bosan mereka terus mengulanginya, padahal cuaca mulai terik karena matahari semakin merangkak naik.


Sudah hampir satu jam Bima dan Viona bermain golf bersama-sama. Tawa renyah lepas berderai begitu saja dari mulut Viona meski cuaca di lapangan cukup panas. Ia lebih mirip seperti remaja yang sedang naksir hanya saja gengsi mengungkapkan. Tanpa sadar sejak tadi mereka hanyut dalam suasana di alam lepas, bahkan mereka bercanda tawa bebas tanpa beban, begitulah cinta bekerja.


Ponsel di saku celana Bima berdering. Ia merogoh saku memeriksa pesan singkat yang masuk.


Sudah waktunya pulang Tuan. Jadwal bermain untuk hari ini sudah selesai. Anda harus bersabar dan tak terburu-buru agar kesimpulan yang didapat nanti hasilnya maksimal. Bilang aja aku sakit perut dan ingin pulang. Kutunggu di parkiran.


“Ehm… Vi. Maaf, aku harus pulang, Hana katanya sakit perut.” Bima mengusap-usap tengkuknya untuk meredakan kegugupannya ketika mencoba berakting.


“Ah, sayang banget ya, padahal cuaca hari ini sangat ideal untuk berlama-lama bermain golf. Sampaikan salamku buat Hana, semoga lekas sembuh” sahutnya berbasa basi, entah mengapa saat hendak menyebut nama Hana bibirnya terasa gatal ingin mengumpat.


“Hmm, makasih Vi. Aku pamit. “ Bima bergegas undur diri dari sana sesuai instruksi Hana, padahal ia masih ingin berlama-lama dengan Viona.


Tiba-tiba Viona merasa kehilangan. Membuang napasnya berat sambil menatap punggung Bima yang kian menjauh, membuatnya makin mendamba dekapan lelaki itu, sekali lagi.


*****


Jangan lupa bayar parkir ya my beloved readers, biar author makin semangat 😳😳. Berupa like, komentar dan vote seikhlasnya.


Bagi yang aplikasinya sudah di update, vote sekarang bukan hanya memakai poin dan koin melalui kolom hadiah saja, juga bisa vote dengan kupon mingguan untuk mendukung cerita kesayanganmu. Jangan lupa berikan dukungan melalui kolom hadiah dan vote kupon kalian untuk Mas Bima dan Viona, thank you all💕😘.