
Setelah penantian dan perjalanan panjang berliku, hari yang dinanti pun tiba. Hari di mana dua anak manusia yang sempat putus ikatan, akan menyambung kembali tali tersebut menjadi sebuah simpul. Simpul mati yang terikat kuat, berharap dan bersemoga agar simpul itu tetap kokoh hingga akhir hayat.
Viona sudah mengenakan baju pengantinnya. Gaun pengantin broken white hasil rancangannya sendiri dengan aksen berukat mewah pada desainnya. Gaun itu adalah gaun pernikahannya dengan Bima dulu. Ia memutuskan mengenakannya kembali. Baginya, itu bukan hanya sekadar gaun, tetapi juga ada kenangan dan cerita tersendiri di dalamnya, cerita berawalnya kisah dirinya dengan Bima.
Begitu pun dengan Bima. Ia mengenakan setelan dark grey yang dipakainya ketika mengucap ijab kabulnya dulu dengan Viona. Keduanya sama-sama ingin mengenang, hanya saja kini terasa berbeda karena mereka teramat sangat menginginkan ikatan suci ini. Sedangkan sebelumnya, mereka menikah atas dasar pemenuhan kewajiban terhadap perintah orang tua.
Viona begitu cantik dan anggun dalam balutan busana indahnya. Juga sapuan riasan wajah yang tak berlebihan membuat tampilannya semakin memesona.
Setelan yang dipakai Bima juga begitu pas membungkus raganya yang terbentuk sempurna dengan proporsi otot yang pas, dan kini tampak semakin bugar di usia matangnya berkat pola hidup sehat juga olahraga teratur yang diterapkannya beberapa tahun terakhir setelah mulai pulih dari ketergantungannya.
Nara dan nenek kakeknya memakai baju senada yang tak kalah menawannya. Hasil goresan sketsa Viona memang tak diragukan lagi, selalu memukau dan memuaskan.
Dekorasi ballroom didesain begitu elegan dan mewah, tetapi tak berlebihan. Konsep kekeluargaan dan suasana hangat yang diusung di acara pernikahan Viona dan Bima kali ini begitu kental terasa, mereka sengaja membuat konsep ini karena ingin pernikahan terasa lebih khidmat dan sakral, berbeda dengan pernikahannya dulu yang dihelat secara besar-besaran.
Para tamu sudah mulai berdatangan di ballroom hotel di mana pernikahan akan digelar. Dokter Arsyad dan Hana juga sudah tampak hadir, hanya Juna saja yang belum kelihatan batang hidungnya.
Viona sudah berada di tempatnya, menunggu sang pemilik hati datang untuk mengesahkannya sebagai pasangan hidup. Tak lama terdengar pengatur acara menyambut kedatangan pihak calon mempelai laki-laki. Viona memegangi dadanya yang bertalu kencang, begitu mendebarkan menunggu momen sakral itu terulang kembali.
Penghulu sudah bersiap di tempatnya. Bima dan Abdul sudah duduk saling berhadapan. Bima meremas tangannya yang dingin dan berkeringat, padahal ini adalah kali kedua dia akan mengucap ijab kabul.
Kali ini terasa sangat berbeda, begitu mendebarkan dengan kegugupan yang melingkupi. Mungkin itu efek dari rasa cintanya kini begitu besar pada si bunga indah yang mekar di hatinya, sedangkan dulu rasa itu belumlah bertumbuh subur layaknya sekarang.
Di balik tirai dekat pelaminan Viona menunggu dan mendengarkan dengan harap-harap cemas. Berdo’a semoga lelaki tercintanya diberikan kelancaran lisan dalam mengucap janji sucinya.
Diawali dengan basmalah dalam hati, Bima mengucapkan ijab kabul dari lisannya dengan lancar dalam satu tarikan napas, lantang penuh keyakinan. Semua menderaikan ucapan syukur, ditutup dengan do’a khidmat yang dipanjatkan, do’a terbaik untuk kedua mempelai serta seluruh keluarganya.
Pengatur acara memanggil Viona keluar dari tempatnya di balik tirai. Melangkah mendekat pada Bima yang kini kembali menjadi suaminya. Cincin pernikahan yang dulu sempat tersimpan kini kembali disematkan di jari masing-masing.
“Assalamualaikum, istriku,” ucap Bima parau sambil memegang tangan Viona.
“Wa’alaikumsalam, wahai imamku,” sahut Viona sambil mencium punggung tangan Bima penuh takzim. Suaranya tercekat disertai mata berkaca-kaca.
Rasa haru tak terbendung. Menyeruak hebat di antara keduanya. Bima mendekatkan wajahnya kemudian mengecup kening Viona dengan untaian rasa syukur yang bertasbih di kalbunya serta luapan cinta yang menggelegak, diiringi setitik kristal bening yang luruh dari sudut matanya.
“I love you, my wife,” bisik Bima serak.
“I love you more, husband," sahut Viona dengan senyum merekah juga netra mengkilap dihiasi air mata bahagia.
Jika wangimu saja bisa
Memindahkan duniaku
Maka cintamu pasti bisa
Mengubah jalan hidupku
Cukup sekali saja
Aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu
Kau tak terganti, kau yang selalu kunanti
Takkan kulepas lagi
Pegang tanganku
Bersama jatuh cinta
Kali kedua, pada yang sama
Sama indahnya
*****
Semua orang bersuka cita. Si kecil Nara kini menyela ingin duduk di pelaminan. Kendati bocah itu belum begitu paham dengan apa yang sedang berlangsung. Akan tetapi satu yang pasti, Nara sangat gembira, karena tadi ayahnya berjanji, bahwa mulai hari ini mereka tak perlu terpisah lagi.
Semua tamu dan keluarga sama-sama larut dalam sukacita. Tak lupa beberapa foto pun diambil sebagai kenangan.
Kecuali di sebuah sudut dekat pintu keluar yang tak terlampau terlihat. Seseorang enggan masuk dengan kartu undangan di tangan.
Ya, Juna hanya mampu berdiri di sana, mengamati dari kejauhan dengan sudut mata yang sedikit berair kemudian bergumam, "Berbahagialah selalu Vi. Semoga hal yang sama segera menjemputku.”