Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Sang Pimpinan



Terperangah dalam keterkejutan yang nyata. Itulah reaksi Yoga ketika melihat Bima duduk di kursi kebesaran pimpinan Sinar Abadi Grup. Ia mengucek matanya beberapa kali, memejam lalu membukanya lagi supaya lebih yakin akan apa yang ditangkap retina matanya.


“Ka-kamu. Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Yoga keheranan.


“Menurutmu?” Bima balik bertanya.


“Aha… aku tahu. Mungkin karena sekarang mantan napi ini tak punya pekerjaan dan tak dipercaya papamu lagi untuk mengelola perusahaan lantas bermain-main di singgasana pimpinan? Menyedihkan!” Yoga melipat tangan di dada dengan angkuhnya, tertawa mengejek sarat akan penghinaan.


“Ingatanmu luar biasa bagus. Terima kasih selalu mengingatkanku tentang titel itu, mantan napi. Hanya saja sayang sekali aku sedang tidak bermain-main di sini, ini memang kursiku,” jawab Bima santai sambil tetap melukis senyuman di bibirnya.


“Hahaha… hahaha….”


Terbahak-bahak seperti orang gila. Itulah yang terjadi pada Yoga kala mendengar jawaban Bima. ia tertawa sarkas hingga punggungnya berguncang nyaris terjengkang ke belakang laksana menonton adegan lucu di film komedi.


“Jangan membual, Bima.” Yoga berdecak menghina masih dalam ledakan tawanya seraya menggelengkan kepala. “Tidak mungkin Pak Malik membiarkanmu kembali memimpin perusahaan dengan status catatan hitam yang melekat padamu. Saranku, sebaiknya berhenti bermimpi di siang bolong!"


Yoga menggulirkan jemarinya mengusap dagunya sendiri dengan seringai menjijikkan. Bima masih duduk dengan tenang, tak terprovokasi akan makian Yoga padanya.


“Bagaimana kalau justru kamu yang sedang bermimpi, Yoga?” Bima bangun dari kursinya, memasukkan kedua tangan di saku celana lalu berjalan dengan langkah tenang memutari meja dan berdiri gagah di hadapan Yoga.


“Cih, bermimpi katamu? Aku sepenuhnya berada di dunia nyata! Tidak seperti dirimu yang bermain-main dengan singgasana papamu. Di mana Pak Malik sekarang? Beliau meminta bertemu denganku di sini, tapi yang kudapati malah si mantan napi.”


“Papaku ingin bertemu denganmu? Kamu yakin?”


“Tentu saja. aku hendak bertemu dengan pimpinan perusahaan Sinar Abadi Grup. Pak Malik sendiri yang memintaku untuk datang langsung ke ruangannya bahkan memberiku pelayanan spesial menggunkan lift eksekutif petinggi perusahaan ini. Kalau papamu tahu kamu bermain-main dengan singgasananya entah apa yang akan dilakukannya padamu,” cibir Yoga begitu puas.


“Mmm… begitu ya. Tapi apakah kamu yakin papaku yang meminta bertemu?” Bima menaikkan sebelah alisnya.


“Tentu saja. Resepsionis menyampaikan padaku bahwa pimpinan ingin bertemu langsung denganku,” sahutnya dengan pongahnya.


“Sudahkah kamu memeriksa siapa yang menduduki kursi pimpinan?” Bima kembali bertanya bertepatan dengan Adrian yang masuk membawa dua cangkir kopi.


“Pak Direktur, ini kopinya. Punya Anda kopi hitam tanpa gula dan yang ini untuk Pak Yoga saya buatkan kopi latte.”


“Terima kasih.” Bima berucap diiringi anggukan tipis.


Adrian membungkuk dengan sopan dan bergegas keluar dari ruangan itu. Sepersekian detik mendadak wajah Yoga memucat. Jakunnya tampak naik turun seiring gerakannya dalam upaya menelan ludah susah payah. Ia tampak mengatur napasnya yang tercekat, mencerna percakapannya sejak tadi dengan Bima juga ucapan Adrian barusan yang berkata begitu sopan pada Bima.


Apa itu tadi, Adrian memanggil Bima dengan sebutan Direktur? Nggak mungkin kan Pak Malik membiarkan anaknya si mantan napi kembali menjabat sebagai pimpinan di perusahaan sebesar ini? semua ini pasti lelucon!


Pikiran Yoga berkecamuk, ia terus saja menyangkal meski keyataan semakin terpampang nyata di depan matanya. Ia masih tak mau memercayai mata dan telinganya.


Mata Yoga membola membeliak karena terkejut. Dia memang tidak benar-benar memeriksa siapakah pimpinan Sinar Abadi Grup yang sekarang lantaran kalang-kabut dengan banyaknya pembatalan kerjasama. Yoga merasa lututnya ikut lemas. Dia datang ke sini untuk memohon menjalin kerja sama kembali. Akan tetapi apa yang dilakukannya barusan seperti tengah menjemput kehancuran bisnisnya sendiri.


Kesombongannya menguap seketika. Tanpa harga diri tiba-tiba dia berlutut setelah sebelumnya melempar makian pada sosok yang berdiri menjulang di hadapannya. Kedua telapak tangannya terjalin dan menggosok pelan.


“Ma-maafkan saya, Pak Direktur. Saya telah lancang bersikap tak sopan. Mohon Anda mengerti dengan situasi saya yang sedang dalam kesulitan.” Tanpa tahu malu ia memohon ampun setelah meludahkan cibiran, harga diri Yoga sepertinya sudah sejak lama terlempar jauh dari Bumi dan terdampar di planet-planet di luar sabuk asteroid sehingga tak mungkin menjangkaunya kembali.


“Wah wah wah… benar-benar hebat. Mulia sekali sikapmu? Tak sungkan meminta maaf setelah berbuat salah. Tapi kenapa aku tak merasakan ketulusan? Dan maafmu ini lebih mirip dengan gaya seorang penjilat, yang menghalalkan segala cara agar tujuannya terpenuhi. Bukankah yang seperti itu adalah sepak terjangmu, Pak Yoga?” Bima ikut berjongkok dan melempar senyum miring kepada Yoga.


“Apakah kamu yang melakukannya? Memutus kerjasama denganku?” Yoga tiba-tiba kembali berubah meradang, bangun dari posisinya berlutut dan menatap tajam.


“Ya, aku yang melakukannya. Lagipula Sinar Abadi Grup tak memerlukan mitra yang mempunyai niat terselubung hanya mendompleng nama besar kami. Kau pikir aku tidak tahu? Kamu menjual nama perusahaan ini demi kepentingan bisnis juga kepentingan pribadimu. Menutupi kebobrokan bisnismu berlindung di balik nama perusahaan ini,” tegas Bima dengan wajah datar.


Yoga mengepalkan tinjunya penuh amarah. Ia seakan lupa bahwa beberapa menit yang lau sempat berlutut dan memohon.


“Perusahaanku kini terpuruk juga akibat ulahmu yang membatalkan kerja sama secara tiba-tiba. Sehingga yang lainnya mengikuti melakukan pembatalan!” teriak Yoga dengan suara meninggi.


“Itu bukan salahku. Semua itu terjadi kareana kamu menarik minat mereka dengan menjual nama besar Sinar Abadi Grup. Coba kalau sejak awal kamu membuktikan bahwa perusahaanmu layak dan kompeten tanpa mendompleng nama besar perusahaan lain, kupastikan mereka takkan terpengaruh meskipun kerjasama bisnis kita batal. Atau mungkin saja desas desus yang beredar tentang kamu yang sering menyalahgunakan dana investor bukan hanya isu belaka. Sehingga mereka memilih menarik mundur, dan tentu saja itu bukan karenaku, tapi karena ulahmu sendiri,” jelas Bima dengan tenang yang memang benar adanya. Yoga tertohok, tetapi tak mau mengakuinya.


“Apakah kamu melakukannya karena aku pernah mengganggu salah satu wanitamu? Ahaha… lucu sekali kamu ini Bima. Di dunia ini begitu banyak wanita yang bisa kamu gaet dan kamu tiduri sesuka hatimu apalagi dengan kekuasaan dan kekayaan di genggamanmu. Tapi kamu malah berbuat begitu jauh hanya untuk satu wanita saja? Hei… perlukah aku mengenalkanmu pada wanita-wanita yang hebat melayani di ranjang? Aku yakin wanita yang kau bela mati-matian itu bukanlah pemain andal, yang hanya terdiam laksana patung saat kau garap.” Yoga menyemburkan kalimatnya begitu saja tanpa saringan.


Rahang Bima mengetat, sudut bibirnya berkedut dilanda amarah dan di detik kemudian sebuah tinju mendarat di wajah rupawan Yoga.


“Berani-beraninya kamu mengatai wanitaku dengan mulut kotormu itu, bajingan!”


Tubuh Yoga limbung akibat serangan tiba-tiba yang didapatnya. Seolah tak ingin memberi jeda, Bima merenggut kerah kemejanya dan kembali melayangkan pukulan beberapa kali hingga Yoga tersungkur ke lantai tanpa memberi kesempatan melawan. Jika dirinya yang dimaki tak masalah, tetapi jika pujaan hatinya yang direndahkan Bima tak mampu berdiam diri begitu saja.


“Simpan saja koleksi jalangmu itu untuk tubuh bobrokmu. Aku tak berminat sama sekali. Dalam hidupku hanya ada satu wanita yaitu Viona, istriku! Jangan pernah lagi kamu berani merendahkannya, jika tidak aku akan berbuat lebih parah dari ini!"


Adrian menerobos masuk begitu membuka pintu. Tadinya ia hendak menyerahkan berkas. Namun tak menyangka disuguhi adegan film kolosal di dalamnya.


"Direktur, apa yang terjadi?" pekiknya terkejut melihat Yoga babak belur.


"Panggil satpam dan seret dia keluar! Jangan pernah membiarkan bajingan ini datang lagi kemari! "


"Baik Pak."


*****


Halo pembacaku tersayang. Bagi yang aplikasinya sudah di update, vote sekarang bukan hanya memakai poin dan koin melalui kolom hadiah saja, juga bisa vote dengan kupon mingguan untuk mendukung cerita kesayanganmu. Jangan lupa selalu tinggalkan jejak setelah membaca berupa dukungan melalui like, komentar, kolom hadiah poin dan vote kupon untuk Mas Bima dan Viona, thank you all💕😘.