Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Ingin Menjenguk



Hakim memutuskan, Yoga dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara juga denda dalam nominal yang cukup besar. Dulu dia sering mengolok-olok Bima sebagai si narapidana, tetapi sekarang dirinya lah yang terkurung di balik jeruji besi.


Yoga sempat mengamuk dan tidak menerima, berteriak-teriak seperti orang gila saat mendengar putusan hakim.


Bima juga ikut melihat berita tersebut dari televisi bersama Adrian di kantornya. Meskipun rasanya Bima kurang puas dengan hukuman yang didapat Yoga, setidaknya sekarang ini si bajingan brengsek tidak berkeliaran di luar dan sedang menuai ganjarannya.


*****


Pagi-pagi sekali Nia sudah bersiap pergi ke rumah sakit agar mendapat nomor antrian paling awal. Maklum saja, ia harus bersabar mengantri. Terlebih lagi ia berobat menggunakan kartu jaminan kesehatan sejuta umat.


Sudah beberapa waktu terakhir ini, Nia kerap kali bolak-balik ke rumah sakit demi menjalani serangkaian prosedur pengobatan yang dianjurkan dokter. Hari dokter akan mengaturkan jadwal operasi untuknya mengingat pasien yang akan dioperasi menggunakan fasilitas kartu jaminan kesehatan berwarna hijau itu begitu banyak, serta melakukan test dan pengobatan lainnya untuk melihat hasil pengobatan pra kanker serviksnya.


Mobil Adrian sudah terparkir di luar tempat kostnya. Nia sedikit terperanjat lantaran hari masihlah sangat dini. Belum menunjukkan pukul enam, cahaya matahari pun masih mengintip malu-malu.


"Mau ke rumah sakit kan? Ayo kuantar." Adrian membuka pintu kursi penumpang.


"Apakah Anda taksi online yang saya pesan?" canda Nia, kini wajahnya tidak selalu menunduk sendu, semangat hidupnya mulai kembali merangkak perlahan.


Adrian tergelak ringan, dan mengangguk. "Benar, jangan lupa membayar, Nona."


"Untuk kali ini bolehkah saya duduk di depan?" pinta Nia pelan. Ia sesekali menatap Adrian lalu kembali menjatuhkan pandangan ke aspal.


Adrian jujur saja sedikit tercengang, tetapi sesaat kemudian tersenyum merekah, Menutup pintu kursi penumpang dan membuka pintu jok depan.


"Naiklah."


Setelah beberapa waktu Adrian sering berada di sekitarnya, Nia mulai menaruh kepercayaan bahwa Adrian bukanlah orang seperti Yoga. Dia sering merasa sungkan akan kebaikan Adrian, tetapi ia juga hanyalah wanita rapuh yang butuh tempat bersandar. Nia kini menganggap Adrian sebagai anugerah yang dikirimkan Yang Maha Kuasa untuknya.


Si pemuda berkacamata itu mengetahui tentang penyakit Nia dari amplop yang sempat tertinggal di mobilnya tempo hari. Rasa iba semakin menjadi, terlebih lagi Nia seperti kehilangan kepercayaan diri meski hanya untuk sekadar melamar pekerjaan.


Pertama kali Adrian mengetahui tentang penyakitnya, Nia luar biasa terkejut. Sakitnya bukan sakit biasa, melainkan aib serupa kotoran yang dilempar diwajahnya. Adrian sempat menawarkan bantuan untuk membantu mengobatinya, membantu menyediakan fasilitas terbaik sesuai kemampuannya. Akan tetapi gadis itu menolak, mengatakan tak ingin merepotkan. Juga semakin menjaga jarak karena minder, merasa begitu kotor dan ternoda di mana-mana, sehingga membuatnya berpikir tak pantas mendapat perhatian.


Adrian tidak menyerah, ia tetap gigih ingin membantu. Ada dorongan kuat dari dalam jiwanya yang terus tergerak ingin peduli pada gadis berwajah sendu itu. Dan ia pun mengusulkan untuk mencarikan pekerjaan untuk Nia jika tak bersedia menerima bantuannya. Bagaimanapun juga hidup harus berlanjut dan Nia pun pasti butuh penghasilan untuk memenuhi biaya pengobatan, kebutuhan hidupnya juga membantu orang tuanya.


Awalnya Nia menolak, ia masih merasa rendah diri dan dan memutuskan bekerja serabutan yang membuat dirinya tidak terlalu terekspos seperti mencuci piring di warteg-warteg. Adrian sempat memergokinya, lalu sedikit menceramahi setengah mengomel agar memikirkan tawarannya, juga demi kesehatannya.


Sudah satu bulan Nia bekerja di klinik Hana atas bantuan Adrian yang meminta pada Bima. Viona pun sempat menawarkan untuk bekerja di butik. Akan tetapi Nia menolak dengan halus tanpa lupa berterimakasih atas segala kemurahan hati Viona, hanya saja mentalnya masihlah belum siap untuk tersenyum dan bertemu banyak orang. Sedangkan di klinik Hana dia hanya bertugas mengurus kucing-kucing terlantar yang ditemukan Hana.


****


Beberapa bulan kemudian.


"Mas, Arjuna mengundang kita ke pernikahannya. Aku ingin datang, tapi bentrok dengan acara pernikahan Adrian."


Viona yang kini sudah hamil besar dengan perut yang semakin membuncit ikut duduk di sofa di mana Bima tengah menonton televisi bersama Nara di ruang tengah. Ia memberikan amplop berwarna merah gold ke pangkuan Bima.


Bima merangkulkan lengannya di pundak Viona, menghadiahkan kecupan pada wanita hamil tersayangnya lalu bergerak membuka amplop di tangan.


"Pernikahannya di Jakarta ya? Aku juga ingin menghadiri. Bagaimanapun, Juna pernah menjaga kalian saat aku tak ada. Aku selalu berterima kasih padanya dalam do'a-do'aku. Tapi pernikahan Adrian dengan Nia juga tak kalah penting." Bima tampak berpikir dan menimbang-nimbang apa yang sebaiknya dilakukan.


Ya, Adrian melamar Nia sesaat sebelum Nia dioperasi dan mereka memutuskan menikah setelah Nia dinyatakan sembuh. Awalnya Nia menolak meski tal dipungkiri hatinya selalu menghangat akan kehadiran Adrian. Ia ragu, merasa tak percaya diri apalagi kemungkinan tak mampu memberi keturunan meski Adrian mengatakan menerima dirinya yang penuh noda tanpa syarat. Hanya saja Sang Pencipta masihlah berbaik hati, karena saat proses pembedahan tumornya rahimnya bisa diselamatkan, memberi secercah harapan pada Nia untuk kembali merajut mimpi. Dan kini dua sejoli itu tengah berbahagia merangkai jalinan cinta yang sebentar lagi melangkah ke jenjang pengesahan.


"Justru itu, aku juga bingung. Dan minggu depan sudah mulai mendekati tanggal perkiraan lahir. Haish ... kenapa mereka harus menikah di hari yang sama sih? Janjian atau apa sebenarnya."


"Benar juga," timpal Bima. "Bagaimana kalau tiba-tiba kamu melahirkan di acara pesta?" Bima mendadak cemas dan terus menatap ke arah perut Viona.


Viona berdecak kebingungan seraya mengambil surat undangan di tangan Bima dan membolak-balikannya sambil membaca kembali tulisan tinta emas yang terukir di sana.


The Wedding, Arjuna Syailendra & Anggita Jelita.


Menundukkan wajahnya hingga mendarat di perut buncit Viona itulah yang dilakukan Bima, mengecup dan meletakkan pipinya di sana sambil mengelus penuh sayang.


"Baby boy, bisa katakan pada Ayah kapan tepatnya kamu akan menendang keluar dari dalam sana, hmm? Ayolah beritahu, agar Ayah tidak khawatir," ucap Bima tepat di depan perut buncit Viona.


Gelak tawa berderai renyah, Viona bahkan menepukkan surat undangan di tangannya ke lengan Bima gemas. "Hei, ya ampun, Mas. Sejak kapan bayi dalam kandungan memberi bocoran kapan tepatnya dia akan melihat dunia, ada-ada aja deh."


"Mmm ... kalau gitu, bagaimana kalau kujenguk bayi kita supaya aku bisa bertanya langsung padanya?" Bima berbisik sepelan mungkin ke telinga Viona agar Nara tidak mendengarnya, lalu tersenyum dan menatap penuh minat.


"Ish ... dasar modus!" Viona bangkit dan mengajak Nara meninggalkan Bima ke taman belakang.


"Sayang, ayolah. Biarkan aku bertanya langsung," teriak Bima dari ruang tengah dan Viona hanya mengulum senyum berpura-pura tak peduli hingga akhirnya Bima ikut menyusul ke mana dirinya melangkah.