
Selepas sarapan Viona menggelar tikar di rerumputan halaman belakang. Menggendong Nara yang baru selesai dimandikan untuk berjemur bermandikan hangatnya sinar mentari.
Bagian belakang villa memang di desain lebih luas, juga terdapat gazebo di bagian luarnya serta sebuah taman bunga-bungaan yang di kelilingi pohon-pohon cemara yang tertata rapi.
Bayi lucu itu tampak senang dibawa ke alam bebas, kakinya menendang-nendang sembari berceloteh tak jelas. Mata bulatnya yang murni begitu memesona, serta pipinya yang menyembul membuat Viona tak bisa menahan diri untuk menciuminya. Bima ikut bergabung, duduk berselonjor kaki di tikar tersebut sambil menatap nanar pada anak dan istrinya.
Selama masih ada waktu untuk kita bisa bersama-sama seperti ini, aku takkan melewatkannya sedetikpun. Batin Bima.
"Mas tolong jaga Nara sebentar ya, aku mau ke dalam dulu." Viona menyerahkan Nara ke pangkuan Bima yang langsung disambut tangan hangat sang ayah.
"Main sama Ayah dulu ya," ucap Viona.
"Baik Bunda...." sahut Bima menyerupai suara anak kecil, membuat Viona terkekeh pelan sebelum berlalu masuk ke dalam.
Viona pergi ke kamar, mengambil ponselnya bermaksud untuk menghubungi orang tuanya karena kemarin sore tidak sempat mengabari tentang liburan mereka. Namun, karena letak villanya di daerah yang sangat terpencil, rupanya jaringan seluler pun enggan untuk muncul. Viona keluar dari kamar berkeliling ke setiap sudut bangunan, bahkan ia naik ke atas sofa dan mengangkat gawainya tinggi-tinggi berharap mendapatkan signal.
Kaki jenjangnya kembali melangkah menuju belakang rumah. Menghampiri Bima yang sedang bersenda gurau bersama Nara, bahkan tawa bayi lucunya itu terdengar renyah dan nyaring saking senangnya bermain dengan sang ayah.
"Eh... i-iya. Di sini memang gak ada sinyal. Temanku yg menjual villa ini sudah memberitahuku tentang hal itu, tapi aku lupa belum mengatakannya padamu." Bima berusaha menutupi tentang fakta villa ini yang sebetulnya sudah sejak lama menjadi miliknya. Juga mengenai jaringan seluler, beberapa tahun yang lalu Bima memang sengaja membelinya karena di sini orang-orang akan susah menghubunginya, sangat ideal untuk memakai narkoba tanpa gangguan.
"Duh, terus gimana dong. Aku tadinya mau mengabari ayah dan ibu tentang liburan kita. Karena kemarin terlalu mendadak, aku hanya ingat mengirim pesan pada Sita untuk menjaga butik selama aku pergi. Aku belum sempat berpamitan pada orang tuaku, takutnya nanti tiba-tiba Ibu berkunjung ke rumah sedangkan aku tak ada." Viona tampak kesal sambil terus mengangkat ponselnya tinggi-tinggi dan melompat-lompat kecil.
"Kamu nggak usah khawatir. Ayah dan ibuku, juga orang tuamu semuanya sudah kukabari kemarin saat kita selesai berbelanja di swalayan. Sewaktu kamu ke toilet." Bima berbohong pada Viona, padahal dia sama sekali tak mengabari orang tua serta mertuaku.
"Benarkah? kenapa Mas gak ngasih tahu aku sih. Duuh tadi sempat khawatir, alhamdulillah sekarang lega rasanya." Viona meletakkan ponselnya di meja kayu yang ada di halaman belakang sembari mengembuskan napas lega.
Nara mulai merengek, sepertinya dia mulai mengantuk dan kehausan. Bayi itu meronta-ronta tak betah dipangkuan ayahnya seraya mengucek-ngucek hidungnya sendiri dengan kedua sudut bibir tertarik ke bawah.
Viona segera mengambil alih Nara dari pangkuan suaminya karena bayinya mulai rewel. "Uluh... uluh... kesayangan Bunda. Haus ya sayang," ucapnya penuh perhatian serta kasih sayang.
"Mas aku ke kamar dulu ya."
"Hmm," sahut Bima diiringi anggukan pelan dan Viona segera membawa Nara ke kamar untuk disusui serta ditidurkan.