Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Keras Kepala



Suasana mencekam mleingkupi ruang tengah rumah Abdul. Rima meminta Bik Yati membawa Nara ke belakang mengajaknya bermain karena mereka berempat hendak membahas masalah yang tak baik untuk mental Nara jika ikut menyaksikan.


Butuh usah ekstra untuk membujuk karena bocah lucu itu terus saja menempel pada Bima. Abdul memalingkan muka menampik apa yang terpampang di hadapannya, tak tergugah sama sekali akan interaksi cucunya yang tak ingin lepas dari ayah kandungnya. Nara akhirnya mau dibawa Bik Yati dan pelayan lainnya kala diingatkan tentang pumpkin si ikan koi kesayangannya.


Tatapan tajam juga dingin dihunuskan Abdul pada mantan menantunya itu, ia semakin membeliak murka kala melihat Bima dan Viona yang berlutut di lantai saling menggenggam tangan.


“Untuk apa datang kemari? Kamu tak diterima di sini. Dan satu hal lagi, jika kamu laki-laki sejati, janganlah menganggu calon tunangan orang!” ucap Abdul sinis.


“Om, maaf karena saya lancang datang kemari. Saya tahu, kesalahan saya tak terampuni, maaf karena saya membuat Anda sangat kecewa.” Bima berbicara dengan nada rendah dan sopan meskipun orang yang diajak bicara tampak berapi-api.


“Kalau sudah tahu begitu, kenapa masih berani menampakkan mukamu di sini? Sebaiknya jauhi Anakku, sebentar lagi dia akan bertunangan dengan laki-laki yang lebih baik segalanya dari kamu!” Abdul terus saja memojokkan Bima, meluapkan segala kecewa di dada.


“Om, dengan segala hormat, kiranya sudikah Anda berkenan memberi kesempatan kedua pada manusia berlumur dosa ini? Kami ingin kembali rujuk, merajut kembali untaian yang telah terkoyak, tolong restui kami."


Abdul tak menjawab, hanya sorot mata setajam pedang yang dilayangkan pada Bima.


"Saya pernah salah, mencampakkan yang paling berharga saat diri ini tergerus rayuan syetan. Saya mungkin tak bisa menjamin akan selalu membuat Viona dan Nara selalu tertawa, karena hidup selalu dihiasi dua cerita yaitu suka dan duka. Tapi saya sanggup berjanji takkan mengulangi kesalahan yang sama, dan akan berusaha membahagiakan mereka seumur hidup saya. Juga tentang Nara, saya membutuhkannya begitu pun sebaliknya. Viona dan Nara, merekalah sumber kehidupan saya.” pinta Bima penuh harap.


“Seumur hidupku sepertinya aku tak bisa memaafkanmu apalagi menerimamu kembali menjadi menantuku. Jangan bermimpi, putriku pantas mendapatkan yang lebih baik lagi!” desis Abdul yang diliputi emosi.


“Ayah," panggil Viona lirih menatap Abdul dengan bola mata mengkilap oleh air mata. “Selama ini aku tak pernah meminta apapun padamu bukan? Itu karena Ayah selalu memberikan yang terbaik untukku, seperti halnya ketika ayah menjodohkanku dengan Mas Bima.” Viona berucap lembut dengan bibir gemetar.


“Kamu pun paham kan Viona? Makanya yang Ayah lakukan sekarang pun adalah terbaik untukmu,” jawab Abdul bersikeras.


“Aku tahu, sangat tahu.” Viona menatap ayahnya sendu.


“Nah Bima, kamu dengar sendiri kan, apapun yang kulakukan adalah yang terbaik untuk Viona. Jadi jangan pernah berharap lagi," seru Abdul merasa menang.


“Tapi untuk yang satu ini tidak Yah. Maafkan aku karena menjadi anak yang tak berbakti. Kali ini aku takkan menerima keputusan Ayah, kebahagiaanku bersama Mas Bima, hanya dia yang kucintai sampai aku mati.” Viona mengeratkan genggamannya di tangan Bima.


“Ayaaah… istigfar! Seorang Ayah pantang melayangkan pukulan pada putrinya hanya karena hal semacam ini. Jika ingin memukul, pukul saja aku, jangan Anakku! Sampai kapan pun Ibu takkan rela jika ayah melakukannya. Aku yang melahirkannya dan mengandungnya, tolong sadarlah!” Rima bersuara menggema di ruangan itu, ia juga menangis. Berada di situasi curam antara suami dan anaknya. Baru kali ini dia berani melawan Abdul seumur hidupnya.


“Ayah, tolong buka mata hatimu. Bukankah kita selama ini selalu berusaha agar Viona bahagia? Lantas, ketika dia mengatakan bahwa kebahagiaannya bersama Bima apakah Ayah akan berpura-pura tuli juga buta dan tetap bersikeras pada pilihanmu? Bukankah semua orang pernah berbuat salah? Bukankah Allah juga memberi kesempatan pada umatnya yang ingin memperbaiki diri, lalu kenapa kita yang hanya manusia menghakimi tanpa ampun?” Kali ini Rima bicara dengan nada lembut, berharap suaminya sadar dan kembali luluh.


Abdul tampak menegepalkan tangannya, rahangnya semakin menegang dengan sorot mata tajam.


“Di Rumah ini keputusanku adalah mutlak. Tak ada yang bisa mengganggu gugat!”


“Ayah tolong jangan begini.” Viona menangis semakin deras.


Abdul bangkit dari duduknya, menarik Viona yang bersimpuh berdampingan dengan Bima.


“Pergi kamu! Jangan dekati Anakku lagi, kamu hanya membawa nasib buruk pada putriku!" Abdul mengusir Bima lantang dengan tangan mengacung.


“Om saya mohon tolong pertimbangkan lagi, izinkan kami kembali bersama. Kami butuh restumu.” Bima menghiba, usaha apapun akan dilakukannya demi kembali memeluk Viona juga Nara dalam ikatan suci.


“Cepat pergi! Aku tak sudi melihat wajahmu lagi.” Abdul menyeret Viona ke kamar paling ujung dan menguncinya di sana.


Bima hendak merangsek, tetapi di tahan oleh Rima. “Bim, suasana Ayah sedang memanas. Untuk hari ini pulanglah dulu, Nak. setelah situasi mendingin barulah datang kembali besok, Ibu kan terus berusaha membujuknya, semoga hatinya melunak.”


“Tapi Bu_”


“Bersabarlah Nak, ibu yakin kalian ditakdirkan bersama. Viona sangat mencintaimu, ibu dapat merasakannya. Kalian mungkin harus melalui jalan terjal ini, agar cinta kalian semkain kuat nantinya.”


“Baiklah Bu.” walau dengan berat hati Bima meninggalkan kediaman orang tua Viona. Benar kata Rima, berbicara dengan orang yang sedang terbakar emosi takkan menemukan solusi, untuk sekarang dia harus melatih kesabarannya dan kembali esok hari.