Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Nara Sakit



Malam berganti pagi. Pelita alam memancar terik di hari ini, menebarkan pesona gagahnya menerangi bumi.


Sedari pagi Viona mondar-mandir di kamarnya, tengah mencari cara bagaimana menunjukkan rekaman ini pada ibunya. Jika dikirimkan langsung ke ponsel ibunya, ia khawatir ponsel Rima juga sama-sama disita seperti miliknya. Jika langsung dikirimkan pada ayahnya, bagaimana jika Abdul tak percaya? Juga bagaimana kalau malah menuduhnya juga Bima mengada-ada.


Duduk kembali di tepian ranjang sambil sesekali memilin jari jemarinya, dan sedilkit terhenyak kala kunci pintu diputar dari luar. Buru-buru Viona menyembunyikan ponsel yang dipegangnya ke bawah bantal, beruntung sejak kemarin dia mematikan nada dering serta getarnya agar tak ketahuan ada ponsel di kamarnya.


Seorang pelayan masuk mengantar makanan. Viona menyuruhnya menyampaikan pesan ingin bertemu ibunya dengan alasan masuk angin, ingin diolesi minyak angin di punggung oleh Rima karena tak bisa melakukannya sendiri, dan menolak jika pelayan maupun asisten rumah tangga lainnya yang melakukannya, berharap ayahnya percaya dan mengizinkan ibunya menemuinya.


Abdul mengizinkan Rima masuk ke kamar anaknya setelah pelayan menjelaskan, asalnya Rima juga dikurung di kamarnya tak boleh bertemu muka dengan Viona sampai hari pertunangan tiba.


“Vi, kamu sakit apa?” Rima masuk tergesa dengan minyak angin di tangan.


“Bu.” Viona memeluk ibunya dan mengajaknya duduk di sofa yang terdapat di kamarnya.


“Katanya kamu sakit?” Ia memindai Vona dari ujung kepala hingga kaki. Wajah Viona memang masih pucat karena terlalu banyak menangis membuat hati Rima begitu sedih.


“Aku nggak apa-apa Bu. Tapi ibu harus mendengarkan ini.” Viona mengambil ponsel dan membuka daftar rekaman.


“Ini ponsel dari mana Vi?”


“Ceritanya panjang. Sekarang yang penting Ibu dengarkan dulu isinya."


Rima saling berpandangan dengan Viona dan mengangguk penuh arti setelah mendengar seluruh isi rekamannya.


“Bagaimana caranya aku memberitahu ayah tanpa harus memberikan ponsel ini, apakah langsung kukirimkan saja ke nomor ayah? Aku bermaksud membuat salinan tapi laptopku ada di mobil," keluh Viona sambil menyugar rambutnya.


“Kirimkan saja langsung ke nomor ayahmu. Ponsel Ibu juga di sita. Mengenai dia percaya atau tidak itu urusan nanti. Tapi ibu yakin, ayahmu bukanlah orang yang tak bisa membedakan mana rekaman asli dan mana yang bukan.”


Viona mengangguk mantap dan segera mengirimkannya.


*****


Seharian ini Abdul sibuk dengan laptopnya, belum lagi tadi siang sekitar tiga jam ada tamu penting yang membicarakan masalah pekerjaan datang ke rumah, sehingga ia beum sempat memeriksa ponselnya.


Waktu sudah hampir menjelang Maghrib, sejak tadi Rima terus memerhatikan ingin agar Abdul segera membuka ponselnya, lalu perhatiannya teralihkan kala pintu kamarnya diketuk.


"Nyonya besar, nona kecil muntah- muntah dan demam tinggi,” lapornya panik. "Tadi siang dia terlihat lesu dan hanya makan camilan saja. sejak pukul dua tertidur, setengah jam lalu terbangun langsung muntah-muntah dan badannya panas.”


“Apa?” Rima membulatkan, menyela si pelayan yang ada di depannya dan setengah berlari ke kamar Nara. Abdul yang masih fokus dengan laptop di dalam kamar juga mendengarnya. Ia menyudahi pekerjaannya dan ikut keluar.


“Bunda… mau Bunda,” erangnya lemah, Nara sedang digendong salah satu pelayan.


“Ambilkan sirup obat panas dan panggil Viona,’ perintah Rima pada salah satu pelayan.


“TIdak usah dipanggil!” sambar Abdul. "Viona sedang dihukum.”


“Bunda… Ayah….” Nara meracau dan kembali muntah di pangkuan neneknya. Rima semakin panik, belum lagi tubuh bocah itu sangatlah panas.


“Ayah! Tolonglah jangan begini, ini situasi darurat. Kesampingkan dulu masalah itu. Cucu kita butuh ibunya!” Rima benar-benar frustrasi, di saat begini Abdul masih saja keras kepala digulung ego.


“Nenek… mau Bunda….” erangnya lagi yang kemudian menagis lemah.


Abdul yang asalnya bergeming akhirnya memerintahkan salah satu pelayan memanggil Viona turun .


Viona menoleh ketika pintu kamarnya dibuka, ia melihat salah satu pelayan tergopoh-gopoh masuk.


“Neng, nona kecil… nona kecil sakit panas dan muntah-muntah. Tuan Abdul meminta And tur_"


Belum juga si pelayan menyelesaikan kalimatnya, Viona melesat keluar dari kamarnya saat mendengar anaknya sakit. Ia bahkan menuruni tangga seperti orang kesurupan padahal tubuhnya juga masih lemah.


“Sayang… Nara, ini Bunda, Nak.” Viona mengambil alih Nara dari gendongan Rima, mengecupinya dan mendekapnya.


Ia terkesiap karena wajah Nara memucat dan tubuh mugilnya makin panas, juga terus muntah padahal sudah tidak ada apapun lagi yang bisa dimuntahkan.


Viona mencoba meminumkan obat demam yang dibawakan pelayan, tetapi hasilnya nihil. Baru sekitar lima menit obat diltelan langsung dimuntahkan lagi, membuat Viona panik setengah mati.


“Yah, Bu. kita harus ke rumah sakit. Nara tak pernah muntah hebat begini," pintanya di tengah kecemasan yang menyerbunya seketika.


“Biar Ayah dan Ibu yang membawanya ke rumah sakit. Kamu masih di kurung,” jawab Abdul datar.


Rima membulatkan mata dan Viona menatap ayahnya tak percaya.


“Ayah, kumohon. Nara butuh aku!" jeritnya dengan bibir gemetar. "Hukum aku lagi sesuka hati Ayah nanti, untuk sekarang biarkan aku di sisi anakku.” Bola matanya mulai mengkilap, dengan dada tersengal naik turun.


“Bunda….” Nara mengeratkan pelukannya pada Viona.


“Iya sayang, Bunda di sini," sahut Viona parau.


"Kita berangkat sekarang," ucap Abdul yang melangkah lebih dulu ke garasi.