Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Pindah



Hari kepindahan tiba, bersamaan dengan acara pengajian tasyakur sesuai keinginan Viona. Mereka pindah hanya membawa koper-koper berisi pakaian, karena semua fasilitas rumah sudah disiapkan selengkap-lengkapnya.


Rima dan Annisa begitu antusias, menyiapkan ini dan itu untuk keperluan syukuran terutama hidangan untuk para tamu. Penceramah, juru do’a juga Qiroat, turut diundang di acara ini. Abdul dan Malik lah yang begitu bersemangat mengundang mereka, ingin kepindahan Bima sekeluarga ke rumah lamanya dipenuhi keberkahan.


Do’a terbaik dipanjatkan dengan khidmat oleh semua hadirin, mengaminkan setiap lantunan harapan baik dipimpin juru do'a yang ditunjuk. Memohon keberkahan untuk rumah yang akan kembali dihuni Bima sekeluarga. Berharap semoga rumah ini menjadi tempat yang betah ditempatinya juga nyaman dipakai beribadahnya demi mencapai tujuan berumah tangga yang utama yaitu sakinah mawaddah warahmah. Viona bahkan meneteskan air mata haru, mahligai pernikahan dalam jalinan solid yang diidam-idamkannya satu persatu mulai terwujud seperti do’a dan harapan yang dipanjatkannya selama ini kepada Sang Pencipta dalam untaian air mata.


Keluarga besar kedua belah pihak juga sanak saudara semuanya ikut bergembira, aura sukacita menguar begitu kentara dari wajah-wajah yang hadir di sana. Acara digelar setelah waktu Dzuhur dan dirampungkan satu jam sebelum Asar menjelang. Semua berpamitan pulang tak terkecuali juga orang tua Viona dan Bima.


“Semoga rumah tangga kalian selalu dipenuhi kebahagiaan dan keberkahan. Do'a terbaik dari kami tak henti tercurah untuk kalian setiap saat,” ucap Annisa sambil membelai sayang kepala Viona dan menatap berlumur senyum kepada putranya.


“Aamiin. Terima kasih, Ma.” Viona memeluk ibu mertuanya, begitu bersyukur karena sejak dulu hingga sekarang Annisa selalu menyayanginya tak pernah berubah.


“Semoga kabar baik juga segera menyusul, agar Nara punya teman bermain di rumah besar ini.” Malik ikut menimpali diiringi kekehan.


“Kami pulang sekarang. Nanti kalau ada waktu senggang kita harus memasak dan membuat kue bersama.”


Annisa dan Malik berpamitan, tak lupa kecupan untuk si cucu tersayang yang tertidur di sofa karena kelelahan. Rima dan Abdul juga melakukan hal serupa. Kemudian turut undur diri dan mobil pasangan besan itu pergi melaju beriringan.


Sejak acara dimulai Nara berlarian aktif kesana kemari di area taman. Dia begitu senang karena rumah yang akan ditempatinya kini mempunyai arena bermain yang luas, lebih luas dan lebih lengkap dari arena bermain di sekolah TK-nya. Semua wahana dicobanya. Dari mulai perosotan, jungkat jungkit, trampolin dan juga yang lainnya.


Setelah hampir satu jam bermain, bocah lucu itu akhirnya kelelahan. Tertidur di sofa ruang tengah setelah meneguk segelas susu dingin ditunggui Bik Yati yang selalu setia menemani dan menjaganya.


Tak lama berselang datanglah sebuah mobil memasuki garasi rumah. Viona yang baru bersantai duduk bersandar di sofa di mana Nara tertidur, kembali menegakkan punggung. Berdiri lalu melangkah keluar melihat mobil siapa yang datang, seingatnya seluruh keluarga yang diundang semuanya menghadiri acara syukuran dan tidak ada yang terlambat.


Dahi Viona berkerut samar. Melihat sekitar empat orang wanita berseragam pelayan dan dua orang laki-laki yang tak dikenalnya membungkuk sopan dan memberi salam.


“Nyonya, mulai hari ini kami ditugaskan bekerja di rumah ini untuk melayani Anda,” ucap salah satu wanita berseragam pelayan itu sopan.


“Be-bekerja di sini?” Viona malah tampak kebingungan, lalu sesaat kemudian berubah waspada.


Dia sudah membawa Bik Yati dan satu orang sopir untuk membantu di rumah ini, tetapi tiba-tiba datang enam orang tak dikenal mengklaim bahwa mereka ditugaskan untuk melayaninya.


“Iya Nyonya. Pak Bima yang menugaskan kami.”


“Iya, sayang. Aku yang menyewa mereka untuk bekerja di sini.”


Suara Bima muncul dari belakang punggung Viona. Lelaki tinggi tegap itu menghampiri dan merangkul istrinya mesra. Viona masih tampak kebingungan. Ia menoleh dan menatap suaminya dengan raut wajah penuh tanya.


“Kalian masuklah dan segera kerjakan tugas masing-masing,” titah Bima pada mereka berenam.


"Baik, Pak." Serempak semuanya mangangguk patuh dan berlalu masuk ke dalam rumah.


“Untuk apa Mas mempekerjakan orang sebanyak itu di rumah?” tanya Viona setelah hanya ada mereka berdua di teras.


“Ayo, kita bicara di dalam.” Bima tersenyum manis. Menarik pinggang Viona untuk masuk kembali ke dalam rumah. Mereka berdua duduk di sofa ruang tengah, mengenyakkan diri saling berdampingan tepat di seberang tempat Nara sedang tertidur.


“Aku menyewa mereka untuk bekerja di rumah kita. Kalau cuma Bik Yati yang mengerjakan pekerjaan rumah pasti kewalahan. Rumah ini lebih luas beberapa kali lipat dari rumah yang kamu tinggali bersama Nara. Aku ingin Bik Yati fokus menjaga Nara selama kita sibuk dengan kegiatan masing-masing di luar rumah. Aku juga tak mau kamu kelelahan dan kerepotan karena terlalu banyak hal yang harus diurusi. Jadi biarkan mereka yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dua orang laki-laki tadi, yang satu tukang kebun dan satunya lagi sopir cadangan,” jelas Bima panjang lebar.


“Mmm… tapi bolehkah untuk urusan memasak aku tetap ingin membuat dan menyajikannya dengan tanganku sendiri? Selagi aku masih sempat.” Viona mengungkapkan pendapatnya. Seperti biasa, jika sedang berada di rumah Viona tetap ingin menyajikan makanan buatan tangannya untuk suami dan anaknya.


“Tentu saja, aku tahu itu. Lagipula masakanmu adalah yang terbaik yang pernah ada, karena dibubuhi cinta dan kasih sayangmu di dalamnya. Hanya saja untuk yang lainnya biarkan pelayan yang mengerjakan, kamu tinggal memberi perintah dan mengarahkan. Aku ingin saat di rumah, kamu hanya fokus mengurus Nara, juga aku tentunya,” bisiknya sensual penuh arti membuat Viona sedikit berjengit lantaran rasa geli dari napas hangat Bima menyapu daun telinganya.


“Ck… ck… ck… Mas itu sudah bukan anak kecil lagi. Apanya yang harus diurus.” Viona mengulum senyum, berpura-pura tak mengerti akan kalimat yang dibisikkan suaminya.


“Hei… siapa bilang. Aku juga bayimu yang harus kamu urus dan manjakan,” ujarnya merajuk lalu mendaratkan kecupan gemas di leher Viona membuat wanita cantik itu tergelak.


“Tapi bayi yang ini berbahaya, sulit menyapihnya. Jika pada umumnya para bayi hanya dua tahun saja bergantung nutrisi pada ibunya, tetapi bayi yang seperti ini akan terus menempel seumur hidupnya.” Viona terkikik geli dengan wajah memerah karena merasa malu akan ucapannya sendiri.


“Karena kamu sudah mengakui bahwa aku ini bayimu, kalau begitu, aku meminta nutrisiku sekarang,” desahnya serak sambil mengangsurkan hidung dan bibirnya ke tengkuk wanita yang dipeluknya. Viona masih tergelak, lama-kelamaan mulai terbawa suasana, sebelum akhirnya adzan Asar berkumandang menghentikan kegiatan mereka yang tengah saling merayu satu sama lain.