Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Bukan Ilusi



Sebelum kembali ke kantor, Adrian mampir ke butik Viona. Viona yang sedang makan siang cukup terkejut akan kedatangan sekertaris mantan suaminya yang tiba-tiba. Adrian menyampaikan pada Viona bahwa Bima sakit, hanya saja Bima bersikeras tak ingin orang-orang tahu bahwa dia sakit bahkan pada Annisa sekalipun.


Adrian merasa khawatir takut kondisi Bima semakin memburuk, dan meminta Viona yang mungkin bisa membujuk agar Bima mau mengabari orang tuanya atau dirawat di rumah sakit saja. Viona meremas ujung bajunya resah, jujur saja mendengar Bima sakit rasa cemas langsung menyeruak, kendati rasa marahnya pada Bima belumlah surut.


“Di mana apartemenya?”


“Bu Viona serius mau ke sana?” Adrian sedikit terkejut tak menyangka dengan respon mantan istri bos-nya, padahal dia hanya meminta Viona untuk menghubungi Bima saja bukan memintanya datang berkunjung ke apartemen.


"Aku akan datang ke sana setelah pekerjaanku selesai. Kukira Mas Bima masih tinggal di rumah Mama Annisa. Berikan alamatnya padaku.”


Dengan antusias Adrian memberikan alamat Bima juga nomor sandi pintu aparteman. Setelah lelaki muda berkacamata itu undur diri, Viona menyudahi pekerjaanya dan mempercayakan semuanya pada Sita.


Tak berlama-lama dia segera melajukan mobilnya ke alamat Bima dan tak lupa singgah sebentar ke swalayan berbelanja bahan makanan untuk dimasak. Entah mengapa meskipun marah, tapi Viona tak bisa mengabaikan BIma begitu saja.


Viona memasukkan kode kunci dan baru menyadari bahwa nomornya adalah tanggal lahir Nara. Sudut hatinya menghangat, meskipun perih dan luka itu belum sepenuhnya mengering. Tanpa ragu ia mendorong pintu tersebut dan masuk ke dalam.


Kondisi di dalam begitu sepi dan gelap, gorden pun dibiarkan tertutup. Viona membuka semua gorden agar cahaya matahari masuk menerangi, kemudian memberanikan diri melangkah ke kamar dan mendapati Bima sedang tertidur dengan keringat bermanik di dahinya.


Viona meletakkan telapak tangannya sebentar untuk memeriksa suhu tubuh lelaki itu dan benar saja Bima masih mengalami demam. Ditariknya selimut tebal yang menggulung Bima perlahan agar tidak terlalu menutup seluruh tubuh tinggi itu, karena sepemahamannya jika demam maka sebaiknya tidak terlalu menggulung diri dengan selimut agar demam tak makin memburuk.


Tangannya gatal ingin menyeka keringat di dahi Bima, juga tergoda ingin membelai rahang yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus tak beraturan. Secara refleks tangan Viona terulur, saat hampir mendarat di rahang Bima dengan segera Viona menarik tangannya kembali dan memilih keluar dari sana.


Viona beranjak ke dapur, mencari-cari apron dan mulai memasak bahan makanan yang dibelinya. Membuat nasi tim ayam dan juga sup daging rempah penuh gizi.


Bima terusik dari tidurnya, bau harum menggoda selera yang menyusup ke dalam indera penciumannya membuatnya terjaga, juga telinganya menangkap suara-suara peralatan dapur ikut meramaikan suasana tempat tinggalnya yang biasanya senyap.


Bima turun dari tempat tidur, mencuci muka sekilas lalu melangkah keluar kamar. Sejenak ia mematung memandangi punggung wanita mungil yang tengah sibuk di dapurnya. Ia mengucek matanya beberapa kali, memastikan bahwa dirinya tidak sedang berhalusinasi.


Ia melangkah pelan, bahkan mencubit lengannya sendiri lantaran takut sedang berada di alam mimpi. Tapi cubitannya terasa sakit, berarti jika begitu maka ini nyata bukan?


Bima semakin mendekat, kira-kira sudah berada di jarak satu meter dia semakin yakin bahwa sosok yang berkutat di dapurnya bukanlah ilusi. Senyuman mengembang di wajah pucatnya dan akhirnya ia bersuara.


“Viona?"


*****


Jangan lupa parkirnya 😳😂