
Bima merasakan seperti terbebas dari belenggu yang merantai kakinya ketika Viona mengungkapkan bahwa dia juga mempunyai rasa yang sama. Dirangkulnya istrinya itu ke dalam pelukannya, tangannya bergerak teratur mengusap lembut punggung rapuh Viona sambil sesekali mengecup puncak kepalanya.
"Terima kasih ... terima kasih sayang, atas kerelaanmu menerimaku menjadi suamimu," ungkapnya dengan senyuman lega menghiasi, sangat tergambar jelas efek dari hatinya yang membuncah bahagia.
"Bersediakah kamu memulai lagi kisah kita dengan benar? Ajari aku untuk menjadi suami yang seharusnya," bisik Bima di sela-sela usapan tangannya.
Viona mengurai pelukan. Ditatapnya dalam-dalam iris Bima yang hitam legam, tajamnya tatapan netra memukau itu mampu menenggelamkan siapapun yang menyelaminya.
"Tentu saja. Mari kita mulai lagi dari awal, kita mulai dengan benar, seperti yang seharusnya." Viona menegakkan posisi duduknya. "Hai, aku Viona. Senang berjumpa denganmu wahai pemilik jiwa dan ragaku." Viona mengulurkan tangannya, tersungging senyuman di bibirnya. Bola matanya sudah menggenang dengan air bening yang siap meluncur dalam satu kedipan saja.
"Halo, belahan jiwaku. Aku Bima, sungguh bahagia rasanya karena Sang Pencipta menjadikanmu sebagai tulang rusukku," ucapnya serak, tangannya menerima uluran tangan Viona.
Rasa haru yang berkecamuk di dalam dada Viona sudah tak bisa dibendungnya lagi, air bening itu meluncur terjun bebas di wajah cantiknya. Bima menyeka pipi yang basah itu dengan ibu jarinya, mengecup kedua bola mata istrinya dengan mesra dan penuh cinta.
Dipeluknya kembali Viona ke dalam dekapan hangatnya, mereka saling merangkul erat. Ini adalah pertama kalinya mereka saling bicara dari hati ke hati, mengenyampingkan segala ego dan mengakui dengan jujur tentang perasaan masing-masing.
Viona terisak, air mata bahagia masih mengalir dari sudut matanya. Bima pun merasakan hal yang sama, dadanya terasa sesak seolah ingin meledak dan meneriakkan segala rasa yang menyiksa jiwanya selama ini. Rasa cinta, lega dan bahagia berpadu menjadi satu, seolah menciptakan gelombang dahsyat yang mengombang ambing tanpa ampun tak pandang bulu.
Bibir keduanya berbisik merdu bersamaan dalam simfoni yang seirama mendesahkan kalimat yang sama.
*****
Malam ini pasangan yang tengah dilanda kelegaan jiwa dan raga itu tertidur dengan pulas. Lengan kiri Bima memeluk Viona dari belakang, dan Viona menjadikan lengan kanan Bima sebagai bantalan kepalanya. Bantal ternyaman yang pernah ada di dunia, bukan hanya menenangkan, tetapi juga mampu menentramkan.
Tidak ada sesi percintaan yang menggelora di kelamnya malam kali ini. Setelah ungkapan rasa yang mengharu biru mereka hanya ingin saling memeluk satu sama lain, menyalurkan segala rasa membuncah dalam ikatan kasih sayang yang kini terjalin semakin erat.
Keduanya tertidur dengan damai. Sebuah senyuman tersungging di tengah lelapnya, membawa mereka masuk ke dalam mimpi indah penuh janji, menarik untuk tenggelam lebih dalam lagi di alam sana.
Kini, biduk rumah tangga mereka berada di samudera tenang tanpa badai dan gelombang. Diiringi irama merdu dari kicau burung yang beterbangan di angkasa, hanya bertiup angin sepoi-sepoi memanjakan siapapun yang diterpanya. Namun, akankah ini selamanya?
*****
Author note
Halo my beloved readers. Terima kasih selalu setia menantikan kisah Bima dan Viona. Jangan lupa bayar parkir ya 😁😳, berupa like, komentar juga vote seikhlasnya. Dukungan kalian membuatku semakin semangat menulis. Thank you all 💕