Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Buntu



“Bagus,” ujar Bima terdengar sangat puas.


“Sekarang, tolong berikan Nara padaku,” mohon Viona seraya mengulurkan kedua tangannya hendak meraup buah hatinya.


Bima menepis lengan Viona dan malah menyeringai. Dia benar-benar telah kerasukan. “Carikan dulu barang yang kuinginkan sekarang juga! Setelah itu barulah Nara akan kuberikan lagi padamu,” ucapnya dengan mata berkilat mengerikan tanpa belas kasihan. Bima sepertinya sudah tak waras, padahal yang sedang dia ancam adalah istrinya sendiri dengan buah hatinya yang dijadikan sandera.


Viona berusaha tetap kuat menopang dirinya dengan kaki lemasnya. Bima yang dihadapannya semakin tak dikenalnya, bahkan kini telah tega menjadikan Nara sebagai tameng hanya demi si laknat penghancur kehidupannya. Viona semakin takut jika Bima akan jauh lebih parah dan menyakiti bayi kecilnya lantaran tengah berada dalam kuasa kecanduannya


“Akan kucarikan sekarang juga. Tapi ingat, jangan pisahkan aku dari Nara!" Viona menyanggupi dengan nada tanpa keraguan.


“Tentu saja, maka dari itu cepatlah bergerak agar Nara kembali ke dalam pelukanmu.”


*****


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Malam beranjak semakin kelam dan dinginnya udara puncak kian menusuk menyergap permukaan kulit. Viona kelimpungan, ke mana dia harus mencari barang yang diinginkan Bima sedangkan dirinya sama sekali tak pernah berkecimpung dalam gelapnya dunia semacam itu.


Viona harus mendapatkannya malam ini juga, karena jika tidak, Bima mengancam akan memisahkannya dari Nara, baru membayangkannya saja membuatnya hampir gila rasanya.


Lama otaknya berpikir, haruskah dia pergi ke klub malam? mungkin saja di sana bisa mendapatkan petunjuk untuk mendapatkan apa yang dicarinya. Akan tetapi, Viona belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di tempat hiburan malam membuat rasa takut merambatinya nyaris bergidik.


Wanita cantik dengan wajah sembap itu benar-benar merasa buntu, kemudian matanya menangkap keberadaan counter penjual pulsa seluler di seberang jalan. Pikirannya kini tertuju pada Ibel, mungkin saja sahabatnya bisa membantu, hanya Ibel yang bisa dipercayainya saat ini.


Matanya melihat ke kanan dan ke kiri, setelah dipastikan jalanan lengang Viona segera menyeberang dan menuju toko penjual pulsa tersebut.


“Permisi, bisakah saya meminjam ponsel. Saya akan membayar biaya panggilannya. Ponsel saya hilang dan saya harus menghubungi keluarga di rumah. Ini uangnya.” Viona mencampakkan basa basi karena berpacu dengan waktu sembari menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan.


“Jika ingin menghubungi keluarga silakan saja Mbak, nggak usah bayar juga nggak apa-apa. Itung-itung menolong orang yang terkena musibah,” sahut salah seorang pemuda penjaga toko ramah. “ Silakan, Mbak.” Pemuda itu menyodorkan ponsel ke hadapan Viona.


Tanpa sungkan Viona langsung menyambar ponsel tersebut dan menghubungi Ibel, Viona yang biasanya santun kini menjadi terlalu berani. Terdengar suara ibel yang melengking memekakkan telinga bercampur kecemasan dengan omelan beruntun menjawab panggilan teleponnya dari seberang sana. Viona meminta bertemu sekarang juga dan Ibel menyanggupinya karena kebetulan dia sedang berada di daerah Bogor terkait pekerjaaanya.


Mereka janji bertemu secara rahasia di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari counter tersebut, Viona meminta Ibel datang sendiri secepatnya, ia sudah tak tahan berlama-lama meninggalkan Nara karena khawatir dengan keadaan bayinya yang dijadikan sandera oleh suaminya sendiri.