Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Ada Apa Dengan Viona?



Dua bulan kemudian.


Arjuna menyapukan jarinya di meja kerjanya, ia menjelajahkan mata ke sekeliling dengan tatapan nanar. Helaan napasnya juga terdengar berat, ditambah seulas senyum getir yang terlukis di wajahnya menciptakan rona sendu.


“Bos, sudah waktunya. Pemilik baru setengah jam lagi tiba. Kita harus bersiap-siap untuk serah terima berkas.” Pandu yang sejak tadi hanya memerhatikan mengintrupsi Juna yang tengah tenggelam dalam lamunannya.


“Aku tahu. Aku hanya sedang mengucapkan selamat tinggal pada ruangan ini. tempat di mana aku mendedikasikan beberapa tahun ke belakang untuk mengembangkan perusahaan yang kubangun sendiri. Tapi kini aku harus melepasnya demi memenuhi dana ganti rugi.” Juna berkata pelan, terdengar nada sedih yang kental dari kalimatnya.


“Tapi kita tetap harus bersyukur. Masih dapat memenuhi ganti rugi yang disebabkan ulah rekan bisnis Anda yang tak bertanggung jawab, begitu tega menipu dan menghancurkan teman sendiri. Beruntung uang dari Bu Marina dan uang hasil lelang perusahaan semuanya dapat menutupi dana investor yang dibawa kabur. Saran saya sebaiknya kini Anda melangkah maju dan tatap masa depan. Jangan menoleh lagi ke belakang, ambil hikmah baiknya, setiap hal terjadi pasti untuk sebuah alasan. Untuk ke depannya lebih baik fokus mengurus perusahaan cabang Jakarta dan juga tentang perjodohan yang Anda setujui.”


Pandu berusaha memberikan penghiburan juga pengertian. Ia tahu apapun yang dikatakannya takkan banyak membantu untuk memperbaiki suasana hati Juna. Perusahaan yang dibangun Juna dengan mencurahkan segenap kemampuannya kini harus direlakannya. Begitu pula dengan pujaan hatinya yang juga harus direlakan kembali pada pemiliknya.


Itulah yang terpatri di benak Juna tentang Bandung, tempat di mana ia pernah melambung tinggi menyentuh awan sekaligus terhempas jatuh ke Bumi. Ia memutuskan meninggalkan kota berjuta kenangan ini, demi menata kembali masa depannya. Papinya menyerahkan anak cabang perusahaan Jakarta untuk dikelolanya kini.


“Thanks, Pandu. Kamu selalu setia di sisiku dan membantuku meski kini aku bangkrut.” Juna tertawa getir dengan tenggorokan tercekat.


“Sudah tugas saya. Semangat lagi, Bos. Kita berjuang bersama memajukan anak cabang di Jakarta nanti.” Pandu menyemangati, ia percaya Juna pasti akan bangkit kembali. Namun, untuk saat ini ia memaklumi, Juna juga butuh menenangkan dan memulihkan diri.


“Aku tak ragu akan kemampuanmu. Ayo, kita ke ruang rapat. Sepertinya si pemilik baru sudah datang.”


*****


Viona datang ke kantor Bima siang ini. Entah kenapa ia mendadak dilanda rindu berat padahal baru berpisah beberapa jam saja. Viona bermaksud memberi kejutan dan mengajak Bima makan siang bersama, juga hendak memberitahu tentang undangan makan malam dari Arjuna.


Begitu pintu lift eksekutif berdenting lalu terbuka, Viona langsung melangkahkan kaki jenjangnya dengan semangat berkobar. Adrian menyambut penuh hormat dan membukakan pintu ruang direktur mempersilakan istri bos-nya masuk.


“Kejutaaaan,” ucap Viona riang begitu masuk ke ruangan Bima.


“Hai honey. Tumben tiba-tiba datang?”


Bima tersenyum senang melihat kedatangan istri cantiknya yang hari ini memakai gaun merah marun. Ia Mengalihkan pandangan dari macbook-nya dan menatap penuh cinta pada sang istri yang mendekat kepadanya.


Menyela di antara meja dan kursi, Viona langsung duduk manja ke atas pangkuan Bima dan melingkarkan lengannya ke leher. Entah mengapa beberapa hari ini ia menjadi lebih manja dan ingin terus berdekatan dengan suaminya lain dari biasanya.


“Mas, aku kangen,” ucapnya sambil menyandarkan kepala di pundak Bima.


“Aku juga. Haruskah aku mengambil cuti dan menyewa pulau pribadi lalu mengurung diri denganmu seminggu penuh?” Bima terkekeh dan balas memeluk mesra.


Viona ikut tertawa, tangannya menjalar mengusap-usap dada bidang Bima dari balik kemejanya. “Aku ingin makan siang bersamamu, Mas. Makanya langsung datang kemari.”


“Hei manjanya.” Bima mengecup puncak kepala Viona. “Ayo, mau makan di mana?”


“Oke, kita makan di restoran baru milik temanku.”


“Oh iya, Mas. Besok, Juna mengundang kita sekeluarga makan malam bersama. Dia juga memintaku mengajak Nara.” Viona berkata masih dalam posisi bersandar dalam pelukan Bima.


“Oke, kita pergi bertiga. Mungkin Juna juga kangen sama Nara. Kita berangkat sekarang, waktu makan siang hampir tiba.”


Viona mengangguk dan turun dari pangkuan Bima dengan ekspresi malas. Bima merangkul mesra istrinya keluar dari ruangan dan Viona balas bergelayut manja.


Sedan Mercy limited edition warna hitam itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Bandung yang cukup padat di waktu makan siang begini. Sejak tadi Viona tak melepas tatapannya dari lelaki tampan di sebelahnya.


Wajah rupawan berpadu hidung mancung ditunjang tubuh tinggi kokoh dengan kulit warna perunggu itu tampak begitu menggiurkan. Bima sering kali menggulung kemejanya hingga siku, sehingga menampakkan otot lengan kekarnya yang mampu membuat Viona menelan ludah. Ia juga terus memandangi wajah tampan suaminya tanpa berkedip, rahang tegas di hiasi jambang halus begitu menggoda untuk dibelai, kini matanya bahkan menyusuri leher sang suami dengan jakunnya yang menurutnya bergerak seksi. Lelakinya ini sungguh menggairahkan.


“Liatin apa? Baru sadar ya kalau suamimu ganteng,” goda Bima tanpa mengalihkan fokus dari jalanan.


“Dan seksi,” desah Viona sensual dan dengan sengaja mendekat ke telinga Bima. ia menarik wajahnya dari sana kemudian menggigit bibir dengan tatapan yang mulai berkabut.


Bima tergelak mendengar rayuan istrinya. Diraihnya sebelah tangan Viona lalu mengecupnya.


“Makin menggoda aja, Bundanya Nara.” Bima melirik sekilas ekspresi istrinya.


“Aku memang sengaja menggodamu, Ayahnya Nara,” balasnya.


Keduanya tergelak bersama sepanjang perjalanan. Sesekali Viona juga mengelus-elus lengan suaminya mesra. Mobil terparkir sempurna di basemen restoran yang dimaksud. Ketika Bima baru saja membuka seat belt, ia dikagetkan dengan Viona yang tiba-tiba berpindah duduk naik ke pangkuannya.


Deru napasnya memburu, pertanda Viona tengah dilanda gairah. Tanpa basa-basi Viona memagut bibir Bima penuh hasrat, sejak tiba di kantor tadi entah mengapa gairahnya naik tak terkendali. Dengan rakus Viona mencecap, bahkan merangsekkan lidahnya menerobos masuk sembari sesekali melenguh.


Bima mengapai-gapai tuas agar kursi yang didudukinya sedikit mundur. Mengambil kesempatan saat Viona melepas bibir dan menarik napas sebanyak-banyaknya untuk membanjiri paru-parunya yang mulai menjerit lantaran Viona menyerangnya tanpa jeda.


Jemari lentik Viona membuka kancing kemeja Bima satu persatu dan mengusap-usap dada suaminya hinga turun ke perut. Dengan gerakan lembut, Bima segera mencegah tangan Viona yang merajalela.


“Hei, sayang. Ada apa hmm?” tanyanya pada Viona yang tengah sibuk mengecupi lehernya.


“Aku… aku ingin kamu, Mas. Sekarang juga," sahutnya tersengal. Mata Viona menatap penuh permohonan ingin dihangatkan. Bima mengecup sekilas bibir basah istrinya dan mengusap pungungnya lembut.


“Ini di parkiran, tak mungkin aku mencumbumu di sini. Mau ke hotel?” Bima mengedipkan sebelah matanya sambil menyeringai mesum


“Ayo, ke hotel!” sambar Viona tanpa ragu setengah memaksa.