Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Dasar Murahan



Malam ke tiga di rumah sakit Viona tetap setia menemani. Enggan beranjak barang sedetik pun, tak mau berjauhan dengan suaminya. Di benaknya tertinggal jejak serupa trauma takut terpisah lagi dari lelaki yang dicinta, ayah dari anak-anaknya.


Seperti biasa Nara akan dibawa pulang saat sore menjelang dan kembali keesokan harinya. Beruntung bocah lucu itu tidak rewel dan mengangguk paham saat diberitahu bahwa berlama-lama di rumah sakit tidak baik untuk anak kecil.


Malam ini Viona hanya berdua dengan Bima di rumah sakit. Viona dan Bima meminta para orang tua untuk beristirahat di rumah saja, terutama Annisa. Khawatir nantinya jatuh sakit jika terlalu sering menemani menginap di rumah sakit. Awalnya Annisa menolak karena merasa tak tenang akan kondisi anak dan menantunya, merasa tak sampai hati membiarkan Viona yang sedang hamil muda harus mengurus Bima seorang diri kendati perawat siap sedia membantu. Setelah diyakinkan dan dibujuk akhirnya Annisa bersedia pulang, tetapi meminta untuk selalu bertukar kabar terlebih lagi jika terjadi hal darurat.


Pukul Sembilan malam Bima baru selesai minum obat dibantu istri tercinta. Lebam-lebamnya tampak mengerikan di permukaan kulitnya menjadi biru keunguan, tetapi rasa sakit di bagian lebam tersebut semakin berkurang dan dokter menjelaskan memang begitulah proses penyembuhannya.


“Ada yang Mas perlukan lagi?” tanya Viona setelah menaruh gelas ke atas nakas samping tempat tidur Bima. Dengan telaten ia melayani segala kebutuhan sang suami, memastikan Bima terurus dengan baik


“Nggak ada." Bima menatap Viona berlumur cinta. "Kalau mengantuk tidurlah, berbaringlah di sofa, sudah dua malam kamu tidur terduduk di kursi. Pasti rasanya tidak nyaman untukmu dan bayi kita.”


Viona menggeleng. “Aku baik-baik saja kok, Mas. malah aku akan sangat sedih jika tidak bisa selalu berdekatan. Aku takkan mampu memejamkan mata dengan benar saat suamiku dalam keadaan sakit. Aku ingin menjadi istri yang selalu mengurus dan mendampingi.” Viona menggenggam tangan kanan Bima dan meremasnya lembut.


“Makasih, Sayang. Atas semua kasih sayangmu untukku,” ucap Bima penuh rasa syukur. “Kalau begitu, mau tidur di sini?” Bima menepuk-nepuk bagian sebelah kanan kasur tempat berbaringnya saat ini.


Bima menggeser posisi berbaringnya dengan hati-hati dan perlahan. Ranjang VVIP yang ditempatinya memanglah besar, cukup untuk memuat dua orang dewasa.


“Nggak usah. Nanti tempat tidurnya sempit, khawatir membuat kenyamanan Mas terganggu. Aku di kursi saja, lagian sekarang ini aku gendutan,” jelas Viona. Ia sama sekali tak keberatan walaupun harus tidur di kursi.


“Nggak akan sempit kok. Naiklah, aku kangen memeluk istriku. Tak masalah sama sekali jika kamu gendut, lagi pula semua itu adalah hasil perbuatanku.” Bima terkekeh dan menyeringai nakal membuat Viona tersipu. “Ayo naik,” pinta Bima lagi.


“Ehm … baiklah.”


Viona naik ke atas ranjang, memosisikan diri dengan hati-hati agar tak mengganggu kondisi tubuh Bima yang sudah pasti terasa remuk redam.


“Letakkan kepalamu di lenganku,” pinta Bima. Ia merentangkan lengan kanannya yang beruntung dalam kondisi baik-baik saja karena yang terluka adalah bahu kirinya.


“Jangan, Mas. Nanti pegal, lagian Mas juga kan belum sembuh benar. Biarkan aku berbagi bantal saja denganmu,” sahut Viona yang belum merebahkan diri. Ia masih berselonjor kaki di samping Bima.


“Sama sekali tidak. Berbaringlah berbantalkan lenganku, aku ingin merasakan dirimu dalam pelukanku,” rengeknya. Tak ubahnya bocah yang mendambakan permen saat dilanda sakit gigi.


Viona terkekeh pelan, kemudian menuruti permintaan Bima. ia berbaring miring berbantalkan lengan sang suami, bantal ternyaman dan terhangat di dunia. Bersarungkan cinta menggebu dengan sulaman rindu yang terukir indah di atasnya.


“Mmhh … aku rindu berbagi kehangatan denganmu,” desah Bima sambil menghidu rakus aroma Viona yang memabukkan sekaligus menentramkan.


Viona balas melingkarkan lengannya di tubuh kokoh sang suami, dengan tetap berhati-hati agar tak mengganggu kinerja peralatan medis. Mendadak Viona teringat sesuatu. Sejak hari buruk itu reaksi mual-mualnya setiap kali berdekatan dengan Bima sirna begitu saja. menguap entah ke mana. Sepertinya si jabang bayi berhenti memusuhi, mungkin si benih yang sedang bertumbuh di rahim Viona itu juga takut kehilangan, sehingga tak ingin berjauhan dengan sang ayah setelah hari penculikan.


“Mas, sadar akan sesuatu nggak?” tanya Viona dengan senyum merekah. Ia sedikit melonggarkan pelukannya dan menengadah, sementara Bima otomatis menunduk hingga bola mata mereka bersirobok.


“Tentang mual-mualku. Aku tak lagi muntah saat berdekatan denganmu,” jelas Viona sembari tersenyum merekah.


Kening Bima berkerut samar. Perkataan Viona memang benar adanya. Ia ikut mengukir senyum disertai mata berbinar, meski tak mampu tersenyum lebih lebar lantaran sudut bibirnya yang terluka cukup parah masih dalam proses penyembuhan.


“Mungkinkah benihku di dalam sana melakukan gencatan senjata?” Bima bertanya berlumur senyum sambil mengelus-elus lembut lengan Viona.


“Mungkin dia juga khawatir pada Ayahnya sehingga memutuskan berdamai. Dia pasti merasakan kalau Bundanya hampir hilang akal saat menyaksikan Ayahnya tak sadarkan diri.” Tangan kanan Viona meraba sisi wajah Bima penuh sayang.


“I love you,” desah Bima serak sambil memaku pandangan pada wajah cantik dipelukannya.


“Me too, hubby.” Viona mengecup rahang tegas Bima sekilas.


“Kalau begitu, itu artinya aku takkan ditelantarkan di tengah tanjakan lagi?" Bima menaikkan sebelah alisnya dan menyeringai penuh arti.


Wanita yang sedang bergelung nyaman di pelukan Bima itu langsung paham dan dapat menangkap bahasa isyarat yang di maksud sang suami. Refleks Viona memukul pelan sisi dada Bima. “Hih … bisa-bisanya di saat sedang terluka begini pikiran Mas malah menjurus ke sana. Dasar mesum!”


“Arghh….”


Rintihan mengaduh keluar dari mulut Bima membuat Viona panik lantaran takut gerakan refleksnya tadi menyakiti.


“Duh … maafkan aku, Mas. Mana, sebelah mana yang sakit?” Viona meraba-raba dada Bima di area tempat mendaratkan pukulannya tadi.


Bima tergelak pelan. Sebetulnya ia tak merasakan sakit sama sekali dari pukulan Viona, hanya mengaduh bermaksud untuk menggoda dan ingin tahu seperti apa reaksi Viona. Bima merasa begitu dicintai dan juga berharga, baru mengaduh sedikit saja Viona sudah belingsatan, menandakan bahwa wanitanya juga memiliki porsi rasa cinta yang sama besar dengannya.


“Nggak sakit kok. Aku cuma pengen godain kamu,” ujarnya dengan raut wajah tanpa dosa.


“Dasar iseng!” Viona mengerucutkan bibirnya kesal sedangkan Bima menatapnya gemas.


Dua sejoli itu kemudian tertawa bersama. Viona kembali menenggelamkan diri di tubuh kokoh favoritnya dan Bima balas memeluknya. Namun, Beberapa saat kemudian reaksi lain justru terjadi pada tubuh Bima. Rabaan Viona di dadanya tadi malah membangkitkan naluri kelelakiannya, padahal saat ini kondisinya sedang terluka, tak memungkinkan untuk memadu kasih. Tubuhnya memang selalu bereaksi tak terkendali jika berdekatan bergesekan dengan Viona.


“Vi.”


“Hmm? Ada apa, Mas?”


“Sepertinya si murahan mulai bangun," terang Bima tanpa sungkan.


“Hah! Yang benar saja! Dia memang sungguh murahan! Tak peduli akan situasi dan kondisi!” dengus Viona sambil menjauhkan tubuhnya dan berpura-pura tak melihat wajah Bima yang kini tampak memelas.