Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Alergi



"Maaf, saya hampir lupa. Silahkan duduk Pak Bima dan juga Vi, eh maksudnya Nyonya Bima." Juna meralat ucapannya diiringi dengan senyuman tipis. Ia mempersilahkan pasangan itu kemudian keduanya mengambil tempat duduk berseberangan dengan Juna.


"Jangan sungkan begitu, Juna. Panggil namaku saja seperti biasanya. Rasanya telingaku gatal mendengarmu memanggilku dengan sebutan Nyonya," protes Viona pada Juna sambil mencebikkan bibirnya.


"Ahahaha ... baiklah." Juna tertawa renyah, dia sebenarnya dibuat gemas melihat tingkah Viona sekarang ini. Namun, apa boleh buat, ia hanya bisa memiliki Viona dalam angan-angan saja. Pria bernetra coklat itu harus mengubur semua harapannya dalam-dalam sebelum perasaannya mengambil alih kendali dirinya dibandingkan nalarnya.


"Mau pesan apa, Vi?" tanya Bima.


"Mmm ... terserah Mas aja deh, sepertinya anak kita ingin ayahnya yang memilihkan menunya untuk makan siang kali ini," pintanya sambil tersenyum manis pada Bima.


Bima mengangguk dan balas tersenyum, kemudian fokus melihat satu persatu jenis makanan yang tertera di buku menu.


"Bagaimana kalau kita pesan lobster saus tiram saja," usul Bima pada istrinya.


"Tidak boleh Pak Bima, Viona alergi lobster!" sambar Juna secara spontan.


Bima menatap Juna keheranan, lalu pandangannya beralih ke samping kanannya di mana Viona tengah duduk. "Benarkah kamu alergi dengan lobster?" lontar Bima penasaran.


"Bagaimana Pak Juna bisa tahu jika istriku alergi terhadap lobster?" tanya Bima penuh selidik pada Juna.


"Saat SMA dulu, Viona pernah bertukar kotak makan siang denganku. Isi kotak bekalku adalah nasi goreng lobster, baru beberapa sendok suapan nasi goreng itu dimakannya Viona langsung sesak napas dan kemudian pingsan tak sadarkan diri," beber Juna sarat akan kekhawatiran dalam setiap untaian kata-katanya. "Jadi, Pak Bima tidak tahu mengenai hal sepenting itu tentang Viona?" Juna sambung bertanya dengan nada sedikit mencela.


"Ah, itu karena aku belum sempat menceritakan tentang hal ini pada suamiku, Jun. Iyakan, Mas?" sanggah Viona, ia kemudian menggenggam tangan Bima dan tersenyum lembut menenangkan.


Sebetulnya Bima merasakan dadanya bergemuruh ketika Juna lebih mengetahui hal penting tentang Viona dibanding dirinya. Tetapi, Bima tidak ingin semesta mengetahui bahwa kini ia tengah terganggu, karena jika mengakui rasa cemburunya itu ibarat melukai harga dirinya.


Ini adalah pertama kalinya Bima merasakan hal asing yang dinamakan cemburu. Namun semua itu adalah salahnya sendiri, selama ini ia bahkan tidak mengetahui apa saja yang di sukai dan tidak disukai oleh istrinya karena tidak pernah bertanya pada Viona dan malah sibuk dengan urusannya sendiri.


Baru tiga bulan terakhir ini hubungannya dengan Viona bisa di bilang normal dan lumrah seperti pasangan menikah pada umumnya, walaupun komunikasi diantara mereka belum banyak membahas tentang hal pribadi masing-masing, ditambah dengan sifat Viona yang tidak banyak mengeluh, membuat Bima terkadang merasa tidak perlu untuk bertanya banyak hal mengenai istrinya.


Namun, sepertinya mulai sekarang hal itu tidak berlaku lagi. Bima harus lebih sering berinisiatif bertanya pada Viona, mengingat Viona adalah tipe wanita yang jarang meminta dan menuntut padanya semenjak mereka menikah hingga sekarang. Bima merasa tidak terima jika pria lain lebih memahami istrinya dibandingkan dirinya sebagai suaminya.


Juna mengepalkan tinju di bawah meja menyaksikan kemesraan dua sejoli di hadapannya. Apalagi melihat Viona yang mencoba menenangkan Bima membuat api dalam dirinya meronta meminta dibebaskan ingin membakar Juna sepenuhnya tanpa sisa. Juna sekuat tenaga mengendalikan dirinya, karena dulu dia terlalu pengecut dan tidak berani mengungkapkan perasaanya pada Viona, sehingga saat kembali untuk menyatakan cinta semuanya sudah sangat terlambat karena si pujaan hati sudah menjadi milik orang lain.