
“Arjuna hentikan! Kamu bisa membunuhnya!”
Viona berkata lantang sembari menghalangi tubuh mantan suaminya mencoba menyadarkan Juna yang membabi buta. Hampir saja bogem mentah itu mengenainya, untung saja Juna berhenti di waktu yang tepat.
“Minggir, Vi! Buat apa kamu melindungi bajingan yang mengganggumu!”
Juna masih diliputi emosi merasa miliknya ada yang mengganggu. Ya, beberapa saat yang lalu Viona baru saja memutuskan menerima cintanya dan mencoba menjalin hubungan dengannya, maka secara otomatis nalurinya langsung mengklaim bahwa Viona adalah miliknya sekarang.
Bima yang terkapar beringsut mendudukkan diri, pelipisnya berdarah dan sudah pasti lebam-lebam akan muncul sebentar lagi di sekujur tubuhnya. Seulas senyum terbit di wajahnya, padahal harusnya Bima mengaduh dengan keadaanya sekarang lantaran dipukuli membabi buta tanpa perlawanan. Sudut hatinya menghangat mengetahui Viona masih peduli padanya.
Viona menoleh ke arah Bima yang kini terduduk di lantai parkiran, tampak kusut masai dengan darah yang mulai mengucur di sisi pelipis kanan. Tangannya gatal, ingin sekali rasanya ia menyeka darah itu dan segera mengobatinya. Viona meremas jemarinya sendiri demi menahan diri agar tidak lepas kendali.
“Yang kayak tadi jangan diulangi ,Vi. Itu sangat berbahaya,” ujar Bima yang sedikit meringis sembari mengatur napas.
Degh….
Juna merasa begitu familiar dengan suara lelaki ini. Sejak tadi dia belum tahu siapa yang dipukulinya, terlebih lagi sekarang posisi Viona berdiri menghalangi pandangannya. Ia bergeser melangkah ke samping, matanya membulat begitu melihat jelas sosok yang terduduk di lantai parkiran. Ekspresinya seketika mengeras, Juna cemburu karena Viona membahayakan diri sendiri demi Bima, lelaki yang telah membuat wanita yang dicintainya menderita.
“Karena dia mantan suamimu jadi kamu menghalangiku untuk memberinya pelajaran? Kamu lebih memilih melindunginya dan membahayakan dirimu sendiri demi lelaki yang sudah membuatmu menderita, begitu huh?” Nada bicara Juna naik beberapa oktaf dengan kilatan mata tajam akibat emosi yang bergejolak, lelaki yang tengah cemburu memanglah menakutkan.
“Bukan gitu, Jun. Justru aku ingin melindungimu, kalau sampai dia kenapa-napa nati kamu juga yang bakalan kena masalah. Ngerti!” Viona berkata lugas.
Ekspresi Juna yang asalnya mengeras seketika melunak setelah mendengar penjelasan Viiona. Senyum penuh kemenangan tercetak jelas di wajahnya.
“Sebaiknya kamu jangan mengganggu Viona lagi, sekarang dia adalah kekasihku!" ucap Juna dengan tatapan dingin kepada Bima. Ia kemudian merangkul pingang Viona hingga merapat padanya walaupun yang dirangkul menunjukkan reaksi tak nyaman diperlakukan seperti itu.
Bima berdiri, menguatkan diri menopang tubuh lunglainya. Bukan hanya raganya yang sakit, tetapi juga ditambah kalbunya yang tengah meraung pilu. Dia membungkuk meraih tas Viona yang tergeletak di lantai.
"Aku tak bisa berjanji, karena kedepannya aku mungkin akan sering menemuinya,” sahut Bima santai tetap berusaha mengontrol diri agar tak tersulut emosi. Walaupun jujur saja ketika melihat tangan Juna di pinggang Viona, ingin rasanya dia mematahkan jari jemari itu sekarang juga.
“Jangan nekat! Apa kamu nggak paham kalau aku dan Viona tengah menjalin hubungan?” Juna masih cemburu buta.
“Walaupun begitu aku akan tetap menemuinya. Jangan lupa, ada anak diantara kami,” tukas Bima, kali ini gerahamnya mengetat. Mendengar itu kilatan mata Juna kembali menyambar-nyambar sementara Viona masih terdiam.
Ingin rasanya Viona berteriak dan memaki ketika Bima menyebutkan perihal anak. Kenangan menyakitkan saat Bima menggunakan Nara untuk membuatnya mencari barang laknat itu kembali memenuhi benaknya. Anak yang sama sekali tak lebih penting dari barang haramnya kala itu. Viona menahan gejolak amarahnya karena adanya Juna bersamanya, dia tak ingin perseteruan di sini semakin runyam, untuk sekarang lebih baik pulang dan mendinginkan kepala.
“Kamu!” Juna hendak merangsek ingin mendekati Bima lagi, tetapi di tahan oleh Viona.
“Juna! Mas Bima! Sebaiknya kalian berhenti, ini tempat umum!” Viona berusaha menghentikan perseteruan mereka lantaran tak ingin mengundang perhatian orang-orang, beruntung tempat parkir sedang sepi.
“Ini tas milikmu, Vi. Tadi kamu meninggalkannya di meja.” Tangan Bima terulur memberikan tas tersebut kepada Viona.
“Sebaiknya kamu pulang, Mas. Obati lukamu dengan benar.” Setelah mengucapkan itu Viona menyambar tas dari tangan Bima dan menggandeng Juna melangkah pergi dari sana.