
Demi pembaca setiaku tersayang aku up lagi deh walaupun like belum 200 😁. Selamat membaca my beloved readers, jangan lupa parkirnya bayar ya 😳💕😍.
*****
Pandu undur diri dari ruangan Juna dan segera keluar dari gedung perkantoran itu. Dia menuju ke kafe yang terletak di seberang kantor dan duduk di sana kemudian mengeluarkan ponselnya.
Pandu menghubungi Ayah Juna, dulu Pandu bekerja di perusahaan inti milik ayah Juna di luar pulau. Saat sang anak memutuskan ingin membuka cabang untuk melebarkan sayap perusahaan, Pandu sebagai orang kepercayaannya di utus untuk mendampingi Juna dalam mengelola perusahaan yang dirintis anaknya di Kota Bandung juga Jakarta.
Pandu melaporkan perihal gelagat Juna yang agak aneh akhir-akhir ini. setahu Pandu, Juna adalah sosok yang tak pernah tertarik mengusik orang lain, tetapi sudah beberapa hari ini bos-nya itu getol mencari-cari kesalahan dan keburukan perusahaan lain.
Dalam mengelola perusahaan Juna memanglah sangat tegas terhadap bawahannya, maka dari itu tak heran dia bisa sukses di usia muda. Namun, belakangan ini emosinya kerap naik turun tidak terkendali, tak jarang Pandu sering terkena imbas pelampiasan amarah Juna.
Sisi lain Juna yang ini tak pernah ditunjukkannya pada Viona. Rasa cintanya pada Viona membuat Juna menjadi sosok yang lembut penuh kasih sayang hanya kepada Viona seorang, tetapi kini obsesi ingin memiliki menguasai dan membelit nalarnya, sehingga ia mulai hilang kendali dalam mengontrol sisi posesif serta cemburu butanya.
Sudah tiga hari ini Viona tak mau bicara dengannya, Juna sungguh frustrasi dan semakin takut Viona beralih haluan dengan cepat kepada Bima. Sudah tiga hari pula dia tak makan teratur, hanya kopi dan rokok filter yang terus-menerus mampir di mulutnya, nafsu makannya hilang ditelan kesepian lantaran si pujaan hati tengah menjaga jarak dengannya
Pukul sembilan malam Juna pulang masuk ke apartemennya dengan langkah gontai, membanting tubuhnya yang terasa luar biasa lelah akibat dari pikirannya yang caruk maruk penuh beban. Lelaki tampan berambut lurus itu tampak menyedihkan serta kesepian, banyak wanita yang menaruh hati padanya, akan tetapi di matanya hanya ada Viona, si wanita mungil bermata indah yang selalu dipujanya juga diinginkannya hingga hampir gila rasanya.
“Halo Pi?”
“Arjuna, kamu jangan macam-macam! Untuk apa kamu mengorek informasi tentang perusahaan yang jelas-jelas tidak mempunyai kerjasama dengan kita?” seru ayahnya dengan nada meninggi dari seberang telepon.
“Akh… pasti Pandu yang mengadu!” jawabnya kesal
“Pandu memang kuutus untuk melaporkan apapun tentang dirimu juga perusahaan. Itu sudah tugasnya!” tegas sang ayah.
“Aku hanya sedang mencari celah untuk berinvestasi.” Juna berusaha berkilah mencari alasan.
“Jangan berdusta. Papi sangat mengenalmu. Jika tujuannya untuk mengetahui seluk beluk perusahaan yang akan menjadi mitra kita itu tak mengapa untuk berhati-hati dan juga berjaga-jaga saat hendak melakukan investasi. Tapi sinar Abadi Grup, untuk apa kamu mencari-cari seluk beluk perusahaan besar itu? Perusahaan yang sama sekali tak ada hubungnnya dengan bidang yang kita geluti? Berhenti mengusik orang lain! Jalani hidupmu juga perusahaan dengan benar seperti biasanya. Jika kamu berulah, Papi akan menarikmu dari perusahaan cabang Bandung juga Jakarta dan menyeretmu pulang! Karena jika kamu terus begitu perusahaan akan hancur dan para karyawan yang menggantungkan hidup akan kehilangan pekerjaannya. Ingat itu!’
Panggilan berakhir. Juna menghela napas panjang dan menatap layar ponselnya nanar, di sana ada foto cantik Viona sebagai wallpaper, tanpa sadar, tetesan kristal bening luruh dari sudut matanya.
“Kenapa… kenapa jalanku ingin bersamamu begitu sulit Vi,” lirihnya pilu.