
Alkohol?
Bima duduk termangu di tepi sofa, mencoba mendekatkan hidungnya ke wajah Sesil dan menajamkan indera penciumannya, mengendus untuk memastikan dugaannya.
"Kenapa?" tanya si dokter yang segera menghampiri Bima.
"Coba kamu pastikan, aku takut penciumanku salah. Ini ... ini aroma minuman beralkohol, bukankah wanita hamil tidak boleh mengkonsumsi minuman semacam itu?" ujar Bima sambil mengerutkan kening.
Temannya juga ikut membaui Sesil, kemudian setelah beberapa saat ia melirik menatap Bima sembari mengangguk tipis pertanda mengiyakan.
"Dasar wanita gila! Heh, Sesilia. Bangun! Bisa-bisanya kamu minum alkohol dalam kondisi mengandung Anakku!" Bima mengguncangkan tubuh Sesil dan berseru kencang.
Sesil mulai terusik, dia masih dikuasai mabuk beratnya sehingga hanya merespons dengan gumaman tak jelas, menepiskan tangan Bima yang sedang mencengkeram bahunya.
"Tolong kamu periksa, aku khawatir dengan kondisi anakku di dalam sana," pinta Bima, nada suaranya marah bercampur cemas.
Temannya mengangguk dan segera melakukan tugasnya melakukan pemeriksaan menyeluruh secara seksama. Akan tetapi, setelah selesai memindai kondisi tubuh Sesil, dia melempar tatapan kebingungan ke arah Bima dengan raut wajah penuh tanya.
"Kenapa? Ada apa?" ujar Bima gelisah melihat ekspresi si dokter yang tidak beres.
"Bima?"
"Iya ada apa? Cepat katakan!" sahutnya tak sabaran.
Dokter itu menghela napasnya pendek-pendek sebelum menjawab pertanyaan Bima. "Sebelumnya kamu mengatakan padaku bahwa wanita ini sedang mengandung anakmu. Benarkah kamu pernah tidur dengannya?" tanyanya penasaran.
Bima menjambak rambutnya frustrasi dengan embusan napas beratnya dan mengangguk lemah. "Beberapa waktu yang lalu, karena suatu hal aku sempat lepas kendali dan menidurinya karena kukira dia adalah istriku," sesalnya dengan rahang mengetat.
"Kamu sudah pernah memastikan tentang kehamilannya sebelumya?"
Temannya menggaruk-garuk tengkuknya tak gatal sebelum mengatakan hasil diagnosanya. "Bim, aku sudah memastikan kondisinya secara keseluruhan dengan seksama. Dari hasil pemeriksaanku, wanita ini, dia ... dia tidak hamil. Tidak ada janin di dalam rahimnya," jelasnya kepada Bima.
"Kamu yakin?" tanya Bima kembali, matanya membola sempurna.
"Sangat yakin," sahut si dokter tanpa keraguan sedikit pun.
Bima terdiam terpaku tak bersuara, otaknya masih mencerna penjelasan temannya. Memejamkan mata sesaat sembari memijat-mijat pangkal hidungnya. Dadanya tersengal naik turun karena menahan gejolak luapan emosi dan saat netra tajamnya kembali terbuka tatapan menghunus langsung dilayangkan ke arah wanita yang tengah tergolek di sofa.
"Sesilia... bangun! Dasar j*lang. Berani-beraninya kamu menipuku!" geram Bima dengan gigi gemeletuk. Jika saja Sesil bukan wanita, mungkin Bima sudah menghajarnya dan meremukkannya hingga babak belur.
"Duh, siapa sih berisik banget. Kepalaku pusing, biarkan aku beristirahat," keluh Sesil yang masih belum tersadar sepenuhnya.
Bima pergi ke dapur mengambil segelas air dan menyiramkannya dengan kasar tepat di wajah Sesil. Wanita itu langsung terperanjat kaget dan mendudukkan dirinya perlahan sambil terbatuk-batuk karena siraman air tadi masuk ke hidungnya hingga membuatnya tersedak di tenggorokan.
Sesilia mengusap wajah basahnya dengan kedua tangannya, menyeka matanya yang buram karena air menghalangi penglihatannya. Ia langsung terkesiap melihat keberadaan Bima, meskipun kesadarannya belum sepenuhnya kembali.
"Sudah sadar kamu sekarang!" bentak Bima dengan suara meninggi.
"Bim, k-kapan kamu datang? Ke-kenapa tidak mengabariku dulu." Sesil tergagap ketakutan.
Bima mencengkeram leher Sesil dan hampir saja mencekik wanita j*lang itu jika temannya tidak menghentikannya.
"Bima, lepaskan! Kamu bisa membunuhnya!" Temannya mengingatkan seraya berusaha menghentikan amukan Bima.
Sesil terbatuk-batuk dan memegangi lehernya yang sakit bekas cekalan Bima tadi. "Bima, kenapa kamu kasar sekali padaku? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Anakmu!" pekik Sesil yang belum menyadari bahwa kebohongannya telah terbongkar.
"Hentikan sandiwaramu! Kamu sama sekali tidak hamil!" teriak Bima lantang penuh kemurkaan.