Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Surat Undangan



Berita tentang permasalahan perusahaan Juna ikut terdengar ke telinga Viona juga Bima. Abdul yang juga terdaftar sebagai salah satu investor pun ikut terkejut, beruntung dana yang diinvestasikan di perusahaan mitra bisnis Juna itu baru ditransferkan sepertiganya. Hanya saja meskipun sepertiga tetap saja jumahnya tak sedikit. Abdul memang tak menuntut uangnya kembali, bagaimanapun semua ini adalah musibah, atau mungkin juga sebuah teguran untuknya atas sifat keras kepalanya.


Viona, Bima dan Juna. kini tengah duduk bertiga di sebuah cafe. Sebuah cafe berkonsep cozy yang sangat ideal dijadikan tempat untuk berbincang santai. Kursi dan sofa empuk berwarna oranye menjadi desain interiornya, dipadu meja-meja kayu yang terkesan alami namun tetap kekinian. Alunan musik jazz ikut memanjakan pendengaran, membuat para pengunjung betah berlama-lama di sana.


Sore ini Viona memang sengaja meminta bertemu karena ada hal yang ingin disampaikannya, juga ikut bersimpati akan musibah yang menimpa Juna.


Di meja mereka telah tersaji tiga buah minuman. Caramel machiato pesanan Viona juga dua cangkir Vietnam Drip. Bima memesan Vietnam Drip dengan susu sementara Juna memesan yang original.


“Gimana kabarmu, Juna?” Viona membuka suara setelah hanya keheningan yang terbentang di antara mereka bertiga. Ia duduk berdampingan dengan Bima sementara Juna duduk berhadapan dengannya terhalang meja.


“Aku baik,” sahutnya sambil mengulas senyum tipis, meraih cangkirnya dan menyesap rasa getir bercampur sedikit asam yang membasuh lidah dan tenggorokannya.


Matanya nanar menyaksikan pemandangan yang tersaji di depan matanya. Viona dan Bima memanglah ditakdirkan untuk bersama, tampak serasi satu sama lain, bahkan aura kecocokan itu menguar dengan kuatnya ke sekitar.


Juna sempat berpura-pura buta dan mendustai dirinya sendiri, tetapi sekeras apapun dia menyangkal, pada kenyataannya memang Viona diciptakan hanya untuk Bima seorang.


“Syukurlah, Viona menghawatirkanmu ketika mendengar berita itu. Semoga bisa segera teratasi, jika butuh bantuanku katakan saja, jangan sungkan. Teman Viona berarti temanku juga,” ucap Bima penuh ketulusan.


“Thank you, Bim. Vi, Kukira kamu takkan pernah merasa khawatir padaku, haruskah aku terkena sial setiap hari agar kamu terus mencemaskanku?" Juna terkekeh pelan.


“Juna kau ini!” Viona tertawa kecil menanggapi candaan laki-laki yang memakai kaos oblong warna biru langit itu. “Semoga permasalahanmu segera terselesaikan dan semoga kamu juga segera dipertemukan dengan jodoh terbaik pilihan Sang Pencipta.”


“Jika kamu memutuskan ingin bersamaku, aku masih bersedia. Sebelum terlambat." Juna berkelakar seraya tersenyum getir.


“Hei… apakah kamu berniat mengundang singa di dalam diriku untuk menerkammu, kawan?” Bima menjawab diiringi tawa renyah begitu juga Viona.


Viona membuka tasnya dan mengambil sebuah amplop persegi empat berwarna krem yang dihiasi pita warna navy dan menaruhnya di meja tepat di hadapan Juna.


Juna mengambil amplop tersebut dan sedikit mencengkeramnya, sejumput rasa ngilu menyelinap di kalbunya walaupun ia sudah mengikhlaskan Viona yang memang bukan untuknya.


Ia meraba dan menyusuri tulisan yang tertera di bagian depan amplop menggunakan jemarinya, hujaman perih di hatinya mengiringi setiap kata yang dibacanya.


The Wedding of, Bima Prasetyo & Viona Rasyid.


“Selamat, semoga kalian selalu berbahagia.” Juna mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


“Makasih Jun,” jawab Bima dan Viona serempak sambil berjabat tangan bergantian.


“Aku juga minta maaf, karena sempat tak terkendali hingga memaksakan ambisisku padamu, Vi.” Juna melirih perih. Meski merelakan itu sulit, tetapi dia harus melakukannya, demi Viona juga dirinya.


"Aku sudah memaafkanmu, Juna. Aku pun memohon maaf yang sebesar-besarnya padamu atas segala kesalahanku, baik yang disengaja maupun tidak, dan juga terima kasih, atas kebaikanmu selama ini.“


*****


Setelah dari kafe, Bima mengajak Viona ke suatu tempat untuk bertemu seseorang sembari memberikan surat undangan. Mobil berbelok ke sebuah rumah yang juga terdapat klinik di bagian depannya.


“Ini di mana, Mas?” Viona membuka seat belt, mengedarkan pandangan melaui kaca mobil di tempat yang baru dikunjunginya ini.


“Ayo turun. Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang?”