
Sejak dua tahun yang lalu, Viona memutuskan untuk pindah dengan Nara ditemani satu ART dan sopir. Walaupun dengan berat hati, Abdul dan Rima akhirnya mengijinkan dengan catatan rumah tinggal yang baru tak terlalu jauh. Viona mengatakan ingin mencoba hidup mandiri agar menjadi pribadi yang lebih kuat demi Nara, dia tak ingin menjadi ibu yang lemah dan banyak bergantung pada sekitar.
Viona tak setiap hari datang ke butik, dalam seminggu sekitar tiga atau empat kali dia datang, selebihnya Viona lebih banyak bekerja dari rumah agar tak banyak melewatkan masa-masa pertumbuhan anak semata wayangnya.
Malam ini Viona pulang cukup larut. Pukul Sembilan malam dia baru sampai di rumah dan pasti Nara sudah tertidur. Pekerjaan mengunjungi gerainya cukup menyita waktu. Juna setia mengantarnya, dari berkeliling hingga pulang ke rumah.
“Makasih ya Jun, udah nganterin. Tentang pesta itu, kurasa aku ada waktu,” ucap Viona sembari membuka sabuk pengaman.
Juna tersenyum lebar karena senang, dia kemudian menggenggam tangan kanan Viona. “Makasih Vi. Lalu tentang tawaranku, apakah kamu sudah mengambil keputusan?” desak Juna.
“Hei, kenapa jadi ke situ lagi.” Viona terkekeh sambil mengibaskan tangan kirinya.
“Aku serius.” Juna meangkup kedua sisi wajah Viona lembut hingga pandangan mereka bertemu. “Aku beneran cinta sama kamu Vi, aku sudah mengatakan itu sebelumnya bukan? apakah kamu masih meragukan perasaanku?”
“Tapi bagiku tak ada yang lebih baik selain kamu, dan aku tulus menyayangi Nara. Nara butuh sosok seorang ayah, kamu tak bisa menampiknya. Ingat kan, apa yang diutarakannya tadi pagi? izinkan aku untuk membahagiakan kalian.” Juna menatap lekat-lekat ke dalam iris cantik Viona.
Viona termenung, memikirkan semua ucapan Juna yang memang benar adanya. Viona sama sekali tak ragu akan ketulusan Juna, justru ia meragu pada dirinya sendiri. Apakah dirinya mampu membalas perasaan Juna dengan rasa yang sama? Saat hatinya yang telah koyak tak terbentuk itu separuhnya tertinggal di suatu tempat, sedangkan separuhnya lagi masih takut untuk menerima rasa yang sama walaupun sudah terbungkus perban di mana-mana.
“Jun, aku_” Ucapan Viona terhenti, sebuah benda hangat dan basah membungkam bibirnya. Juna menciumnya, ini adalah kali pertama Juna berani melakukan ini. Sejak tadi ranumnya bibir Viona mebuatnya tak tahan ingin menyatukan bibir mereka, bagaimanpun juga Juna itu lelaki normal.
Viona meronta berusaha melepaskan diri, tetapi tubuh kekar Juna tak sebanding dengan tubuh mungilnya. Namun, lama-kelamaan Viona mulai terbuai juga, sudah lama dirinya tak disentuh seperti ini. Bibir mereka saling berkejaran, keduanya hanyut, hingga akhirnya Viona kembali meraih akal sehatnya dan mendorong tubuh Juna sekuat tenaga.
“Ini… ini salah Jun. Ki-kita seharusnya nggak kayak gini. Sebaiknya kamu pulang.” Viona segera membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Juna yang tertegun menatap punggungnya menghilang di balik pintu.
Juna menyugar rambutnya kasar dan memukul setir karena kesal pada dirinya sendiri. Seharusnya dia bisa menahan diri seperti yang selama ini dilakukannya, Juna merutuki dirinya yang tak bisa mengontrol hasratnya. Dan tanpa mereka sadari, sejak tadi sepasang mata mengawasi dari kejauhan dengan tatapan nanar.