Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Reuni



Selepas makan malam, Bima duduk bersantai di sofa sambil menonton siaran berita malam di televisi. Viona menghampiri dan ikut duduk di sampingnya.


"Mas, aku mau ngomong sesuatu." Viona membuka pembicaraan, tangannya meremat ujung baju tidurnya sendiri, berusaha mengumpulkan keberanian dan menyiapkan mentalnya.


"Ada apa?" sahut Bima dengan mata yang masih fokus pada acara yang ditontonnya.


"Aku diundang ke acara Reuni teman-temanku sewaktu SMA, Mas. Acaranya besok, bisakah Mas menemaniku pergi? Karena teman-temanku juga membawa pasangan mereka masing-masing."


"Reuni?" Bima mengerutkan keningnya dalam. "Aku tidak nyaman dengan acara seperti itu. Berkumpul dan membuang waktu berlama-lama dengan orang-orang yang tidak kukenal. Jika ingin pergi, pergilah sendiri."


"Maksudnya, aku boleh pergi sendiri?" Viona merasa sedikit lega, setidaknya walaupun Bima tidak mau menemani tapi ia masih diizinkan untuk pergi.


"Pergilah. Tapi ingat, kamu tidak boleh terlalu lama perginya. Besok aku pulang cepat karena hanya akan meninjau proyek. Sebelum aku sampai di rumah kamu harus sudah pulang."


"Ba-baiklah Mas, makasih sudah mengizinkanku pergi," jawab Viona sambil mengulas senyumnya.


Bima hanya mengangguk tipis dan kembali fokus pada layar televisi.


*****


Hari Sabtu telah tiba. Viona sedang berdandan sebelum pergi ke acara reuni. Perutnya sudah terlihat membuncit, ia memakai terusan cantik berwarna mocca di bawah lutut, dipadu cardigan warna marun membuat warna kulitnya terlihat makin bersinar. Tak lupa memoles wajahnya dengan riasan tipis saja supaya terlihat segar, rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah membingkai wajah cantiknya.


Viona duduk di teras rumah menunggu dijemput Ibel karena sudah berencana berangkat bersama-sama dengan sahabatnya itu. Tak berselang lama mobil Ibel sudah sampai di depan rumahnya.


"Viona ... gue kangen banget sama lo." Ibel menghambur dan langsung memeluk Viona.


"Ibel, jangan kenceng-kenceng meluknya, ini perut gue kejepit tau!" gerutu Viona.


"Eh iya, maaf gue lupa kalau sekarang lo bawa-bawa drum kemana-mana hehe," sahut Ibel cengengesan sambil mengelus-elus perut Viona.


"Enak aja lo ngatain perut gue kayak drum!" Viona mencebik sebal. "Mana si Zoey? dari tadi nggak kelihatan?"


"Ayang mbeb gue ntar nyusul ke tempat acara, dia nggak berangkat bareng kita karena masih ada pertemuan penting dengan para pelatih sepakbola yang lainnya. Tapi sayang banget ya, suami lo gak bisa ikut, padahal gue udah menanti lama buat cuci mata ngeliat om-om hot macam laki lo hehe." Ibel mulai menaik turunkan alisnya dengan gaya genit.


"Om-om hot, emangnya laki gue kompor! Udah yuk, kita berangkat. Nanti keburu mulai acaranya," ajak Viona sambil melirik arloji di pergelangan tangannya.


"Siap, Nyonya, laksanakan. Mari kita berangkat."


*****


Ibel segera melajukan mobilnya ke tempat yang dituju. Acara reuni diadakan di sebuah cafe yang cukup kondang di Kota Bandung. Saat mereka tiba, tampak sudah banyak teman-temannya yang hadir lebih dulu.


Mereka semua saling melepas rindu, bercengkerama dan bernostalgia dengan gembira. Viona tertawa lepas, sejenak mampu melupakan segala sesak yang memenuhi jiwa. Di tengah-tengah obrolan mereka, datanglah seorang lelaki tampan yang begitu kharismatik menghampiri Viona.


"Viona?" sapa lelaki itu memanggil.


Viona merasa begitu familiar dengan suara yang memanggil namanya, ia menolehkan kepala ke arah sumber suara.


"Ar-Arjuna?" Mata Viona berbinar, senyuman seindah purnama tersungging di wajah cantiknya.


Arjuna, lebih akrab disapa Juna. Adalah teman Viona semasa SMA. Arjuna dan Viona memiliki kebiasaan yang sama yaitu gemar membaca buku saat jam istirahat tiba dan mereka sering bertemu di perpustakaan sekolah.


Dulu, penampilan Juna juga terlihat cupu dan kutu buku seperti Viona, maka dari itu mereka bisa berteman dengan baik karena mempunyai banyak kecocokan dalam berbagai hal.


Namun, saat menginjak kelas sebelas Juna pindah sekolah juga rumah keluar pulau bersama orang tuanya. Sejak saat itu Viona tidak pernah lagi bertemu maupun mendengar kabarnya.


Sejenak Viona terpaku. Juna yang ada di hadapannya sekarang telah berubah menjadi sosok tampan dan perlente. Tubuhnya tinggi tegap, kulitnya bersih, rambutnya hitam legam tertata dengan rapi membuat penampilannya semakin kharismatik. Viona menerima uluran tangan Juna yang duduk di kursi sebelahnya.


"Aku baik Jun, gimana kabarmu? Lama gak ketemu kamu banyak berubah, hampir saja aku tidak mengenalimu." Viona terlihat begitu senang dan bersemangat bisa bertemu dengan Juna kembali.


"Kamu juga Vi, sekarang berubah jadi semakin cantik dan modis." Kemudian tatapan Juna teralih ke arah perut Viona yang membuncit. "Kamu sudah menikah?" Sorot mata Juna tiba-tiba menyendu, tampak gurat kekecewaan di wajahnya.


"Iya, Jun. Aku sudah menikah. kamu sendiri gimana, udah nikah juga?" tanya Viona.


Juna menggelengkam kepalanya. "Belum, tidak ada gadis yang mau menikah denganku, sungguh kasihan bukan?" sahut Juna sambil menggedikkan bahunya.


"Hahaha, aku tidak percaya, mungkin kamu yang terlalu pemilih." Viona memicingkan matanya.


"Mungkin kamu benar, tidak mudah mencari belahan jiwa yang juga mencintai buku sama sepertiku."


"Wah wah wah, kamu masih sama seperti dulu. Sepertinya buku-bukumu masih berada di urutan teratas dalam daftar kehidupanmu, jangan-jangan kamu lebih suka berpacaran dengan buku daripada pergi kencan dengan seorang gadis," ejek Viona berbalut canda.


"Justru karena kesibukanku sekarang, aku hanya punya waktu sesekali untuk menghabiskan waktu bersama pujaan hatiku," Juna terkekeh pelan.


Viona tertawa renyah karena ia tahu yang dimaksud Juna dengan pujaan hati adalah tumpukan buku-buku favoritnya. "Kamu sekarang tinggal di mana? Sejak pindah keluar pulau sama sekali tidak ada kabar tentangmu."


"Setahun yang lalu aku pindah ke Jakarta untuk mengurus perusahaan cabang milik keluarga papi dan mamiku. Kudengar sekarang kamu membuka butik, Vi?"


"Iya, aku membuka butik sendiri. Karena aku suka membuat sketsa dan tertarik di bidang fashion. Pekerjaanmu di bidang apa?" tanya Viona penasaran.


"Perusahaan yang kukelola bergerak di bidang pabrik tekstil. Kami memroduksi hampir semua jenis kain. Dari kualitas biasa hingga yang ekslusif, jika membutuhkan kain untuk butik, kamu bisa menghubungiku. Mungkin ke depannya kita bisa bekerja sama," tawar Juna.


"Benarkah?" Mata Viona berbinar senang. "Makasih atas tawarannya, aku memang sedang mencari pemasok yang menyediakan jenis kain yang lengkap, aku pasti menghubungimu."


Saat Viona dan Juna sedang asyik bercengkerama datanglah Ibel menghampiri. "Ehm, ini ibu hamil ngidamnya pengen deket-deket sama cowok ganteng kayaknya, dari tadi ngobrolnya asyik bener." Ibel menarik kursi dan duduk di samping Juna.


"Hai bel," sapa Juna.


"Oh, hai tampan." Ibel mulai mengedip-ngedipkan matanya dengan genit.


"Ngomong-ngomong kamu siapa ya, kok kenal aku? Lagi pula di buku alumni nggak ada cowok yang modelnya kaya kamu?" Ibel memindai Juna dari kepala hingga ujung kaki.


"Aku Juna, Arjuna." Juna mengulurkan tangannya pada Ibel sambil tersenyum manis.


"Juna?" Ibel melongo karena lelaki di depannya ini sama sekali bukan Juna yang dikenalnya.


"Kamu beneran Juna? Arjuna si cupu itu!" Ibel setengah berteriak saking pangling dengan tampilan Juna sekarang.