Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Hancur



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


*****


“Jangan berdusta! Lagipula aku tak butuh seorang pengkhianat sepertimu. Akan kukabulkan, mulai hari ini kita bukan lagi suami istri, kujatuhkan talak satu padamu saat ini juga, Viona!” serunya dengan suara meninggi tanpa belas kasihan.


Dhuarrrr….


Bagaikan petir menyambar memekakkan telinga, seketika Viona menjerit histeris disertai kristal bening mengucur deras setelah mendengar kalimat yang meluncur lugas dari mulut suaminya.


“Nggaaaaakkkk… nggak Mas, istighfar Mas. Aku nggak mau kita pisah, Nara butuh kamu Mas. ingatlah anak kita!" Viona mencoba meraih lengan Bima yang berakhir dengan tepisan kencang hingga tubuhnya terjerembab ke lantai.


"Telingamu tuli ya? aku sudah menceraikanmu! Ingat itu baik-baik!" Bima melangkah pergi tak mempedulikan Viona yang menangis meraung-raung, Viona bangkit dan mencoba menahan Bima, tetapi semua itu percuma, Bima seolah sudah dikuasai setan dan pergi tanpa menoleh lagi dengan bantingan pintu berdentum kencang diujungnya.


Viona meraung di ruangan itu menghiba memanggil-manggil nama Bima, ia masih tak ingin memepercayai ucapan Bima yang menusuk jiwanya luar biasa menyakitkan. Para petugas setengah menyeretnya memintanya untuk segera pergi lantaran waktu besuk sudah berakhir, akan tetapi Viona meronta dan memohon untuk memanggil suaminya kembali.


“Tolong Pak, saya harus bicara pada suami saya. Tolong panggil lagi sebentar saja, saya tak ingin bercerai!” jeritnya dengan bibir gemetar disertai air mata yang membanjiri.


“Maaf Nyonya, silakan datang lagi besok. Waktu besuk hari ini sudah habis.”


“Nggak bisa Pak. Saya harus bicara sekarang juga, saya mohon Pak, saya mohon!” jeritnya memilukan, bahkan Viona mencengkeram kuat lengan si petugas.


Sementara di tempat parkir Juna tampak resah. Dia sempat mendengar bahwa Abdul melarang keras Viona menemui Bima. Lelaki berhidung mancung itu sempat menolak dengan halus saat dimintai mengantar ke rutan, tetapi Viona memohon dengan sangat bahkan disertai tangisan agar Juna bersedia mengantarnya menemui Bima walaupun hanya sebentar, juga meminta merahasiakan semua ini dari orang tuanya.


Juna mengetuk-ngetuk setir. Merasa bosan terus menunggu di dalam mobil, dia beranjak turun dan berniat melihat-lihat sekeliling area parkir yang ditanami pepohonan menjulang tinggi. Baru saja dia duduk di kursi panjang yang terletak di bawah salah satu pohon, terlihat seorang petugas berlari tergopoh-gopoh menuju pos keamanan tempat parkir.


Tampak petugas itu berbincang serius dengan satpam, kemudian si satpam ikut keluar dari posnya dan menghampiri Juna. “Maaf Mas. Mas ini yang tadi mengantar wanita ini kan? namanya Viona.” Satpam menunjukkan KTP Viona yang memang tadi disimpan di pos sesuai peraturan bagi siapapun yang hendak membesuk.


“Iya benar, ada apa ya Pak?” sahut Juna sopan.


“Wanita ini pingsan di ruang besuk setelah beradu mulut dengan napi yang dikunjunginya.”


“Apa! Kenapa mendadak pingsan?” Juna melonjak terperanjat kaget. “Di mana Viona sekarang?”


“Masih di ruang besuk, ayo ikut saya. Saya takut dia kenapa-napa.”


Juna bergegas mengikuti petugas, inginnya dia berlari agar segera sampai, tetapi dia harus tetap sabar dan tenang menyeimbangkan langkah mengekori karena tak tahu di mana letak ruang besuk berada. Begitu sampai di depan pintu yang dimaksud, Juna merangsek masuk menyela dan terlihatlah Viona yang tak sadarkan diri terbaring di atas kursi panjang ditemani seorang petugas wanita yang sedang membaui kayu putih ke hidungnya.


‘Vi, kamu kenapa? bangun Vi.” Juna menepuk-nepuk lembut pipi Viona. Diperhatikannya wajah Viona yang semakin pucat membuat Juna diserbu kepanikan. “Saya akan membawanya ke rumah sakit sekarang juga.”


Tak membuang waktu Juna meraup Viona menggendongnya menuju parkiran. Dua orang petugas mengikuti di belakang, dan membantu membaringkan Viona di kursi penumpang.


“Terima kasih atas bantuannya.” Setelah berpamitan singkat, Juna segera tancap gas menuju rumah sakit terdekat dengan kecemasan yang mengerubutinya di sepanjang perjalanan.