
“Ayah?”
Aura mencekam menguar begitu saja, terasa merinding di bulu kuduk Viona.
“Ka-kapan datang?” tanyanya sambil menelan ludah susah payah.
“Baru saja, sepulang dari kantor Ayah langsung datang kemari. Duduklah, ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan,” titahnya tegas.
Viona duduk di sofa berhadapan dengan Abdul, meremas taIi tas selempang yang tersampir di bahu dengan wajah tertunduk tak tenang.
“Coba jelaskan, apa ini!” Abdul menaruh ponselnya di meja, di sana tampak foto-foto dirinya dengan Bima di mall tadi siang.
“Untuk apa kamu pergi berdua saja dengannya? Kenapa mendadak menjadi wanita murahan? Jelas-jelas sebentar lagi kamu akan bertunangan dengan Juna!” bentak Abdul membuat Viona berjengit kaget.
“A-ayah… aku ingin mengatakan se-sesuatu.” Viona beringsut turun dari kursi, berlutut di lantai dekat kaki Abdul. “Ayah, maaf. Aku ingin membatalkan rencana pertunanganku dengan Juna. A-aku tak bisa bersamanya, aku tak pernah mencintainya," ucapnya lirih masih dengan wajah tertunduk.
Mengumpulkan keberanian susah payah Viona akhirnya mengutarakan isi hatinya dengan suara bergetar, seumur hidupnya baru kali ini dia memberanikan diri menentang titah sang ayah.
“Apa kamu bilang? Pasti si mantan narapidana itu telah meracuni pikiranmu untuk membatalkan pertunanganmu! Lagipula dulu saat kujodohkan dengan Bima kalian menikah bukan karena cinta, lantas kenapa sekarang kamu menjadi naif akan cinta, Juna lelaki yang tepat untuk menjadi pendampingmu, bukan si mantan pecandu itu!” Abdul menggebrak meja murka.
Viona tampak marah, seiring remasannya di tali tas yang semakin menguat. “Ayah, tolong jangan memanggil Mas Bima dengan sebutan buruk begitu, bagaimanapun juga dia ayahnya Nara, juga laki-laki yang kucintai! Aku juga punya perasaan, Yah, aku ini anakmu, bukan boneka pemuas ambisimu!" jeritnya diiringi isakan, mengungkapkan segala beban di dada, kristal bening mulai luruh satu persatu berjatuhan dari netranya cerminan rasa kalbunya yang nelangsa.
“Ya, aku mencintai laki-laki tak sempurna
itu, yang pernah terjebak dalam kubangan dosa. Mas Bima memang pernah salah, Yah. Tapi tolong, jangan mencapnya terus-menerus seperti itu. Dia telah berusaha bersungguh-sungguh untuk menjadi insan yang lebih baik lagi. Bukankah seharusnya kita mendukungnya? Bukan mencacinya. Aku ingin kembali merajut asaku dengannya, hanya Mas Bima yang kubutuhkan begitu juga Nara, bukan lelaki lain. Maka dari itu aku memohon dengan sangat agar pertunanganku dengan Juna dibatalkan sebelum semuanya terlambat dan kami semua berakhir tak bahagia. Kumohon Ayah, hentikan rencana ini, dan kumohon restumu, aku ingin rujuk dengan Masa Bima," jelas Viona yang berderai air mata.
“Jangan mimpi dia bisa mendapatkanmu kembali. Jangan bodoh Viona, dia sudah mencampakkanmu!”
“Mas Bima melakukannya di bawah pengaruh buruk obat terlarang kala itu, dia tidak sepenuhnya sadar. Ayah tolong bukalah mata hatimu juga maafmu untuk Mas Bima. Aku ingin bisa merajut kembali tali pernikahanku dengannya.” Punggung wanita cantik itu berguncang sesenggukan.
"Dengan atau tanpa cinta yang kau sebutkan tadi, pertunanganmu dengan Juna akan tetap berlangsung. Dan juga ada satu hal yang harus kamu ketahui, tanggalnya dimajukan menjadi minggu depan!’ tegas Abdul, ia tak peduli pada Viona yang teriak-isak masih dalam posisi berlutut, dirinya terlalu silau akan pesona Arjuna yang memikat.
Viona makin terkesiap, terkejut lantaran tanggal rencana pertunangan dipercepat.
“Ayah, kumohon jangan begini. Aku tak bisa bertunangan dengan Juna. Satu kali ini saja berilah kesempatan juga kepercayaan padaku untuk memutuskan, memilih dengan siapa ingin bahagia. Selama ini aku tak pernah sangat menginginkan sesuatu, tapi kini ada hal yang paling ingin kuperjuangkan. Tolong, berikan kesempatan kedua untuk Mas Bima, dan tolong restui kami.” Viona menghiba berharap sang ayah melunak. Inginnya ia berteriak, tetapi Abdul tetaplah ayahnya, orang tuanya yang harus dihormatinya.
“Jangan meminta untuk hal yang tak sudi kuberikan. Apapun yang terjadi, kamu akan tetap bertunangan dengan Arjuna. Dan buang jauh-jauh ke laut niatan rujukmu itu, karena itu takkan terjadi!”
Abdul melangkah pergi tanpa menoleh lagi, masuk ke dalam mobilnya dan tancap gas dari sana, tak mempedulikan sang anak yang berlari bertelanjang kaki menyusulnya dengan hibaan pilu yang menggema.