
“Siapa Anda?”
Membeku. Itulah reaksi Viona kala telinganya mendengar kalimat yang meluncur bebas dari mulut suaminya. Perlahan ia menarik kembali tangannya yang terulur ke dekat tombol pemanggil di dekat kepala ranjang. Viona menjatuhkan tatapannya pada Bima yang sedikit menengadah sedang memandangnya dengan sorot mata penuh tanya.
“A-apa maksudmu, Mas?” Viona yang terkejut balik bertanya.
“Maaf, Anda siapa? Dan kenapa aku ada di sini?” ulangnya lagi. Sebuah pertanyaan yang kembali dijawab dengan pertanyaan lainnya.
“Ke-kenapa bertanya si-siapa aku?” Masih dalam situasi kebingungan, mereka berdua tanpa sadar saling melontarkan pertanyaan tanpa ada satu pun yang memberi jawaban.
“Iya, Anda siapa?” Lagi-lagi kalimat yang sama dilontarkan Bima. Nada bicaranya pada Viona begitu asing tak hangat seperti biasanya.
Viona menelan ludahnya susah payah lalu kembali mendekat ke sisi ranjang Bima. Rasa takut menyerbunya tanpa ampun. Berbagai prasangka buruk bermunculan di dalam kepalanya, tetapi ia menepisnya dan tetap berusaha berpikir positif, mungkin suaminya bereaksi begitu lantaran masih linglung efek dari tak sadarkan diri cukup lama. Lagi pula saat ini hari masih gelap dan pencahayaan di ruangan itu cukup temaram, hanya berasal dari lampu redup di sisi ranjang karena Viona mematikan lampu utama.
“Ini aku, Mas. Istrimu,” ucap Viona setenang mungkin seraya bergerak menyentuh lengan Bima.
Lelaki yang terbaring di ranjang pesakitan dengan perban di mana-mana itu sedikit berjengit ketika telapak tangan Viona menyentuh kulitnya. Ia tampak terkesiap juga terkejut.
“Istri?” Bima mengernyitkan dahi dan menatap Viona lekat-lekat.
“I-Iya, i-ini aku Viona, is-istrimu. Mas,” sahut Viona tergeragap.
Rasa nelangsa menelusup ke dalam ruang kalbu Viona saat menyaksikan reaksi Bima menatapnya seperti orang asing dan secara halus menolak bersentuhan fisik dengannya.
“Tapi, aku lah istrimu, Mas. Coba lihat baik-baik,” pintanya. “Apakah mungkin karena cahaya lampu terlalu redup sehingga penglihatan Mas terganggu?” imbuh Viona lagi.
Wanita cantik bernetra indah itu berusaha mengenyahkan rasa paniknya yang setiap menitnya semakin menjadi bertambah dan menumpuk. Seumpama benalu yang menggerogoti tanpa belas kasihan dengan cara menghisap sari pati kehidupan inangnya.
“Walaupun dalam keadaan redup, aku masih ingat wajahnya dengan baik. Istriku cantik, bola matanya indah juga jernih dilengkapi bulu mata lentik,” jawab Bima dengan alis bertaut sehingga menciptakan kerutan samar di jidat tepat di atas hidung mancungnya. Netra elangnya memaku pada Viona yang kini mulai memucat.
“Nggak mungkin.” Viona menggelengkan kepala ingin menyangkal dugaannya. “Lihat aku dengan baik sekali lagi.”
Viona menagkup kedua sisi wajah Bima dengan hati-hati. Bola mata indahnya lagi-lagi mengkilap dibasahi sumber air yang mendesak memaksa ingin membanjiri dan terjun bebas.
“Mas Bima, ini aku Viona, istrimu,” ucap Viona parau dengan bibir gemetar. Dadanya kembang kempis begitu kentara dengan helaan napas tak beraturan disusul isakan tertahan.
Bahasa tubuh Bima seolah menolak. Ia seperti ingin menarik diri dan menjauhkan tangan Viona yang sedang menangkup wajahnya, hanya saja kedua tangannya terpasang selang infus juga transfusi darah.
“Tolong, jangan terlalu dekat,” pinta Bima dengan nada dingin.
“Mas, kumohon jangan begini.” Viona tak mau menuruti perkataan Bima. “Jangan katakan Mas tak mengenalku!” jeritnya dengan bibir gemetar diiringi buliran kristal bening yang mulai berjatuhan di pipinya.
Bima hanya terdiam sambil memaku pandangan pada Viona yang balas menatapnya frustrasi.
“Aku akan memanggil dokter.” Viona melepaskan tangkupannya di wajah Bima dan setengah berlari ke arah pintu keluar.