Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
I Always Love You



Mereka sampai di parkiran, Bima membuka pintu mobil mercy-nya. “Masuk!” titahnya tak ingin dibantah pada Viona.


Bima segera tancap gas dari sana, melajukan mobil mewahnya pergi dari restoran Purnawarman. Viona yang duduk di kursi sebelahnya masih tampak gemetaran, tangannya saling meremas satu sama lain dengan air mata tertahan di pelupuknya sejak tadi.


Air bening itu mulai luruh membasahi wajahnya, hal buruk yang yang baru saja terjadi cukup mengguncangnya. Viona menahan diri agar tak terisak, bahkan tenggorokannya luar biasa tercekat, seolah ada batu besar yang mengganjal. Ia bersusah payah menguatkan diri meski air mata mulai berjatuhan ke pangkuanya.


Ujung mata Bima melirik wanita di sampingnya, sebelah tangannya terulur menggenggam tangan Viona seolah menyalurkan kekuatan di sana, meremasnya lembut untuk menenangkan bahwa kini semuanya baik-baik saja.


Pertahanan Viona akhirnya jebol. Sebetulnya ia tak ingin Bima melihatnya sebagai wanita yang lemah dan cengeng, tetapi saat Bima menggenggam tangannya, ia tak mampu lagi menahan bendungan ketakutannya, Viona menyerah dan menumpahkan tangisnya.


Bima membiarkan Viona menangis sepuasnya. ia mengerti, Viona masih digulung ketakutan juga keterkejutan, sendirian tanpa bantuan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman buaya berbahaya dengan kekuatan yang tak sebanding dengannya, sudah pasti membuat Viona terguncang bukan main.


Mobil melesat menuju apartemen yang dihuni Bima. Sesampainya di basemen Bima menarik Viona turun dan menggandengnya menuju lift. Tak ada bantahan, Viona yang masih tergugu dalam tangisnya menyeimbangkan langkah dengan wajah basahnya yang tertunduk.


Keduanya masuk ke apartemen. Bima membawa Viona ke sofa, menyuruhnya duduk sementara ia berjongkok di depannya.


“Kenapa kamu nekat pergi sendiri menemui orang yang tak kau kenal dengan baik? Kenapa tidak membawa pegawai untuk menemani?” tanya Bima, terbalut nada marah berpadu khawatir.


“Aku… tadi terburu-buru. Aku terlalu bersemangat sampai lupa untuk berhati-hati,” sahutnya penuh sesal masih dalam sedu sedannya. “Ak-aku takut. Aku masih takut,” cicitnya dengan suara bergetar dan wajah tertunduk.


Bima beralih duduk di samping Viona, merengkuh wanita yang masih menagis itu ke dalam pelukannya. Viona balas melingkarkan lengannya erat, meneggelamkan diri di dada bidang Bima hingga air matanya membasahi kemeja mantan suaminya itu. Ia mencari perlindungan serupa anak kucing yang mencari tempat berteduh kala hujan badai menerjang.


“Aku takut sekali, Mas. Aku takut, hiks… hiks….” tangisnya kembali tumpah.


“Ssshhh… jangan takut lagi, sekarang kamu sudah aman.” Bima mengusap-usap punggung Viona yang berguncang. Ia pun tak mampu menahan diri untuk tak melabuhkan kecupan sayang bertubi-tubi di puncak kepala Viona, menyalurkan ketenangan serta rasa aman.


Mata Viona memejam, meresapi setiap rasa yang menyembur di sanubari, memeluk erat dan menghidu rakus aroma lelaki yang selalu dirindukannya.


Suara isakan tak terdengar lagi. Bima melonggarkan dekapannya namun tak sepenuhnya. Jemarinya mengusap wajah basah Viona, juga merapikan rambut panjangnya ke belakang telinga.


Keduanya kembali saling menatap dalam diam dengan jarak yang sangat dekat, Bima sedikit menunduk dan Viona menengadah.


Viona balas menyentuh wajah Bima, lalu tanpa diduga, Viona menarik wajah Bima agar lebih menunduk hingga bibir mereka menempel satu sama lain, melabuhkan sebuah kecupan kemudian melepaskannya lagi. Bima membeku, seolah dirinya baru saja tersengat virus kaku.


“Makasih, Mas sudah datang tepat waktu. Jika tidak, aku tak tahu bagaimana nasibku,” ucap Viona lirih, bola mata sembapnya menatap sendu ke dalam netra kelam Bima.


Lengan kekar Bima tiba-tiba menyelip di bawah lutut dan satunya lagi di pinggang Viona, membuat Viona terkesiap karena terayun seketika dan mendarat di pangkuan Bima yang langsung memerangkapnya dalam lingkupan lengan kekarnya.


“Akan kuhancurkan siapapun yang telah berani mencoba menyentuhmu. Hanya aku yang boleh melakukan ini.” Bima mengecup kening Viona.


“Ini.” Bima mengecup hidung bangir Viona.


“Dan ini.” Bima juga mengecup bibir merah Viona.


Viona mengerjap dan menelan ludah. Desiran hebat melandanya, kini Viona semakin yakin, bahwa hatinya memang hanya berdesir untuk orang yang sama.


“I love you, I always love you,” desah Bima serak, ia meletakkan telapak tangannya di pipi Viona dan mengelusnya lembut.


Senyuman bahagia terbit begitu saja di wajah sembab Viona, ia menangkupkan jemarinya di pungung tangan Bima.


“Aku pun, aku pun hanya mencintaimu Mas, selalu,” ucapnya tanpa ragu.


Entah siapa yang memulai, kini bibir keduanya saling bertautan, saling menyecap seirama, tenggelam dalam luapan rasa rindu yang dibiarkan bebas dari belenggu.