
“Mami?”
Juna cukup terkejut lalu bergegas membuka pintu, sama sekali tak menyangka ibunya datang jauh-jauh dari luar pulau tanpa mengabari.
“Mi, kenapa nggak ngabarin mau dateng? Sama siapa?” Juna celingukan melihat sekeliling, memeriksa dengan siapa ibunya datang.
“Mami datang dengan asisten pribadi, dia ada di tempat parkir. Sengaja mendadak datang kemari karena ada hal penting, mengambil penerbangan paling pagi, jadi tak sempat mengabari. Tadi Mami menghubungi Pandu karena ponselmu tidak aktif, dia mengatakan kamu ada di apartemen. Apa kamu akan terus membiarkan Mami berdiam di depan pintu? Mana sopan santunmu?” Marina ibunya Juna bersedekap sambil menatap anak sulungnya tanpa senyum.
“Eh, i-iya maaf Mi.” Juna membukakan pintu lebar-lebar.
Marina menyela masuk lebih dulu kemudian Juna menyusul setelah menutupkan pintu kembali. Marina mengambil tempat duduk di sofa ruang tamu, menyilangkan kaki dengan sorot mata tajam pada Juna.
“Duduklah, Mami mau bicara,” perintahnya tegas tak ingin dibantah.
Juna mulai merasakan hawa mencekam. Dari nada bicara juga sorot mata sang ibu yang menyiratkan kemarahan.
“Sebenarnya ada papa Mi? Kalau cuma ada hal yang ingin dibicarakan kenapa jauh-jauh datang kemari, kenapa nggak lewat telepon saja?” tanya Juna yang keheranan dengan kedatangan mendadak ibunya.
“Sampai kapan kamu berniat menyembunyikan fakta ini dari Mami, Juna? Sampai kapan!” serunya dengan suara meninggi.
“Apa maksud Mami? A-aku tak mengerti?” Juna sedikit berjengit kaget juga tergeragap.
"Apakah itu penting? Yang jelas aku mencintainya dan menginginkannya walaupun dia adalah janda yang sudah memiliki anak. Aku tahu Mami takkan setuju mengetahui fakta itu, maka dari itu aku memilih menyembunyikan semuanya hingga waktunya tiba. Hingga nantinya mau tak mau Mami harus menerima keputusanku," sahut Juna menekankan setiap kata-katanya
"Juna, tentang kenyataan bahwa Viona seorang janda, Mami masih mengijinkanmu mengejarnya dengan pertimbangan karena dia berasal dari keluarga baik-baik juga terpandang, dan karena kamu sangat ingin bersamanya meskipun jujur hati ini berat rasanya. Anak laki-laki penerus perusahaan keluarga yang paling diharapakan ingin mempersunting seorang janda saja sudah mengundang pro dan kontra dalam keluarga besar kita. Tapi Mami tak menyangka, kamu menyembunyikan satu kenyataan penting lainnya. Pantas saja kamu tak pernah mengijinkan Mami datang dan ingin bertemu Viona saat kamu memutuskan ingin menyusun rencana pertunangan dan hanya meminta papimu datang secara mendadak saat Mami sedang berada di rumah nenekmu.”
“Mi, tapi aku mencintai Viona. Mau dia janda ataupun punya anak, aku tak menginginkan wanita manapun selain dia untuk menjadi pendampingku. Hanya dia yang kumau!” jawab Juna dengan nada keras kepala.
“Tapi, Mami tak bisa menerima anak yang bukan darah dagingmu menjadi anggota keluarga kita. Dalih apapun tak bisa diterima, keinginanmu untuk bertunangan dengan janda saja sudah mencengangkan, seperti tak ada wanita lain saja, bahkan demi mengejar si janda itu kamu menolak rencana perjodohan yang telah Mami atur. Papimu awalnya bungkam, tapi Mami menemukan fotomu bersama anak kecil yang kamu gendong di galeri ponsel Papi sewaktu datang ke Bandung terakhir kali, dan dia baru menjawab setelah Mami mencecar papimu setengah mati!" jerit Marina murka, napasnya tersengal dilanda emosi karena merasa di bohongi.
"Mami tak sudi memberi izin dan restu dengan pilihamu kali ini! Sejak dulu apapun yang kamu inginkan selalu Mami turuti meski kadang mengundang pertentangan antara Mami dan Papi. Jadi Mami meminta agar kamu menghentikan semua ini, Juna!"
“Ini hidupku, Mami nggak berhak mengatur-atur dengan siapa aku ingin bersama! Tanpa seizin Mami pun aku akan tetap meneruskan niatanku menjadikan Viona sebagi istriku!” Suara Juna tak kalah meninggi.
“Arjunaaa… kamu sungguh keras kepala! Mami seperti tak mengenalmu lagi. Wanita janda itu benar-benar telah membawa pengaruh buruk padamu, hingga menjadikanmu menentang orang yang telah melahirkanmu. Hidupmu tak akan berkah Juna, tanpa restu dan izin dari Mami!”
“Aku tak peduli. Hanya aku yang tahu dengan siapa aku bahagia, bukan Mami!” Juna mengacak rambutnya dan berdecak kesal.
“Jadi kamu nekat lebih memilih bersama dia daripada patuh pada Mamimu sendiri? Kamu benar-benar mengecewakan Arjuna. Papimu mungkin tak banyak berpendapat tentang hal ini dan memilih diam menyerah padamu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat Juna, kamu takkan pernah bahagia saat memutuskan menentang ibumu sendiri. Ingat itu anakku!”