Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Terluka



Mobil Chevrolet putih milik Bima berhenti di sebuah klinik Dokter Hewan. Klinik kecil yang bangunannya berupa ruko. Bangunan bawahnya digunakan sebagai klinik sedangkan di atasnya digunakan sebagai rumah tinggal.


Klinik tampak sudah tutup, terlihat dari keadaan di dalamnya yang gelap gulita. Bima kemudian menarik lonceng bel yang terpasang di dekat pintu masuk beberapa kali, lalu terdengar teriakan suara wanita dari balkon.


“Maaaaaf... klinik sudah tutup.”


Bima mundur beberapa langkah lalu menengadah, tampaklah di balkon lantai dua seorang wanita yang memakai piyama dengan rambut terurai melongokkan kepalanya ke bawah.


“Hana, rambutmu menakutkan,” canda Bima sembari terkekeh.


“Kak Bima!” pekik wanita yang bernama Hana itu terperanjat kaget seperti melihat hantu. “Ka-kamu manusia at-atau hantu?” tanyanya tergeragap


“Coba lihat kakiku, menapak bukan?” Bima menghentak-hentakkan kakinya.


“Ta-tapi ke-kepalamu berdarah kayak setan film horor!”


“Makanya buka pintumu! Obati aku,” pinta Bima.


“Tu-tunggu sebentar.”


Tak lama pintu pun terbuka, Hana mempersilakan Bima masuk kemudian mengambil kotak berwarna putih. “Kalau terluka begini harusnya Kakak ke rumah sakit, bukan ke klinik dokter hewan!” gerutu wanita berkulit pucat itu.


“Anggap saja aku kucing yang terluka di jalanan,” jawab Bima.


“Mana bisa, kucing itu imut-imut sedangakn Kakak amit-amit,” ujar Hana bersungut-sungut.


“Tapi kamu pasti punya obat untuk mengobati luka manusia juga kan? makanya aku datang kemari”


“Kenapa seyakin itu?” Hana mengetuk ngetukkan jarinya di atas tutup kotak.


“Hanya menebak.” Bima terkekeh. “Kupikir seorang dokter setidaknya sudah pasti punya kelengkapan untuk mengobati luka semacam ini.”


Hana menatap dalam dan datar seolah meminta penjelasan dan Bima sudah sangat hapal sifat gadis ini. Sewaktu Bima remaja mereka bertetangga, saat itu Hana baru masuk sekolah dasar. Umur Hana lebih tua empat tahun dari Viona. Hubungan Bima dan Hana sudah hampir seperti saudara.


Semenjak suaminya meninggal, Hana yang merupakan dokter hewan memutuskan untuk membuka klinik sendiri dan juga pindah tempat tinggal, dia tinggal berdua dengan ibunya di atas ruko. Hana juga sempat beberapa kali bertemu dengan Viona dulu.


“Aku nggak pergi ke rumah sakit lantaran tak ingin mengundang perhatian dengan keadaanku yang babak belur begini,” sahut Bima seraya tersenyum getir.


“Kapan Kakak keluar dari_”


Hana menghentikan ucapannya, mengatupkan bibirnya merasa sungkan, takut Bima tersinggung.


“Baru beberapa bulan ini,” sahut lelaki yang terluka itu mengerti akan maksud pertanyaan yang tak rampung tadi.


“Sini, maju dikit. Aku mau bersihin luka yang di pelipis,” pinta Hana mengalihkan pembicaraan.


“Obati aku dengan benar.”


“Aku akan melakukannya sesuka hatiku, Jangan ngatur-ngatur dan jangan cengeng!” cerocosnya di sela-sela pergerakan tangannya. “Kenapa Kakak berkelahi seperti anak ABG?”


“Hei aku tak berkelahi, tapi dipukuli.” Bima melayangkan protes keras.


“Kenapa nggak ngelawan? Dasar payah!” ejek Hana.


“Aku tak boleh terlibat keributan apapun mengingat statusku saat ini. lagipula tak sebanding dengan kebahagianku yang bisa bertemu kembali bertatap muka secara langsung dengannya.” Bima tersenyum bahagia bercampur getir,


“Viona?”


“Hmm, aku bertemu Viona lalu berakhir seperti ini. Semuanya karena perbuatanku sendiri, kini ada orang lain di sisinya, dan aku dihajar oleh kekasihnya.” Bima tertawa sumbang mencoba menghibur diri.


“Kakak memang bedebah yang pantas untuk dihajar.”


Bima mengangguk-angguk. “Kamu benar, aku memang pantas mendapatkan ini.”