
“Viona?”
Wanita cantik itu menoleh begitu mendengar suara bariton yang selalu setia berdengung bersemayam di ruang kalbunya yang usang. Wajah lelaki itu tampak pucat pasi dengan seulas senyum menghiasi di sana.
“Aku ke sini karena Adrian datang ke butik dan mengabarkan bahwa atasannya yang keras kepala sedang sakit,” cicitnya tanpa senyuman yang kemudian kembali fokus mengaduk sup di dalam panci.
“Aku merindukanmu,” lirih Bima parau dan lemah.
Inginnya Bima menghambur ke sana, merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, merapatkan diri saling bersentuhan sedekat mungkin merasakan debaran jantung mereka bertalu bersahutan. Namun, apalah daya, meskipun jarak raga masing-masing hanya satu meter saja, tetapi ikatan mereka telah terputus ratusan mil jauhnya.
Viona tak menjawab, hanya suara peralatan masak yang beradu mengisi keheningan yang membentang diatara keduanya. Setelah masakannya matang ia mematikan kompor, membawa sup juga nasi tim ke meja makan yang terletak di dekat di mana Bima berdiri sekarang. Viona menaruh mangkuk berisi sup serta nasi tim yang dimasaknya, menarik kursi dan duduk di sana.
“Makanlah, saat sakit lebih baik mengkonsumsi makanan buatan rumah walaupun rasanya mungkin tak sesuai selera. Kulihat Mas hanya makan makanan yang dikirimkan restoran.” Tunjuk Viona pada paper bag warna hijau tua yang terdapat di ujung meja makan dengan tulisan nama restoran favorit Bima sejak dulu.
Bima ikut menarik kursi yang berhadapan dengan Viona. Ia tampak luar biasa bahagia meskipun tubuhnya terasa lemah. “Makasih Vi,” jawabnya penuh syukur.
“Kuharap Mas jangan salah paham. Kedatanganku ke sini karena bagaimanapun juga aku tak bisa mengabaikan seseorang yang sangat penting untuk putriku. Segeralah sembuh, Nara terus bertanya dan merengek igin bertemu denganmu,” jelas Viona.
“Apapun alasannya aku senang kamu datang,” balasnya dengan tatapan berlumur senyum juga bahagia. “Aku janji akan segera sembuh dan secepatnya menemui Nara. Akupun sangat ingin bertemu putri kita.”
Putri kita? Kata-kata itu sangat ironi bukan. Viona menatap ke dalam bola mata Bima.
“Bisakah Mas jangan membuat orang khawatir? Kenapa menyiksa diri dan berdiam di sini sendirian dalam keadaan sakit? Kukira Mas tinggal di rumah Mama Annisa,” cecar Viona. Terselip nada kesal bercampur kecemasan yang nyata dalam nada suaranya.
“Aku memilih berdiam diri di sini dan tak memberitahu tentang kondisiku agar tidak menimbulkan kekhawatiran orang-orang. Lagipula dokter datang secara berkala, juga ada Adrian yang setiap hari menjengukku. Sudah cukup aku membuat orang-orang disekitarku merasa cemas tak berujung akibat perbuatanku.”
Viona menggigit bibirnya yang gemetar, memalingkan wajah dan mengubah posisi duduknya menjadi menyamping. Deru napasnya tak beraturan, bola mata indahnya mulai berkaca-kaca, berusaha menahan isakan yang bergerombol menyerbu di tenggorokannya. Entah mengapa dia begitu marah mengetahui Bima tak memperhatikan kesehatan dengan baik. Padahal seharusnya dia senang dan menyumpahi bukan? karena orang yang telah melukai hatinya kini dalam keadaan lemah.
Bima turun dari kursinya, meletakkan kedua lututnya di lantai dan bersimpuh di hadapan Viona.
“Maafkan aku… maafkan aku yang selalu membuatmu sedih dan menderita, maafkan aku,” ucap Bima dengan suara serak penuh sesal.
Viona mengepalkan tangannya dan memukuli dada Bima. “Mas memang selalu membuatku menderita, selalu membuatku menangis! Kamu jahat, Mas! Aku benci padamu! Brengsek! Bajingan!"
Tangannya terus memukuli, kemudian tangis Viona pecah berderai tumpah ruah, melengking menyayat hati, menyembilu tersayat duka lara, terjebak dalam pergolakan dua rasa bertolak belakang pada orang yang sama yaitu rasa benci dan cinta.
Bima juga menangis dirundung penyesalan sedalam lautan, disiksa rindu setinggi awan, didera rasa menyiksa yang mendesak ingin terungkap namun enggan pada wanita yang pernah disia-siakan.
Bima menunduk hingga keningnya menyentuh kedua tangan Viona yang terjalin dipangkuan, punggungnya berguncang menumpahkan sejuta sesal yang merantai di dada.
"Maafkan aku sayang... maafkan aku...."
Keduanya menangis deras bersahutan bak air hujan yang membanjiri bumi, membiarkan jutaan tetes air mata membasahi berharap semua beban derita juga luka ikut mengalir pergi.
*****
Jangan lupa jempol dan komentarnya ya 😳. Satu like dari jempolmu untukmu mungkin tak ada artinya, tapi untuk author bisa membuat makin semangat menulis 😳💜.