
“Sita, saya disuruh ngambil baju buat Bu Viona.” Adrian langsung meluncur ke butik ketika mendapat perintah dari bos-nya.
“Ini, Pak.” Sita menyerahkan paper bag berwarna ungu muda. Adrian segera mengambilnya dan tak berlama-lama di sana.
“Ini sebenernya ada apa ya? Tadi sore Pak Bima ke sini, terus barusan Bu Viona minta di siapin baju, tapi yang ngambil Adrian sekertaris Pak Bima. Padahal Bu Viona berencana bertunangan dengan Pak Arjuna.”
Sita tampak berpikir, mengetuk-ngetukan telunjuknya di dekat meja kasir, tetapi sesaat kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa pusing sendiri.
“Bu Viona mujur bener ya, di kelilingi cowok ganteng dan tajir,” gumamnya lagi. “Hei… nggak tahu ah, urusan orang kaya bikin puyeng. Mending jajan boba aja.”
*****
“Vi….”
Bima mengetuk pintu kamar tamu. Tak lama pintu terbuka sedikit dan Viona hanya melongokkan kepalanya saja, lantaran saat ini dia hanya memakai bathrobe dengan handuk di kepala.
“Ini bajunya.” Bima menyerahkan paper bag bertuliskan VN Fashion Collection.
Matanya menatap sang mantan suami tanpa bekedip. Sepertinya Bima juga baru selesai mandi, begitu segar dengan rambut yang masih basah disisir sembarang, memakai kaus berlengan pendek warna putih yang lumayan mencetak tubuh atletisnya, dipadu celana joger warna navy. Dalam balutan baju santai Bima tampak semakin seksi, dan tak munafik, Viona rindu belaian tubuh kokoh itu lagi.
“Vi, ini bajunya.” Bima kembali bersuara karena Viona malah melamun.
“Eh… i-iya Mas. Makasih.” Viona sedikit terperanjat.
“Cepat pakai bajumu, kita makan malam dulu sebelum kamu pulang. Aku sudah memesan makanan dari restoran.”
Viona mengangguk kikuk kemudian menutup pintu. Dia menyandarkan diri di balik pintu, memegangi dadanya yang berdebar bagai ditabuh. Jatuh cinta untuk yang kedua kalinya pada orang sama membuat berjuta rasa bergemuruh di kalbunya yang kini bersemi kembali.
“Ayo, duduk di sini.”
Bima sudah menunggu di meja makan. Ia menarik kursi di sebelahnya dan menepuk-nepuknya.
“Makanlah dulu selagi hangat.” Bima menyendok nasi ke atas piring Viona, ditambah cumi saus padang dan olahan baby pokcoy yang kesemuanya merupakan makanan favorit Viona.
Senyuman tak henti menghiasi wajah cantiknya. Viona makan dengan lahap, merasa begitu dicintai dan diperhatikan oleh lelaki satu-satunya penghuni hatinya. Tiga puluh menit kemudian mereka selesai bersantap dan Viona bersiap untuk pulang.
“Mas, aku lupa. Mobilku masih di Restoran Purnawarman.” Saking terkejutnya akan kejadian tadi sore, Viona bahkan melupakan sedannya yang masih terparkir di sana.
“Mana kuncinya. Nanti biar bawahanku yang ambil dan mengantarnya sampai ke rumahmu.”
“Makasih banyak Mas, hari ini aku jadi banyak ngerepotin.” Viona menunduk dan mendesahkan napasnya kasar.
“Hei… tak merepotkan sama sekali. Justru aku sangat senang, menjadi seseorang yang bisa kamu andalkan.” Bima membelai pipi Viona lembut.
“Vi, ada hal penting yang ingin kubicarakan, menyangkut kita. Ini mungkin terlalu terburu-buru, tapi aku tak ingin memendamnya lgi.” Bima meraih kedua tangan Viona ke genggaman. “Viona, menikahlah denganku, lagi,” pintanya setulus hati.
Tubuh Viona terkesiap. Bola mata cantiknya seketika menatap lurus ke dalam netra Bima, menyelam hingga palung terdalam, mencari ketulusan yang ternyata memanglah penuh sesak di dalam sana.
Rasa haru juga bahagia menyeruak menciptakan reaksi pada diri Viona, hasil simbiosis dari rasa hati dan juga seruan otaknya yaitu sebuah anggukkan keyakinan diiringi bibirnya bergerak memberi jawaban.
“Ayo, kita menikah, lagi.”